genggam tangan

•June 16, 2009 • Leave a Comment

sembah sujud
penyucian jiwaraga
luruh noda-noda
terbang sayap kilat
cahaya
cahaya
genggam tangan kita
erat
lebih erat
istriku..

saat pulas lelapmu, paruh nyawa 16/06/09 08:55

you this how?!

•May 12, 2009 • 6 Comments

kau melarang golput
nanti partai sekuler menang, ancammu
tapi kini kau malah bersekutu
dengan partai sekuler
mencalonkan presiden sekuler
kau ini bagaimana?!
you this how?!

kami golput!

•April 6, 2009 • 6 Comments

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

dengan bertawakkal kepada Allah SWT, maka dengan ini, saya (juga umi, si kecil, dan dhedhek) dan embah, menyatakan: GOLPUT!

atas nama keluarga besar cinde wilis 3/4
april, 09

setahun pertama

•February 12, 2009 • 3 Comments

hari ini, tepat setahun sudah aku di sini. di kota ini. sekian titik dan garis-garis semakin erat terhubung, dan membesar. kokoh. sesekali terdengar dada yang bergolak. ruh juang. suara kami mulai terdengar. meski hanya sesayup denting.

ada yang berkata kami bermimpi. ada yang menuduh kami separatis yang terlindungi. ada yang mengunci pintu untuk kami. ada pula caci maki. tapi gerak ini gerak pasti.

tahun ini dengan ijin Allah kami akan berlari lebih cepat. sebagai kafilah yang berlalu. amin.

lagi dan lagi

•December 30, 2008 • 1 Comment

lagi, gaza diserang israel. 300-an (smoga) syahid.

di mana tank, pesawat tempur, dan rudal-rudal kita?
lagi, ibarat barang antik
hiasan untuk pameran.

tentara-tentara kita?
lagi, entah terbelenggu di mana..

lagi, para penguasa hanya mengumbar kata,
nihil senjata.
kepengecutan yang maha sempurna!
aroma bangkai membahana!

dan kita, rakyat jelata
hanya bisa turun jalan
berteriak
dan membakar bendera.

khilafah,
bangun, bangun!

tentang mata kita

•December 15, 2008 • 2 Comments

sekitar 17 tahun lalu, di sebuah desa kecil. seorang bocah mengeluh pada neneknya tentang matanya yang sudah beberapa hari sakit. seperti ada kerikil kecil yang mengganjal.

“yuk, diperiksa ke pak heri,” kata sang nenek menyebut nama seorang dokter puskesmas yang tinggal sekitar 9km ke utara.

berdua mereka berangkat, dengan bekal seadanya. sang nenek bahkan tidak merasa perlu untuk mengganti jarik kebaya-nya, yang sedikit robek.

“harus segera dibawa ke kota, rumah sakit,” kata sang dokter setelah memeriksa, tanpa memberitahu ada apa dengan mata sang cucu. wajah sang nenek pias, panik.

“kami pulang dulu ya pak dokter. ngajak kakek yang sekarang masih
di sawah. saya tidak berani mengantar sendiri ke kota. takut tersesat,” rajuk sang nenek.

“tidak usah, nek. takut terlambat,” tolak dr. heri. dia lalu menjelaskan panjang lebar dan berulang-ulang rute perjalanan ke rumah sakit di kota yang berjarak sekitar 40km dari tempat mereka bicara.

“saya tidak membawa uang cukup, pak dokter,” ujar sang nenek lagi.

“nih, pakai uang saya saja dulu,” kata sang dokter sambil mengeluarkan selembar 10 ribuan. sang nenek awalnya agak ragu menerima, tetapi akhirnya digenggamnya juga uang itu setelah sang dokter memaksanya.

“silahkan berangkat. semoga tidak terlambat,” hantarnya.

perjalanan itu harus ditempuh dengan naik angkutan desa 2 kali. ketika sudah sampai di kota, sang nenek sibuk bertanya pada para penumpang lain di mana harus turun jika mau ke rumah sakit.

akhirnya nenek-cucu itu sampai juga pintu pagar bangunan yang dicarinya. rumah sakit dr. koesma namanya. mereka masuk dengan cara mengikuti langkah orang yang kebetulan lewat. terus masuk hingga mereka menemukan sebuah ruang dengan tulisan POLI MATA di dekat pintunya. mereka berhenti di situ. duduk lama. ikut antri. hingga ada orang yang memberitahu mereka untuk membeli tiket terlebih dahulu.

sekian minggu kemudian, setelah 3-4 kali kontrol, yang membuat mereka menjadi setengah hafal peta RS dr. koesma, alhamdulillah mata sang cucu sembuh. sebuah bintik putih yang tadinya diketahui sebagai penyebab sakit, hilang musnah.

hari ini, sekitar 17 tahun setelahnya, sang cucu akan mengantar sang nenek untuk menjalani sebuah operasi mata. katarak. mestinya sudah sejak lama. tapi sekarang baru kuasa.

dan cucu itu adalah aku. iya, aku.

tiba-tiba aku begitu ingin bertemu dr. heri. entah di mana kau sekarang, pak dokter..

pada suatu ketika

•December 11, 2008 • 1 Comment

Medio 2003. Dunia masih dicengkeram Kapitalisme. Tapi pemikiran Islam ideologis mulai merebak di negeri-negeri Muslim, meski pelan dan terkesan sporadis.

Kawasan Gedung J, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Seorang mahasiswa berperawakan kecil terlihat menyusuri koridor, agak tergesa. Keringat sedikit merembes di dahinya, membuat ujung-ujung rambutnya di sana, yang tidak tersisir rapi, membasah. Matanya seperti menyimpan kegelisahan, seakan hendak berusaha menggerakkan sesuatu. Kulit legamnya terbalut kemeja krem bermotif kotak-kotak kecil berpadu (dan tumben dimasukkan) dengan celana hitam yang tampaknya jarang terkena setrika, selaras dengan sepasang sepatu pantofelnya yang tanpa kilap semir. Di pundaknya menggantung berat sebuah tas hitam yang mulai terlihat kusam. Jika diperhatikan baik-baik, resleting tas tersebut akan terlihat rusaknya. Beberapa bagian yang seharusnya mengatup, tampak sedikit menganga. Lelaki itu berbelok kiri di Gedung J6 dan lenyap di balik pintu ruang paling ujung selatan: ruang 108.

(pre memori..)

SMUN 3 Malang. Seorang gadis berseragam pramuka berjalan santai di koridor sekolah dengan bibir bergerak-gerak tanpa ritme menghisap permen. Sesekali ia lemparkan pandangan ke sekeliling, mungkin mencari sesuatu yang bisa dijadikannya inspirasi atau sekedar memanjakan mata. Baju lengan pendek dan ujung rok hanya beberapa senti di bawah lutut. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah gelang anyaman benang yang sama sekali tidak tampak feminim. Rambutnya diikat dengan tali berwarna merah di bagian belakang, membentuk ekor kuda. Sementara di punggungnya tergendong ransel Westpack hitam yang tampak penuh dengan buku dan entah apa lagi. Gadis itu berjalan menuju tangga ke lantai 2, membaur dengan teman-temannya, dan hilang di sana.

(to be continued, somewhere else..)

di selopanggung

•November 20, 2008 • Leave a Comment

merenungi diri yang menjadi beda
kehilangan kualitas penghambaan
terpisah dari harum sajadah

kemana pula perut keroncongan
dan nafas tersengal
di atas sepeda?

di bawah naungan akasia, 15/11/08 10:07
(modified, 20/11/08 16:28)