<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: mengadili demokrasi vs khilafah</title>
	<atom:link href="http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/</link>
	<description>cerita di sebuah sudut ruang tunggu</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Dec 2009 04:10:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: makeurmove</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-480</link>
		<dc:creator>makeurmove</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 31 May 2009 04:15:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-480</guid>
		<description>Aww. Khi, afwan..mo minta ijin buat ambil tulisan antum yg ini buat dipajang diMagz kami, ionsyaAllah..
Boleh&amp;ridho??
Syukron
Wass.
&lt;em&gt;
w3. silahkan. smg bermanfaat.. :) &lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aww. Khi, afwan..mo minta ijin buat ambil tulisan antum yg ini buat dipajang diMagz kami, ionsyaAllah..<br />
Boleh&amp;ridho??<br />
Syukron<br />
Wass.<br />
<em><br />
w3. silahkan. smg bermanfaat.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: elan</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-443</link>
		<dc:creator>elan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 09:30:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-443</guid>
		<description>Emang sistem demokarsi yang di anut negara ini sudah banyak memakan korban banyak terutama rakyat kecil dan telah menguntungkan para kapitalis,jadi sudah saatnya sistem BUSUK ini WAJIB kita buang ke tempat sampah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Emang sistem demokarsi yang di anut negara ini sudah banyak memakan korban banyak terutama rakyat kecil dan telah menguntungkan para kapitalis,jadi sudah saatnya sistem BUSUK ini WAJIB kita buang ke tempat sampah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rhomiezf</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-427</link>
		<dc:creator>rhomiezf</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2008 14:58:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-427</guid>
		<description>assalamu&#039;alaykum., saluuut buat khilafah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamu&#8217;alaykum., saluuut buat khilafah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alung</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-278</link>
		<dc:creator>alung</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 10:01:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-278</guid>
		<description>udah kutulis berkali kali yang samar emang sekarang banyak yang pakai. ya begitulah...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>udah kutulis berkali kali yang samar emang sekarang banyak yang pakai. ya begitulah&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mutiara1807</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-225</link>
		<dc:creator>mutiara1807</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 03:40:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-225</guid>
		<description>WIH...NADHIV, KEREN BGT PENJELASANNYA...TETEP SEMANGAT ALLAHU AKBAR...SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIAAAAAAAAAAAAAAAAA

---&gt; &lt;em&gt;thanx. saatnya kapitalisme meninggal duniaaaa... :)&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>WIH&#8230;NADHIV, KEREN BGT PENJELASANNYA&#8230;TETEP SEMANGAT ALLAHU AKBAR&#8230;SAATNYA KHILAFAH MEMIMPIN DUNIAAAAAAAAAAAAAAAAA</p>
<p>&#8212;&gt; <em>thanx. saatnya kapitalisme meninggal duniaaaa&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ahmad</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-212</link>
		<dc:creator>ahmad</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 01:17:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-212</guid>
		<description>Salut.. ama penjelasan nadhif.. Lanjutkan, biar orang2 yang sembrono menggunakan istilah segera insyaf...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salut.. ama penjelasan nadhif.. Lanjutkan, biar orang2 yang sembrono menggunakan istilah segera insyaf&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Gapura</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-179</link>
		<dc:creator>Gapura</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 09:44:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-179</guid>
		<description>Semoga gerbong-gerbong itu bersatu padu,
dalam bingkai-Mu.

------------
&lt;em&gt;amien...&lt;/em&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Semoga gerbong-gerbong itu bersatu padu,<br />
dalam bingkai-Mu.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
<em>amien&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: marwan</title>
		<link>http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-151</link>
		<dc:creator>marwan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Oct 2007 04:03:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://nadhiv.wordpress.com/2007/03/06/obrolan-warung-kopi/#comment-151</guid>
		<description>http://emarwanta.multiply.com/journal/item/11/Demokrasi_memang_kenapa

Saya diskusi dengan teman-teman yg mencaci demokrasi, mempertentangkan demokrasi dg Islam, atau mengadu argumentasi antara demokrasi dengan khilafah. Demokrasi itu haram dan najis, sistem kufur, katanya. 

 

Mereka berpendapat, karena demokrasi itu filosofinya kedaulatan di tangan rakyat, bukan di tangan Allah. Kemudian juga mencela orang-orang yang terlibat dalam demokrasi (pemilu dalam sistem kenegaraan saat ini).

 

Saya bertanya,”Antum percaya surga? Ingin masuk surga?” (Loh apa hubungannya surga dengan demokrasi?)

 

Ketahuilah, lanjut saya, terminologi ”surga” itu dari konsep Hindu, yaitu swarga. Kalau merujuk filosofi kata surga ini, tentu sebagaimana konsep Hindu. Ini masalah aqidah, masalah akhirat. Kenapa kita enjoy saja menyebut surga utk jannah? Kenapa tidak dikatakan surga itu kufur?

 

Kata surga telah menjadi terminologi umum. Orang Hindu menyebut surga dg perspektifnya. Orang Kristen juga demikian. Pun kita orang Islam, menyebut surga dg konsep dan perspektif Islam, sebagaimana jannah dalam Al Qur’an.

 

Nah, kembali ke masalah demokrasi. Demokrasi itu telah menjadi terminologi umum. Demokrasi merangkum kebebasan berbicara termasuk kebebasan dalam dakwah, keadilan dsb. Ketika kita menuntut demokrasi, bukan hendak menolak kedaulatan Allah. Orang Barat berbicara demokrasi dg konteks nilai yg dianut. Kita bicara demokrasi dalam konteks nilai kita juga. Demokrasi dalam masyarakat yg sholih akankah membuat kesepakatan bathil? Jawabnya jelas: tidak akan.

 

Saya bukan pengusung demokrasi, juga bukan pengecam demokrasi. Tetapi memadang bahwa demokrasi itu kontekstual, ada bingkai nilai. Demokrasi tdk  dibenturkan vis a vis thd Islam. 

 

Kemudian yang juga menarik adalah masalah negara bangsa dan khilafah. Adakah kontradiksi negara bangsa dg Islam? Juga tentang banyaknya persepsi tentang khilafah. Insya Allah di seri selanjutnya.

-------------
&lt;em&gt;pak marwan yang baik,
kata &quot;tuhan&quot; boleh dipake dalam semua agama. begitu juga dengan &quot;doa&quot;, &quot;surga&quot;, dan &quot;neraka&quot;. tentu dengan konsepnya masing-masing. no problem. tetapi, bisakah kita membayangkan bahwa orang islam menggunakan kata &quot;misa&quot; untuk menyebut &quot;sholat jum&#039;at&quot; dan orang budha tiba-tiba menggunakan kata &quot;masjid&quot; untuk menyebut &quot;wihara&quot;? tidak, bukan?

begitulah, pak marwan yang baik.
ada kata-kata tertentu yang bersifat netral (dalam artian bahwa masing-masing agama/ideologi mempunyai hak untuk menggunakannya, meski masing-masing mempunyai konsep sendiri2), tetapi ada pula yang bersifat khas dan value-laden. untuk yang terakhir ini kita tidak boleh sembarangan menggunakannya. Allah pernah melarang para sahabat untuk memanggil rasulullah dg sebutan &quot;raa&#039;inaa&quot; (pandanglah kami ya rasul) dan memerintahkan mereka menggunakan sinonimnya, yaitu &quot;undzurnaa&quot;, semata-mata karena kata &quot;raa&#039;inaa&quot; sering diplesetkan oleh orang2 yahudi menjadi &quot;ruu&#039;unaa, yang berarti sebuah celaan. bisa dibayangkan (lagi-lagi saya menggunakan kata ini :&gt;) seandainya para sahabat itu menyebut rasulullah dg &quot;ruu&#039;unaa&quot; dan mereka menyatakan bahwa apa yang mereka maksudkan dengan &quot;ruu&#039;unaa&quot; bukanlah celaan melainkan sama artinya dengan &quot;undzurnaa&quot;? 

nah,
demokrasi adalah sebuah kata yang sudah mempunyai makna yang jelas, sebagaimana sekularisme, pluralisme, atheisme, dan teokrasi. ide dasar dari demokrasi adalah bahwa rakyatlah, dan bukannya Tuhan, yang berhak menentukan hukum, baik-buruk dan benar-salah. batas kebebasan dalam demokrasi adalah kebebasan orang lain (bukan hukum syara&#039; sebagaimana dalam islam); keadilan dalam demokrasi tentu juga berbeda ukurannya dengan keadilan dalam islam. karena itu, sangat naif jika kemudian kita menyerukan bahwa dalam islam ada demokrasi. 

ahh,
tapi setidaknya kita sepakat bukan, bahwa jika demokrasi itu adalah konsep yang menempatkan manusia (dan bukannya Allah swt) di posisi pemegang kedaulatan membuat aturan hukum, maka demokrasi adalah ide kufur? 

semoga Allah memberkati anda, pak marwan yang baik.

salam.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://emarwanta.multiply.com/journal/item/11/Demokrasi_memang_kenapa" rel="nofollow">http://emarwanta.multiply.com/journal/item/11/Demokrasi_memang_kenapa</a></p>
<p>Saya diskusi dengan teman-teman yg mencaci demokrasi, mempertentangkan demokrasi dg Islam, atau mengadu argumentasi antara demokrasi dengan khilafah. Demokrasi itu haram dan najis, sistem kufur, katanya. </p>
<p>Mereka berpendapat, karena demokrasi itu filosofinya kedaulatan di tangan rakyat, bukan di tangan Allah. Kemudian juga mencela orang-orang yang terlibat dalam demokrasi (pemilu dalam sistem kenegaraan saat ini).</p>
<p>Saya bertanya,”Antum percaya surga? Ingin masuk surga?” (Loh apa hubungannya surga dengan demokrasi?)</p>
<p>Ketahuilah, lanjut saya, terminologi ”surga” itu dari konsep Hindu, yaitu swarga. Kalau merujuk filosofi kata surga ini, tentu sebagaimana konsep Hindu. Ini masalah aqidah, masalah akhirat. Kenapa kita enjoy saja menyebut surga utk jannah? Kenapa tidak dikatakan surga itu kufur?</p>
<p>Kata surga telah menjadi terminologi umum. Orang Hindu menyebut surga dg perspektifnya. Orang Kristen juga demikian. Pun kita orang Islam, menyebut surga dg konsep dan perspektif Islam, sebagaimana jannah dalam Al Qur’an.</p>
<p>Nah, kembali ke masalah demokrasi. Demokrasi itu telah menjadi terminologi umum. Demokrasi merangkum kebebasan berbicara termasuk kebebasan dalam dakwah, keadilan dsb. Ketika kita menuntut demokrasi, bukan hendak menolak kedaulatan Allah. Orang Barat berbicara demokrasi dg konteks nilai yg dianut. Kita bicara demokrasi dalam konteks nilai kita juga. Demokrasi dalam masyarakat yg sholih akankah membuat kesepakatan bathil? Jawabnya jelas: tidak akan.</p>
<p>Saya bukan pengusung demokrasi, juga bukan pengecam demokrasi. Tetapi memadang bahwa demokrasi itu kontekstual, ada bingkai nilai. Demokrasi tdk  dibenturkan vis a vis thd Islam. </p>
<p>Kemudian yang juga menarik adalah masalah negara bangsa dan khilafah. Adakah kontradiksi negara bangsa dg Islam? Juga tentang banyaknya persepsi tentang khilafah. Insya Allah di seri selanjutnya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<em>pak marwan yang baik,<br />
kata &#8220;tuhan&#8221; boleh dipake dalam semua agama. begitu juga dengan &#8220;doa&#8221;, &#8220;surga&#8221;, dan &#8220;neraka&#8221;. tentu dengan konsepnya masing-masing. no problem. tetapi, bisakah kita membayangkan bahwa orang islam menggunakan kata &#8220;misa&#8221; untuk menyebut &#8220;sholat jum&#8217;at&#8221; dan orang budha tiba-tiba menggunakan kata &#8220;masjid&#8221; untuk menyebut &#8220;wihara&#8221;? tidak, bukan?</p>
<p>begitulah, pak marwan yang baik.<br />
ada kata-kata tertentu yang bersifat netral (dalam artian bahwa masing-masing agama/ideologi mempunyai hak untuk menggunakannya, meski masing-masing mempunyai konsep sendiri2), tetapi ada pula yang bersifat khas dan value-laden. untuk yang terakhir ini kita tidak boleh sembarangan menggunakannya. Allah pernah melarang para sahabat untuk memanggil rasulullah dg sebutan &#8220;raa&#8217;inaa&#8221; (pandanglah kami ya rasul) dan memerintahkan mereka menggunakan sinonimnya, yaitu &#8220;undzurnaa&#8221;, semata-mata karena kata &#8220;raa&#8217;inaa&#8221; sering diplesetkan oleh orang2 yahudi menjadi &#8220;ruu&#8217;unaa, yang berarti sebuah celaan. bisa dibayangkan (lagi-lagi saya menggunakan kata ini :&gt;) seandainya para sahabat itu menyebut rasulullah dg &#8220;ruu&#8217;unaa&#8221; dan mereka menyatakan bahwa apa yang mereka maksudkan dengan &#8220;ruu&#8217;unaa&#8221; bukanlah celaan melainkan sama artinya dengan &#8220;undzurnaa&#8221;? </p>
<p>nah,<br />
demokrasi adalah sebuah kata yang sudah mempunyai makna yang jelas, sebagaimana sekularisme, pluralisme, atheisme, dan teokrasi. ide dasar dari demokrasi adalah bahwa rakyatlah, dan bukannya Tuhan, yang berhak menentukan hukum, baik-buruk dan benar-salah. batas kebebasan dalam demokrasi adalah kebebasan orang lain (bukan hukum syara&#8217; sebagaimana dalam islam); keadilan dalam demokrasi tentu juga berbeda ukurannya dengan keadilan dalam islam. karena itu, sangat naif jika kemudian kita menyerukan bahwa dalam islam ada demokrasi. </p>
<p>ahh,<br />
tapi setidaknya kita sepakat bukan, bahwa jika demokrasi itu adalah konsep yang menempatkan manusia (dan bukannya Allah swt) di posisi pemegang kedaulatan membuat aturan hukum, maka demokrasi adalah ide kufur? </p>
<p>semoga Allah memberkati anda, pak marwan yang baik.</p>
<p>salam.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
