puisi-puisi purba
BELUM ADA JUDUL
Engkau masih di situ
Ulas senyum untuk gumpalan emas
Ulas senyum untuk bongkahan logam berkarat
Ulas senyum untuk tikus-tikus comberan
Masih kuingat
Engkau biarkan jiwa berlari tembus angkasa
untuk engkau timang saat kembali
terjerembab di bumi
Di sini..
Kuputuskan untuk membangun rumah
Untuk sebuah peristirahatan terakhir
Menekuri ayat-ayatMu
Tuhan, maafkan akuKaliwates, 9 dzulhijjah 1419
PERCIK AIR
Bagi engkau yang bicara lapar di meja makan
Bagi engkau yang teriak penderitaan di atas kursi beludru
Bagi engkau yang khutbah surga di tengah dosa
Maka dengarkan suara angin
Maka perhatikan gerakan awan
Dan rasakan getaran ombak di samuderaKepada jiwa dalam tidur pulas
Kepada diri dalam mimpi
Kepada roh dalam imajinasi
Bangunlah dari ketidakmengertian
Sadari dan temukan sombongmu
Dan hitung, berapa banyak kerugianmu
Dalam perang hari ini.Engkau akan menyadari
Betapa sempurnanya kekalahanmu
Dan mengangislah sepuasmu
Saat kau tahu
Bahwa telah kau beli gulita
Dengan cahayaKaliwates, syawal 1419
SETELAH MENJADI PUING
Engkau benar, Ghafur
Bermegah-megahan telah melupadirikan kami
Hingga tanpa banyak yang sadar
Sebenarnya kami telah menjadi tikus
Sebenarnya kami telah menjadi ular
Sebenarnya kami telah menjadi macan
Kami menjadi batu
Kami menjadi bunglon
Kami menjadi benalu
Kami menjadi lintahMaka pinjamkan kembali tongkatmu, ghafur
Untuk kami cari sajadah kami yang hilang
Untuk kami bangun kembali dinding rumah kami yang retak
Untuk kami tegakkan kembali pilar-pilar yang roboh berserak
Dengan mencuci bersih jubah kami
Lewat air blimbingmu itu.Solokuro, ramadhan 1419

yang ini alamat aslinya dari mana?
>>pengen tauuu ajah! score 2:1, bro!
(tp kok gak tega, emg mo nanya alamat asli siapa sih? “yang ini” itu maksudnya yg mana? hehe)