kunjungan sang ketua

nama saya denias. mama di surga suruh saya sekolah. kata mama, gunung takut anak sekolah. pak guru juga; maleo juga. saya ingin sekolah, ibu. itu sudah. (dicuplik dari ingatan, tes tulis denias untuk ibu gembala).

yang ini bukan denias. namanya, demi kemaslahatan bersama, terpaksa aku sembunyikan. manusia jarang mandi asal tuban inilah yang dulu memimpin sebuah geng nyentrik di asrama MAPK jember: PORGI–Persatuan Orang-orang Gila— (aku sendiri mendapat kehormatan memegang jabatan sekretaris, mungkin karena tingkat kegilaanku dinilai hanya satu level lebih rendah darinya :D). semalam ia datang ke rumah (lamongan). tahu pukul berapa? 01.30 dini hari! tidak seperti dulu, tema obrolan kami kali ini agak sok berat: ruwetnya permasalahan bangsa, wabil khusus urusan korupsi di dunia pendidikan, meski di sana-sini topik-topik personal tetap muncul ke permukaan.

diawali dengan komentarnya setelah memperhatikan sekujur tubuhku,
“kok tambah kurus ndet kamu sekarang?”
“gara-gara mikir negara,” jawabku sekenanya.
“aku mikir negara kok malah tambah gemuk gini, ha ha.” (tubuhnya memang sekarang gendhut, sekitar 1,75 kali lipat dari tubuhnya dulu).

untuk sekian waktu, aku biarkan manusia gemblung itu menumpahkan uneg-unegnya tentang bangsa ini. (ups, jangan remehkan dia. selepasnya dari MAPK, dia menjadi gembong sebuah pergerakan mahasiswa di surabaya). begitu fasihnya ia menjelaskan secara detail bagaimana “korupsi pendidikan” dilakukan sejak level kementerian hingga kepala sekolah. menariknya, dia mengerti tentang semua itu karena saat ini ia terlibat langsung di dunia ini. ya, bisnisnya sekarang adalah suplai buku-buku sekolah dan media-media pembelajaran.

“dulu korupsi hanya dilakukan para pejabat tinggi; sekarang penyakit busuk ini telah menggurita ke lapisan terbawah: kepala sekolah,” jelasnya, “semboyannya: atas nama meningkatkan kecerdasan bangsa, marilah kita sukseskan korupsi berjamaah, ha ha.”

“wilayah kerjaku di sini, sini, dan sini (dia menyebut tiga kabupaten di jawa timur). hampir semua kepala sekolah di kawasan ini adalah pencopet, perampok, penjahat! dan aku yakin, penyakit ini sudah mewabah di seluruh jawa, bahkan mungkin sebagian besar wilayah indonesia. tidak heran jika indonesia selalu menang jika ada pemeringkatan tingkat korupsi.”

“kami datangi para kepala sekolah, untuk jualan buku dan alat-alat peraga yang sesuai dengan spesifikasi dari pusat (yang untuk penentuan spesifikasi ini saja, konon, sudah ada kongkalikong dengan perusahaan-perusahaan tertentu penyedia produk. wadoh!!). untuk satu paket, kami jual 100 juta. dan untuk sampai pada transaksi jual beli, kami harus rela menyisihkan sebagian dari duit sebanyak itu untuk sang kepsek. rata-rata minta 20-25%, ndet!”

“karena hal itu sudah menjadi budaya di mana-mana, di akhir penawaran kami kepada para kepala sekolah bejat itu tidak boleh ketinggalan kalimat standar: ‘dan kami siap dengan ‘mekanisme’ yang berlaku, pak’. gitu lho, ndet,” jelasnya sambil terkekeh-kekeh.

“banyak kepsek yang main bahasa halus; tapi tidak sedikit juga yang langsung to the point: ‘nggak usah mbulet-mbulet, intinya saya dapat berapa persen?!’,” tambahnya, semakin terkekeh. aku? ngakak! :D

“jadi intinya, ndet, orang-orang pendidikan, sejak di tingkat kementrian hingga kepala sekolah, rata-rata adalah pengkhianat bangsa! mereka berkongkalikong dengan para pengusaha untuk merampok uang negara. sebagiannya ya nyiprat ke aku juga, sebagai bagian dari perusahaan supplier, makanya aku gemuk, he he.”

“kenyataan seperti ini selama ini tidak kamu ketahui ya, ndet?” tanyanya.

“aku sudah tahu kok, tapi hanya secara umum aja. anggap aja yang aku ketahui itu korupsi makro, sementara kamu memperkayanya dengan ilmu korupsi mikro, he he,” jawabku.

sampai di sini, betapa perihnya jika kita teringat anak-anak yang berjuang mati-matian hanya untuk bisa sekolah, seperti yang tergambar dalam “denias”. anak-anak yang polos itu sudahlah dididik dengan kurikulum yang begitu jauhnya dari ideal (aku bahas lain kali aja), ternyata dipimpin oleh manusia-manusia yang sama sekali tidak layak disebut pendidik. wahai, mau jadi apa bangsa ini?! kalau sudah begini, tentu tidak cukup dengan “menembak para generasi tua di lapangan banteng”, sebagaimana usulan gie. bukan reformasi lagi yang kita butuhkan, melainkan sebuah revolusi, dimana bangsa ini harus melakukan perubahan sejak dari landasan sistemnya. dan kalau bukan syariat islam, apalagi yang bisa ditawarkan?

——————————————
topik lain pembicaraan dengan sang ketua sebelum adzan subuh:

1. “mekanisme” korupsi di departemen kesehatan (terkait dengan spesifikasi obat untuk penyakit-penyakit tertentu yang di dalamnya sering terjadi “kerjasama” dengan perusahaan-perusahaan obat dan bagaimana perilaku nakal rumah sakit-rumah sakit menjual obat-obat sisa kepada para dokter yang membuka praktek pribadi tapi melapor ke pemerintah bahwa obat itu habis untuk pasien, dan untuk itu mereka minta uang!

2.“mekanisme” korupsi di departemen pertanian (terkait dengan pengadaan dan distribusi pupuk, kurang lebih modus operandinya sama saja: kongkalikong dengan pengusaha)

3.tertundanya pernikahannya gara-gara kakak calon isterinya belum menikah. “lha iya, wong nikah kok seperti beli minyak: pake antri segala! :D,” keluhnya. ini salah satu bukti bahwa budaya bangsa itu tidak selamanya baik, karenanya jangan sembrono untuk secara membabi buta mempertahankannya. dan jelaslah, ini juga menjadi satu lagi alasan mengapa revolusi itu perlu dan mendesak.

topik sesudah tidur sejenak setelah sholat subuh:

1.bagaimana cara terbaik bagi pejabat untuk mengambil hati orang-orang NU di desa-desa (bagi-bagi sarung tiap idul fitri cukup untuk dianggap sebagai pejabat yang “baik”).

2.“politik bunyi-bunyian” tokoh tertentu tentang isu perebutan masjid NU oleh HTI, yang nihil data.

3.“politik bunyi-bunyian” kelompok tertentu tentang isu pengusiran gus dur oleh FPI dkk di purwokerto sekian bulan yang lalu, yang juga sama sekali tidak sesuai dengan fakta (pesannya: jangan pernah menganggap serius politik bunyi-bunyian, karena itu akan berhenti sendiri sesuai pesanan. tanggapanku: iya sih, tapi kadang bisa bahaya juga kalau dibiarkan).

4.strategis-tidaknya konferensi khilafah islamiyah 12 agustus lalu (dia: salah perhitungan, kekuatan kalian bisa mereka ukur. aku: tetap strategis, dengan tahunya mereka akan besarnya kekuatan gerakan politik islam, mereka melakukan berbagai penekanan, dan penekanan itu tidak ayal akan semakin menguatkan soliditas gerakan).

5.perkembangan gerakan revivalisasi khilafah islam di timteng, asia tengah, dan eropa, serta bagaimana reaksi bush terhadap gerakan ini, yang semakin menunjukkan konyolnya orang-orang yang masih saja menganggap bahwa berdirinya khilafah adalah mimpi.

6.sekilas uraian pas-pasanku tentang bagaimana syariat islam mengatur moneter dan kekayaan alam, menyusul keluhannya tentang betapa bengisnya sistem kapitalisme dan pendapatnya bahwa sambil mencari sistem pengganti, sebaiknya kita ikut terlibat sedalam-dalamnya dalam sistem brengsek ini, biar tidak semakin terlindas. (komentarnya atas uraianku itu: “hmm….menarik!”).


sweet home,
15 okt 2007

About these ads

~ by ahmad nadhif on October 19, 2007.

2 Responses to “kunjungan sang ketua”

  1. tapi..
    salah satu finalis eagle award 2007, “kepala sekolahku pemulung”, setidaknya memberikan harapan bahwa tidak semua kepala sekolah bejat. untuk bapak mahmud, S.Pd., saya menyampaikan hormat dan kagum. semoga bisa menjadi inspirasi kebaikan. amien.

  2. Semoga menjadi para pendidik yang amanah.
    Karena anak didik adalah investasi negeri ini.

    ———————
    ..dan juga investasi negeri-negeri yang lainnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: