jalan ini jalan kita

•October 11, 2008 • 4 Comments

“true love always leads to Heaven; not if it doesn’t”

kita di jalan ini, cinta
menujuNya
kadang kita jatuh
lalu menepi
menghentikan langkah

jalan ini jalan Surga, cinta
sunyi dari romantisme mentah
kadang kita terduduk lama
melepas lelah
mengusir dahaga

tapi aku ingin teguh menyusurinya, cinta
sambil menggandeng tanganmu
beriring langkah
setapak demi setapak

maka cubit pinggangku, cinta
bila mengajakmu berhenti lagi
apalagi berbelok arah.

saturday morning, 11/10/08

..di rumahmu..

•September 28, 2008 • Leave a Comment

Because I could not stop for Death,
He kindly stopped for me;
The carriage held but just ourselves
And Immortality.

seakan bukan dickinson yang mengucapkan, tapi kau. bergetar aku mendengarkan kalimat-kalimatmu, patah demi patah. tentang penderitaan jasadi dan ketentraman ruhani yang datang bersamaan. tentang bayangan-bayangan manusia yang sesekali datang seperti menunggui, dan menasehati. tentang dialog-dialogmu denganNya meski hanya tentang seteguk air. tentang rindumu menghadapNya, juga ikhlasmu. tentang mimpi-mimpi yang seperti dihadiahkan untuk menghiburmu. tentang doa dan dzikir-dzikir panjangmu. tentang kenangan-kenangan masa lalu..

Rabb,
aku tahu bahwa apapun keputusanMu, itu adalah yang terbaik. tetapi padaMu, aku berharap dia akan sembuh, dan kembali meneruskan perjuangannya mengibarkan benderaMu. salahkah itu, wahai asy-Syafi’?

plosokerep, 27 ramadhan 1429

kematian di tanah gersang

•September 24, 2008 • 1 Comment

desa di dalam hutan. masuk melewati jalanan berbatu yang diselimuti tebalnya debu september. pohon-pohon jati di kanan kiri kering kerontang, meranggas tanpa sehelai pun daun, seakan terpapar kemarau sejak puluhan tahun lalu. rumah-rumah sederhana berjejar, sebagian dengan tumpukan jerami kering di halaman masing-masing. hingga di sebuah sudut, sebuah rumah kecil menebar anyir aroma duka. dalamnya terlihat gelap, kekurangan cahaya. beberapa wajah yang tertunduk sembab pelan-pelan terangkat ketika aku masuk bersama dua orang pemuda. tikar-tikar tergelar di ruang tamu. dua piring berisi batang-batang rokok sisa semalam tergeletak di tepian, tampak dingin dan tidak menggairahkan. sepi. diam. terdengar beberapa patah kata. lalu kembali sepi, dan diam. aroma duka semakin menyergap. semakin anyir.

anak itu baru 15 tahun. menjelang berbuka tiga hari lalu, dia tinggalkan rumah, desa, dan orang-orang tercintanya dengan begitu tiba-tiba. untuk selamanya.

kami milikMu, kembali padaMu.

senja di watubonang, hanya bisa berdoa, 24 september 2008

kepada kuning-merah buah

•September 22, 2008 • Leave a Comment

..bahwa romantisme kadang seperti arus air. kita boleh membendungnya, tapi ia akan mencari sela-sela. jika tidak ada, ia akan menaiki dinding yang menghalanginya, dan tumpah dari sana. mari mengambil air wudlu, dan menentramkan semua gemuruh..

tragedi pasuruan dan ironi politik

•September 16, 2008 • 3 Comments

INSIDEN pilu mewarnai bulan Ramadhan di Pasuruan. Ratusan orang terjepit di antara pagar, banyak yang berteriak. Belasan orang tersungkur terinjak-injak.

Sebanyak 21 orang tewas dan banyak yang pingsan serta dilarikan ke rumah sakit, setelah berdesakan dan terinjak saat berebut zakat dari dermawan bernama H Saikhon di Gang Pepaya, Jalan dr Wahidin, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9). (kompas.com senin, 15 september 2008 | 20:00 WIB)

>> hanya Rp 30 ribu yang mereka kejar sampai mati. sementara, menurut LIPI, lebih dari Rp 400 triliun telah dihamburkan untuk pembiayaan pemilu langsung selama lima tahun terakhir. pemilu yang ujung-ujungnya tetap saja memunculkan pemimpin-pemimpin korup! inilah indonesia, negara yang tengah tersilaukan ilusi demokrasi. belum cukupkah untuk menjadi pelajaran?!

parpol Islam terhadang pemilu

•September 15, 2008 • 1 Comment

Lepas senja, 23 juli yang lalu, bertepatan dengan penghitungan hasil suara pilgub Jatim putaran 1, saya tenggelam dalam sebuah diskusi menarik dengan seorang tokoh sepuh sebuah partai Islam di Gresik. Haji Y, namanya. “Disaksikan” potret Natsir yang dipajang di sudut ruangan, cukup lama kami saling menumpahkan kegelisahan. Dengan bercanda, Haji Y mengawali perbincangan dengan menyatakan diri telah mengikuti fatwa Gus Dur: golput.

Mengalirlah diskusi antar dua generasi. Yang satu telah matang dengan asam garam kehidupan, yang lain sesekali terbakar letupan pemikiran.

Nada suara saya pastilah terdengar gemas dan kurang sopan ketika mempertanyakan di mana partai-partai Islam ketika disahkan UU SDA, PMA, listrik, pelayaran, sampai terakhir kasus dinaikkannya harga BBM. Bukankah semua itu adalah pelanggaran terang-terangan terhadap syariat Islam? Bukankah keterdiaman partai-partai Islam membuat mereka tidak berbeda dengan partai-partai sekuler, dan rakyat semakin tidak tahu bahwa syariat juga mengatur urusan kebijakan publik strategis semacam itu?

Tanpa berusaha menutupi, pria hampir udzur itu menjawab bahwa sangat bisa jadi para tokoh partai Islam itu memang tidak tahu menahu tentang syariat Islam di bidang itu. Dan, kata beliau, mereka tidak punya waktu untuk mengkajinya karena sistem politik yang berlaku membuat mereka terlalu sibuk mempersiapkan pemilu 5 tahunan!

Ada nilai yang bergeser memang. Jika sejak awal Al-Quran menegaskan bahwa keharusan umat Islam untuk membentuk suatu kelompok (QS 3:104), termasuk partai politik tentunya, adalah untuk menyeru kepada al-khayr, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, maka terasa sekali bahwa kebanyakan parpol Islam saat ini hanya terfokus pada usaha-usaha pemerolehan kekuasaan. Grafik intensitas kegiatan politik mereka selalu meningkat tajam menjelang pemilu, yang itu pun bukan seruan kepada al-khayr maupun amar ma’ruf nahi munkar. Kalau pun sesekali bersikap kritis terhadap Pemerintah, seringkali itu dilatari oleh niatan memperoleh simpati rakyat, bekal wajib untuk bertarung rebutan suara.

Ini adalah potret ironi. Kalaupun toh parpol-parpol tersebut berhasil menduduki kekuasaan, sekian tahun pertama akan digunakan untuk mengembalikan modal pemilu sebelumnya dan sekian tahun terakhir adalah masa pencarian modal untuk pemilu berikutnya. Di tengah-tengahnya, bisa jadi dimanfaatkan untuk mempertebal kantong individu-individu partai, sebagamana terlihat selama ini bahwa aktifis-aktifis parpol Islam juga tidak sepi dari kasus-kasus korupsi. Jadi, dalam rentang masa berkuasa yang hanya lima tahun, berapa banyak waktu yang digunakan kesejahteraan rakyat, jika ada?

Kenyataan menyedihkan seperti ini tentu jauh dari gambaran sistem pemerintahan Islam. Karena Islam tidak mengenal sistem pemerintahan partai sebagaimana yang lazim dalam negara-negara demokrasi, maka fungsi partai di dalamnya bukanlah untuk merebut kekuasaan. Berbagai partai dapat hidup bersama dan berjuang demi kebaikan masyarakat, yaitu dengan membumikan amanat QS 03: 104 di atas.

Dalam habitat masyarakat Islam, partai-partai politik akan memiliki banyak waktu untuk membekali para anggotanya sekaligus mendidik masyarakat dengan tsaqafah Islam. Dan dengan tsaqafah itulah mereka mengukur mana ma’ruf mana munkar untuk kemudian mengeksekusi tindakan permuhasabahan terhadap pemerintah jika terjadi penyimpangan dan keteledoran, berusaha memperbaiki keadaan. Kritik diberikan secara ikhlas, tidak dihasung oleh syahwat kekuasaan.

Masalahnya, pewujudan pemerintahan Islam, yang jelas-jelas merupakan urusan politik itu, juga mestinya meniscayakan eksistensi parpol. Maka jika parpol-parpol yang ada larut marut dalam pragmatisme pesta konyol bernama pemilu, kemana kita akan menanam harapan?

Harus ada parpol Islam baru yang memahami dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Parpol yang tidak sekedar menjadikan Islam sebagai embel-embel dan hiasan, apalagi kuda tunggangan, tetapi memposisikannya sebagai ruh gerakan. Parpol yang menargetkan kembalinya kehidupan Islam dan serius memperjuangkannya sejak dalam pikiran. Parpol yang digawangi oleh individu-individu yang meski tidak ma’shum tetapi mempunyai komitmen tinggi terhadap Dien dan ummat. Dan bila pemilu hanya akan memandulkan perannya, maka partai tersebut tidak perlu ikut-ikutan berebut kursi. Sejarah-sejarah revolusi mengajarkan bahwa gerak perubahan mendasar justru berangkat dari jalanan, bukan dari gedung-gedung pemerintahan.

Mungkin, gara-gara tidak ikut pemilu, orang-orang tidak akan menyebutnya parpol. Silahkan, tapi dengan sedikit mengkorupsi Shakespeare dalam Romeo and Juliet-nya, kita bisa berkilah: “Apa arti sebuah nama? Toh mawar akan tetap wangi meski namanya diganti kamboja.”

Tentu itu hanya di awal. Pada saatnya kelak umat harus dibebaskan dari nalar politik negara-negara Barat, bahwa parpol tidaklah selalu sama dengan peserta pemilu, dan bahkan justru banyak kelompok-kelompok peserta pemilu yang sejatinya bukan partai politik melainkan UD, Usaha Dagang! Dan karenanya, golput bukanlah suatu dosa, atau sekedar ikut Gus Dur, melainkan justru wujud kesadaran berfikir. Wallahu a’lam.

habitat dan identitas

•September 15, 2008 • 1 Comment

kau percaya itu burung?
memang dia membawa poster besar berbunyi: AKU INI BURUNG
tapi dia tinggal di dasar laut, dan menikmati kehidupannya.

kau percaya itu ikan?
memang dia menyeret spanduk raksasa berbunyi: AKU INI IKAN
tapi dia berjalan-jalan dengan santainya di padang pasir gersang.

kau percaya kita muslim?
memang di hampir semua pakaian kita tertulis: AKU INI MUSLIM
tapi kita nyaman dan tenang hidup di alam kapitalisme.

kali ini aku pinjam puisi

•September 15, 2008 • 1 Comment

kali ini aku pinjam puisi:

Stars of the summer night!
Far in yon azure deeps,
Hide, hide your golden light!
She sleeps!
My lady sleeps!
Sleeps!

Moon of the summer night!
Far down yon western steeps,
Sink, sink in silver light!
She sleeps!
My lady sleeps!
Sleeps!

Wind of the summer night!
Where yonder woodbine creeps,
Fold, fold thy pinions light!
She sleeps!
My lady sleeps!
Sleeps!

Dreams of the summer night!
Tell her, her lover keeps
Watch! while in slumbers light
She sleeps!
My lady sleeps!
Sleeps!

(Henry Wadsworth Longfellow, Serenade From “The Spanish Student”)