reuni juga sekolah

(untuk alumni MAPK Jember ’99)

Reuni tanggal 28-29 oktober kemarin bukanlah sekedar reuni para tukang guyon, melainkan juga reuni para pemikir. Sense of humor kami memang tidak berkurang, bahkan mungkin semakin bertambah, tetapi setelah 7 tahun dipisahkan jarak, terasa sekali adanya lompatan derajat kematangan pemikiran dalam benak para sahabat. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika saya tenggelam dalam perbincangan syahdu dengan seorang Hamid Ratna Bahari saat berjalan pulang dari jembatan sungai bedadung di sebuah pagi yang cerah hingga duduk berhadap-hadapan di lobi asrama gedung PSB untuk sekian puluh menit dan baru berakhir saat kami berjalan lagi menuju Gang Turi untuk sarapan di rumah Tad Muhayyan dan ketika saya terlibat dalam perdebatan dengan seorang Zayyin Alfi Jihad yang meski santun tetapi menghabiskan beberapa cangkir kopi di sepenggal malam yang berjalan tergesa-gesa di beranda rumah Mas Rofiq (angkatan 97).

Mbah Hamid (sapaan akrab Hamid Ratna Bahari) memang dari dulu pendiam dan hanya sesekali bergurau. Dalam kebiasaan diamnya itu, saya tahu seringkali ia memikirkan sesuatu, setidaknya tentang seorang gadis bernama Vivin dan sebuah sekolah pendidikan keperawatan (semua warga MAPK Jember angkatan 99 pasti tidak asing dengan frasa “Vivin itu, SPK itu”). Tapi, dalam perbincangan dua hari yang lalu itu, terasa sekali peningkatan kedalaman berfikirnya. Dia banyak mengurai hasil perenungannya terhadap alam. Panjang lebar ia menceritakan bagaimana ia belajar kejujuran dari suara petikan gitar dan belajar keteguhan dari pohon pisang.

“Senar gitar tidak pernah berdusta,” simpulnya, “jika kita kencangkan pasti ia menghasilkan nada yang lebih tinggi; jika kita kendorkan, nada yang keluar selalu lebih rendah.” Saya manggut-manggut mendengarkannya. Sementara kedua mata saya lekat-lekat menatapnya untuk beberapa jenak. Takjub. Iya, takjub. Memang sederhana, tapi coba, berapa di antara ribuan pemain gitar di negeri ini yang pernah mengambil pelajaran yang sama? Padahal Mbah Hamid bukan seorang pemain gitar. Dia hanya sesekali memainkan alat musik itu. 

“Meski ribuan kali kau tebas, pohon pisang tidak akan pernah rela mati sebelum mengeluarkan bunganya,” simpulnya di bagian lain perbincangan. Saya memang pernah mendengar kalimat yang kurang lebih berbunyi sama, namun ketika Mbah Hamid yang mengucapkannya, terasa ada sensasi desir dalam aliran darah saya. Entah mengapa. Mungkin karena saya tahu, bahwa Mbah Hamid tidak saja sedang mengatakannya tetapi juga sudah mempraktekkannya (terutama dalam mencintai seseorang). Bukankah one action speaks much louder than thousands of words? Wallahu a’lam.

Mbah Hamid dan saya memiliki ketertarikan yang sama terhadap alam. Kami sama-sama meyakini bahwa terdapat begitu banyak pelajaran di sana. Namun, kami tetap memiliki perbedaan. Mbah Hamid menyimpulkan bahwa hanya dengan belajar pada alam, tidak harus tahu wahyu, manusia pasti akan bisa syar’ie dalam semua perilakunya. Saya sama sekali tidak sepakat dengan kesimpulan itu. Pelajaran alam apa yang bisa mengantarkan seseorang pada kesimpulan bahwa babi, dan bukannya sapi atau kambing, tidak boleh dimakan? Pelajaran alam apa yang bisa membuat seorang manusia mengambil kesimpulan bahwa sholat dhuhur mesti berjumlah 4 rakaat dan sholat subuh hanya 2 rakaat? Pelajaran alam apa yang mengharuskan 2 anak manusia berlainan jenis melangsungkan aqad nikah yang sah terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan badan? Bukankah jika kita belajar pada alam (dengan contoh kasus semua jenis “perkawinan” hewan dan semua kasus pertemuan antara putik dan benangsari), tidak perlu ada aqad nikah sebelum persetubuhan?

Jawaban Mbah Hamid terasa ngglambyar dan tidak memuaskan. Tidak apa-apa. Dari awal perbincangan memang kami sudah sepakat  bahwa diskusi tidak harus selesai di hari itu. Kalaupun diskusi itu di beberapa titik malah membuat kami bingung, saya yakin bahwa itu adalah awal dari pinter, sebagaimana yang dulu sering diucapkan Tad Muhayyan. Dengan bingung kita menjadi berfikir; dan dengan berfikir, kemanusiaan kita menjadi sempurna. Cogito ergo sum, –I think, that’s why I am–, pengakuan Descartes.

Lain Mbah Hamid, lain Mas Zayyin. Rentang diskusi saya dengan lelaki yang terakhir ini lebih berkisar pada tema klasik syariah dan khilafah, yang memaksa kami untuk sedikit-sedikit berbicara tentang hermeneutika, ushul fiqh, sejarah, dan bahkan konsep kepemilikan dalam bingkai ekonomi Islam. Tentu saja banyak pertentangan di sana sini (meski kami sama-sama sepakat dalam satu hal penting: ditutupnya pintu ijtihad berdampak pada mundurnya umat Islam). Tidak perlu saya ceritakan, karena sebagian besar perbincangan kami hanyalah perpanjangan dari tulisan-tulisan kami sebelumnya di milis. Yang ingin saya garis bawahi adalah bahwa Zayyin yang sekarang adalah Zayyin yang berbeda dengan Zayyin 7 tahun yang lalu dalam hal kematangan pemikirannya. Bahkan, Zayyin di dunia nyata ternyata juga berbeda dengan Zayyin di dunia maya. Dan karena semakin matang berfikir itulah, maka akan selalu ada pelajaran-pelajaran baru yang bisa ditukarkannya dalam proses dialog.

Karenanya, sebagai penutup, saya ingin sampaikan bahwa reuni bukan sekedar acara melepas kangen dan senda gurau, tapi juga bisa menjadi ajang belajar. Semua tempat adalah sekolah; semua orang adalah guru, tulis Roem Topatimasang. Guru tidak harus “mereka”; antar “kita” pun bisa saling berguru. Dan, percayalah, dari reuni ke reuni, “guru-guru” kita itu semakin pinter dan semakin pinter. Sehingga, di momen reuni tidak hanya ada senyum, tawa, atau airmata, tetapi juga ada ilmu baru. Reuni juga sekolah. Hidup reuni!  

~ by ahmad nadhif on October 31, 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: