hanya ganti rezim

(Bahan obrolan di Leadership Training BEM UM, 11 Nov 2006, setelah nonton Tragedi Semanggi)

Tahun 1998 menjadi saksi betapa tidak terbendungnya kekuatan mahasiswa. Pelor-pelor tentara yang berhamburan itu, meski akhirnya mengantarkan beberapa anak bangsa ke alam baka, ternyata tidak cukup ampuh untuk meredam tekad mereka, bahkan malah menjadi bahan bakar yang membuat aksi perlawanan mereka semakin berkobar-kobar. Rezim Soeharto yang selama 32 tidak tergoyahkan, akhirnya tumbang dengan mengenaskan. Sorak sorai pun membahana hingga ke pelosok-pelosok desa sebagai tanda kemenangan.

Kini, sewindu sudah Soeharto dilengserkan. Sudah empat presiden yang merasakan duduk di kursi yang dulu didudukinya selama puluhan tahun. Adakah yang berubah? Jika Soeharto dilengserkan dengan alasan dia mendhalimi rakyat, apakah saat ini rakyat sudah terbebas dari kedhaliman? Jika Soeharto dilengserkan dengan alasan dia memiskinkan rakyat, apakah saat ini rakyat sudah merdeka dari pemiskinan? Jika Soeharto dilengserkan karena pemerintahannya banyak korupsi, apakah pemerintahan saat ini hanya sedikit berkorupsi? Jika Soeharto dilengserkan dengan alasan dia mengubur kedaulatan rakyat, apakah saat ini rakyat menjadi lebih berdaulat?

Ternyata tidak. Entah apa yang akan dikatakan oleh para mahasiswa dan rakyat yang gugur diterjang pelor tentara tahun 1998 seandainya saat ini mereka hidup kembali, menyaksikan betapa kucuran darah mereka ternyata belum banyak mengubah keadaan. Kedhaliman tetap merajalela. Pemiskinan tetap berlangsung sistematis dan tidak tanggung-tanggung. Korupsi apalagi. Kedaulatan rakyat juga tetap tidak lebih dari sekedar mimpi. Yang tampak berubah hanyalah kebebasan bersuara. Kalau dulu suara terdengar seirama dan bagi sementara rakyat lebih enak didengar, kini terasa semrawut dan bising. Selebihnya, kurang lebih sama saja.

Mengapa semua ini bisa terjadi? Apa yang salah? Menurut saya, sekali lagi menurut saya, alasan dari ini semua adalah bahwa banyak mahasiswa (untuk tidak mengatakan semuanya) yang berperan dalam aksi perlawanan tahun 1998 itu salah sangka. Mereka mengira sekedar tumbangnya rezim Soeharto akan membawa bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan, keadilan, dan kesejahteraan. Mereka mengira sekedar memupus keluarga cendana beserta antek-anteknya dari puncak piramida kekuasaan akan membuat negeri ini berubah. Akibatnya, pikiran mereka hanya terfokus pada bagaimana sisa-sisa orde baru digelontor bersih dari pemerintahan, tanpa memperdulikan bahwa ternyata para pengganti Soeharto cs masih menggunakan sistem yang sama dengan sistem pendahulunya dalam mengurusi urusan rakyat. Padahal, sistem itulah yang selama ini jauh lebih berperan dalam meremukkan sendi-sendi bangsa ini. Ironis memang, orang-orang yang meneriakkan perubahan di negeri ini tidak mempersiapkan sistem pengganti.

Lihatlah, sistem ekonomi, politik, sosial, pendidikan, kesehatan, mata uang, dan yang lain-lain, semuanya masih kapitalistik. Tumbangnya orde baru dan bangkitnya orde reformasi sebenarnya hanyalah tumbangnya segerombolan manusia dan bangkitnya segerombolan manusia yang lain, bukan tumbangnya sebuah sistem bobrok dan bangkitnya sistem yang sahih. Dengan demikian, fakta bahwa meski sudah sewindu rezim Soeharto runtuh dari kekuasaan tetapi keadaan masih juga tidak berubah ke arah yang lebih baik, bukanlah fakta yang mengherankan. Ini semua adalah fenomena yang sangat wajar.

Berpijak dari pemikiran ini, siapapun yang sepakat bahwa agenda perubahan di negeri ini belum tuntas, mahasiswa atau bukan, sudah seharusnya berfikir ke arah perubahan sistem. Tegasnya, mereka harus mengerahkan semua energi yang dimiliki untuk mencerabut sistem kapitalisme, yang sudah sangat menggurita di hampir semua lini kehidupan bangsa, dan menggantinya dengan sistem yang lebih baik. Baru setelah itu, perubahan yang signifikan dapat terjadi.Tentu saja ini bukan kerja yang ringan. Yang diperlukan tidak cukup sekedar turun ke jalan membawa poster dan bendera serta meneriakkan tuntutan. Bahkan, seandainya agen-agen perubahan itu meraih kursi kekuasaan pun, baik secara konstitusional maupun kudeta, itu belum cukup. Sebuah revolusi harus berawal di dalam kepala dan juga hati rakyat. Artinya, pemikiran dan perasaan khalayak ramai mutlak harus berubah terlebih dahulu. Hanya dengan itu perubahan sistem aturan sebuah bangsa akan terkawal dengan baik dan hasilnya bakal membumi. Walhasil, tugas berat pengusung revolusi adalah mengubah pemikiran, perasaan, dan aturan sekaligus. Dan itu, sekali lagi, memakan begitu banyak energi. Karenanya, revolusi bukan tugas para “banci”.

Mengubah pemikiran masyarakat artinya mengubah landasan berfikir mereka sekaligus pemahaman mereka akan fakta (baik fakta itu berupa perbuatan maupun benda). Jika selama ini ukuran benar salah adalah kemanfaatan sesaat atau suara mayoritas, maka ukuran itulah yang harus diubah. Jika selama ini pemahaman kapitalisme yang selalu dijadikan rujukan untuk menyelesaikan permasalahan politik, ekonomi, sosial, dan berbagai aspek kehidupan yang lain, maka pemahaman itulah yang harus diubah dengan yang lain. Ini penting, sebab perilaku seorang manusia selalu bergantung pada pemikirannya.

Mengubah perasaan masyarakat artinya mengubah pola kebencian, kemarahan, kerelaan, kegembiraan, kesedihan, dan kecintaan mereka. Jika selama ini perasaan mereka biasa-biasa saja melihat sikap pemerintah yang dengan pongahnya mengobrak-abrik Kebun Raya Bogor dan menghamburkan 6 milyar rupiah demi menyambut Sang Tuan Bush, maka perasaan seperti itulah yang harus diubah. Jika selama ini perasaan mereka lega rela melihat para tentara hanya ditugaskan untuk menakut-nakuti para demonstran dan tidak dikirim untuk menghentikan tentara-tentara Amerika-Inggris-Israel dan sekutu-sekutunya yang menebar teror dimana-mana, maka perasaan seperti itulah yang harus diubah.

Mengubah aturan artinya mengganti metode dan tatacara pengurusan urusan rakyat, baik itu dalam hal pendidikan, ekonomi, politik, sosial, hubungan luar negeri, maupun bidang-bidang lainnya. Jika selama ini aturan-aturan tersebut didasarkan pada paham Kapitalisme, maka aturan-aturan itulah yang harus diubah. Inilah puncak gerakan revolusi yang dimaksud.Tentu saja ini mengharuskan para agen perubahan memegang kendali kekuasaan. Tanpa kekuasaan, bagaimana bisa mengubah kebijakan? Namun sebagaimana disampaikan di atas, kekuasaan saja tidak cukup untuk membumikan perubahan sistem bila pemikiran dan perasaan rakyat tidak ikut berubah.Satu pertanyaan yang belum terjawab: dengan apa kita mengganti Kapitalisme? Saya menawarkan Islam. Sebagai seorang muslim, tidak ada pilihan lain. Di samping itu, secara konseptual, Islam memiliki mekanisme yang jelas bagaimana mencegah dan mengatasi kedhaliman baik yang dilakukan oleh penguasa maupun rakyat, bagaimana mewujudkan kesejahteraan, dan bagaimana menyelamatkan manusia tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Kalau ada sementara kalangan yang alergi mendengar kata syariat Islam, kalau ada pejuang syariah yang difitnah, dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh dan diperangi, itulah yang saya katakan bahwa revolusi bukan tugas yang mudah. Tetapi, sebagaimana yang dikatakan filosof Arthur Schopenhauer, semua kebenaran melewati tiga tahapan: pertama, ia dicemooh; kedua, ia dilawan dengan keras; dan ketiga, ia diterima sebagai kebenaran.

Demikianlah, permasalahan yang dihadapi Indonesia bukanlah sekedar tidak amanahnya para pejabat, melainkan juga busuknya sistem yang digunakan. Hanya dengan digantinya para pejabat, tanpa dirontokkannya sistem Kapitalisme, permasalahan tidak akan terselesaikan. Di titik inilah, Islam datang sebagai jawaban. Memang berat, tapi inilah perjuangan. Wallahu a’lam.

~ by ahmad nadhif on November 14, 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: