Edelweiss Permata

12m.jpg

Maafkan, Permata. Edelweiss itu masih saja kusimpan. Entahlah, aku selalu lupa membawanya jika ke rumahmu. Padahal untuk mendapatkannya aku harus menuruni jurang di tengah kegelapan malam. Pukul 03.00 dini hari! Hanya lampu handphone yang menerangi. Sementara cahaya gugusan bintang di langit terhalang rerimbunan pohon. Aku sampai megap-megap hanya sekedar untuk menginjakkan tapak kaki.

Itu belum cukup. Setelah sampai di dasar jurang, aku masih harus tersesat menyusuri sebuah sungai pasir tak berujung, yang kedua sisinya didindingi bukit-bukit sedimen. Baru ketika mentari naik sepenggalah, aku bertemu dengan ibu tua itu. Ibu yang membawa setumpuk edelweiss. Lalu aku pun membeli seikatnya untukmu, sambil mengingat kisah Ali dan Zahra dalam Children of Heaven.

Sudah hampir tiga bulan. Edelweiss itu tak kunjung kuberikan padamu. Beberapa hari yang lalu ia masih tergantung di dinding. Di atas meja komputer. Kini, oleh Mas Usman, dipindah ke lemari dapur, bersatu dengan gula, kopi, dan aneka macam bumbu. Entah kapan akan kuberikan padamu, Permata.

~ by ahmad nadhif on November 24, 2006.

One Response to “Edelweiss Permata”

  1. tunai sudah janji bakti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: