Ganti kacamata

Di bandung ada yang hingga tewas; sementara di banyak daerah lain, anak-anak polos itu harus dilarikan ke rumah sakit. Ketika tulisan ini dibuat, metro tv sedang menayangkan seorang bocah di cirebon yang mengalami kelumpuhan dan dua anak lainnya di jombang dan surabaya mengalami gegar otak. Semahal itu harga yang harus dibayar oleh penayangan rutin acara tarung bebas smackdown di lativi. Tak ayal, berbagai kalangan pun menuntut dihentikannya tayangan itu. Mereka khawatir dengan keselamatan anak-anaknya. Dan benar saja, tayangan itu akhirnya benar-benar dihentikan oleh stasiun TV yang bersangkutan. Begitulah, agaknya memang diperlukan dampak yang benar-benar menyolok mata agar kita sadar bahwa apa yang kita lakukan selama ini salah.

Saya jadi bertanya-tanya. Sampai kapankah kita seperti ini: begitu pragmatis dan sulit untuk berfikir ke depan? Hanya karena sebuah tayangan berhasil meraih rating tinggi dan karenanya uang banyak mengalir dari mereka-mereka yang nitip pasang iklan, kita tidak memperhitungkan dampak buruknya di waktu mendatang. Mata kita baru terbuka saat banyak korban berjatuhan; saat semua sudah terlambat.

Saya juga jadi bertanya-tanya. Peristiwa apa lagi yang harus menimpa kita agar kita sadar bahwa sistem kapitalisme yang mengakar kuat di hampir semua lini kehidupan kita saat ini seharusnya sudah sejak dulu kita musnahkan? Nyatanya, melambungnya harga sembako, mahalnya biaya pendidikan, melangitnya ongkos pengobatan, menjamurnya penggusuran, dan sederet penderitaan hidup yang saat ini dipikul sebagian besar penduduk negeri zamrud katulistiwa ini belum cukup untuk membuat kita bergerak massif melakukan perlawanan.

Entah peristiwa apa yang akan membuat kita, rakyat Islam, sadar bahwa hukum-hukum syetan yang selama ini digunakan penguasa untuk mengatur kita mestinya sudah sejak dulu kita campakkan dan kita ganti dengan hukum-hukum Tuhan. Nyatanya, ketidakdakmampuan hukum-hukum syetan ini untuk menekan angka kriminalitas dan perbuatan amoral (kebetulan minggu ini bangsa berpenduduk muslim terbesar Indonesia sedang diguncang dua video porno. Satu dibintangi pasangan anggota DPR dan penyanyi dangdut; yang lain dibintangi sepasang PNS dinas pendidikan!) tidak juga membuat kita berfikir untuk kembali ke aturan-aturan Allah.

Entah peristiwa apa lagi yang kita, rakyat Islam, butuhkan untuk menyadari bahwa terpecah-pecahnya kita ke dalam puluhan negara dan bercokolnya penguasa-penguasa boneka di tanah kita adalah penyebab utama harkat dan martabat kita diinjak-injak penjajah. Belum cukupkah jutaan nyawa yang semburat berhamburan di palestina, bosnia, chechnya, ambon-poso, afghanistan, irak, dan pattani untuk menggerakkan kita menyingsingkan lengan baju merontokkan kekuasaan antek-antek barat dan mengangkat seorang khalifah, yang akan mengatur kita dengan al-quran dan sunnah dan yang akan menyatukan seluruh rakyat Islam di dunia di bawah satu bendera?!

Seseorang tiba-tiba terdengar berbisik mesra di ujung telinga saya: “bukan itu, sayang. Yang kita butuhkan bukan datangnya serangkaian peristiwa. Kita hanya perlu mengganti kacamata, agar kita bisa melihat dengan jelas bahwa dampak buruk mengguritanya kapitalisme, diterapkannya hukum-hukum syetan, adanya batas-batas teritori negara yang memisah-misahkan kita, dan berkuasanya kaki tangan penjajah ternyata ribuan kali lebih parah dari dampak buruk tayangan smackdown. Itu saja”.

~ by ahmad nadhif on December 2, 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: