sketsa sepotong roti

Semalam seseorang membawaku ke sebuah gurun di Afghanistan. Di sebuah gua, entah di tahun berapa. Gelap yang menyatu dengan udara disibak nyala api yang menggerogoti beberapa potong kayu kering. Di sebelah kiri, beberapa pria dengan senapan-senapan butut duduk menghadap ke perapian. Di mata mereka, yang meski teduh, aku melihat raksasa-raksasa yang seakan hendak menggerakkan sesuatu. Sementara di sebelah kanan, seorang pria dengan balutan seragam tentara Rusia terlihat layu tanpa senjata. Selain segaris tipis harap, di matanya hanya ada pasrah. Siang sebelumnya dengan sebuah tank jahannam ia melindas tuntas seonggok tubuh lemah seorang mujahid yang terluka. Dan kini ia tertawan, menantikan pembalasan dendam.

Seorang mujahid tiba-tiba berdiri. Ia mengeluarkan sehelai kain dan berkeliling mendatangi kawan-kawannya. Satu persatu mereka mengeluarkan potongan roti dari balik baju kumal mereka dan menaruhnya di atas kain itu. Hanya terkumpul beberapa potong karena tidak semua mempunyai roti. Kain itu pun kemudian diletakkan di hadapan sang tentara layu. Ia terlihat ragu, tetapi bentakan seorang mujahid memaksanya mengambil sepotong roti dihadapannya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam mulutnya. Di saat itulah kawanan mujahid itu berhamburan berlomba untuk mendapatkan roti yang tersisa di hadapan tawanan mereka. Sebuah sketsa yang begitu menggetarkan ruas-ruas tulang siapapun yang punya rasa!

(habis nonton The Beast bersama mas usman)

~ by ahmad nadhif on December 12, 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: