tanpa judul

Ketika aku menyalakan komputer dan mulai mengetuk-ngetukkan jemariku di atas keyboard sekarang ini, aku benar-benar tidak tahu apa yang akan aku tulis. Benakku hampa. Kosong. Senandung Sketsa Rembulan Emas Ebiet G Ade yang terhisap sepenuh-penuhnya ke dalam rongga tubuhku lewat headset yang rapat menutupi kedua daun telinga tidak juga menerbitkan sepenggal pun inspirasi. Tapi aku tetap ingin menuliskan sesuatu, sekabur dan seberzig-zag apapun hasil akhirnya nanti. Ini adalah tamasyaku. Aku ingin merebahkan pikiran, melepaskan rasa penat dalam otak akibat tugas-tugas perkuliahan yang begitu membosankan dan kadang menyebalkan. Dan meski hanya sesaat, aku berharap tulisan ini bisa menghentikan gesa laju waktu, suatu saat nanti, demi terukirnya seutas sejarah. Yang aku tahu, sejarah lahir bersamaan dengan tulisan. Dan aku selalu berfikir bahwa sejarah akan mati ketika orang-orang memutuskan untuk berhenti menulis.

Baiklah, aku akan menulis tentang sebuah titik balik. Tepatnya, ini adalah kisah sedih tentang tumbangnya seseorang dari singgasananya. Bukan, aku tidak akan bercerita tentang tamatnya karir seorang anggota DPR, ketua bidang kerohanian partai Golkar, yang juga mantan ketua umum PB HMI, akibat beredarnya video mesumnya dengan seorang biduan dangdut yang hingga kini masih ramai diperbincangkan itu. Ini adalah kisah tentang seorang ustad dari gegerkalong yang akhir-akhir ini juga membuat heboh negeri ini. oh, bukan. Aku tidak akan membincangkan tentang boleh-tidaknya poligami, karena Al-Quran jelas-jelas membolehkannya meski Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama berbusa-busa berusaha mengharamkannya. Aku juga tidak akan berteriak tentang betapa memuakkannya sikap pemerintah, yang dengan berpoligaminya sang ustad kemudian berancang-ancang untuk mengkriminalisasi praktek poligami dengan alasan pemerintah mempunyai moral obligation terhadap masyarakatnya. Sangat memuakkan, karena pada saat yang sama pemerintah hanya diam saja terhadap kasus perzinahan anggota DPRnya dengan biduan dangdut. Pemerintah juga diam saja terhadap kasus perzinahan terbuka di sebuah warung makan yang dilakukan oleh sepasang PNS dinas pendidikan! Pemerintah juga diam saja terhadap ribuan kasus perzinahan di lokalisasi-lokalisasi pelacuran kelas teri pinggir jalan, di hotel-hotel kelas melati hingga lima bintang, di kantor-kantor, dan bahkan di lembaga pendidikan tinggi bernama universitas! Entah moral obligation macam apa yang dimaksudkan pemerintah ketika hendak melarang poligami tetapi membiarkan dan menyuburkan perzinahan. Di sisi lain aku juga bertanya-tanya. Apakah pemerintah yang dengan pongahnya menggusur rakyat jelata, yang memiskinkan mereka dengan menaikkan harga BBM, yang membuat kesehatan dan pendidikan layak hanya bisa dinikmati kalangan yang punya duit saja, yang menghambur-hamburkan uang 6 milyar untuk mengobrak-abrik istana bogor demi menghamba pada manusia paling hina, layak berbicara tentang moral? Bah! Karenanya, aku tidak akan membahas tentang hal ini karena hanya akan membuat kepala makin pening saja. Lihatlah, nada tulisanku di paragraf ini sudah sedemikian pedasnya.

Yang hendak aku diskusikan adalah fenomena tumbangnya sang ustad dari singgasananya di hati para jamaahnya. Para ibu-ibu yang selama ini begitu mengelu-elukannya tiba-tiba meninggalkannya begitu saja. Pengajiannya menjadi sepi. Aku pikir, stasiun-stasiun TV dengan naluri bisnisnya yang besar itu akan berfikir ribuan kali untuk mengundang sang ustad berceramah. Mana ada yang mau nitip iklan jika yang mau nonton sudah berkurang drastis?! Ini menarik untuk dicermati karena niatan sang ustad untuk merevolusi pandangan negatif masyarakat terhadap poligami dengan cara dirinya sendiri melakukan poligami ternyata tidak berhasil. Malah dia akhirnya menjadi “korban” dari usaha revolusinya itu. Pertanyaannya: mengapa ini bisa terjadi? Pertanyaan ini penting agar setiap orang yang hendak dan berniat mengubah kemapanan dapat mengambil pelajaran sehingga kesalahan yang sama tidak terulang di masa mendatang.

Menurutku, sang ustad sebelumnya telah keliru memprediksi. Mungkin ia berfikir masyarakat akan langsung meninggalkan pandangan negatif terhadap praktek poligami begitu mereka melihat dirinya, yang begitu dikagumi dan dielu-elukan jutaan orang tidak hanya di negeri ini tetapi juga di negeri seberang, melakukan poligami. Ternyata tidak sesederhana itu. Begitu masyarakat mengetahui bahwa sang ustad telah menikah lagi, lukalah hati mereka. Perasaan mereka bagai tercabik-cabik. Mereka marah semarah-marahnya. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang memutuskan untuk memboikot ceramah-ceramahnya. Walhasil, sekian ribu jamaah menjauh. Mereka melarikan diri dari ustad yang selama ini mereka junjung tinggi. Hujan sehari ternyata mampu menghapus semua jejak kemarau yang berlangsung bertahun-tahun.

Sejenak marilah kita berandai. Coba kita bayangkan seandainya sang ustad jauh-jauh hari telah mewacanakan tentang bolehnya praktek poligami dan berusaha memahamkan para jamaahnya bahwa mempunyai isteri lebih dari satu bukanlah aib. Jika itu yang terjadi, tentu mereka akan bisa memahami dan bahkan mungkin mendukung keputusannya. Sayangnya bukan itu yang terjadi. Ceramah-ceramah sang ustad lebih banyak berkisar pada masalah penjagaan hati. Wajarlah jika para jamaah kaget bukan alang kepalang ketika ustad pujaan hati mereka menikah lagi. Meski isteri tua sang ustad berkali-kali menyatakan bahwa sang ustad sudah mengutarakan keinginannya untuk berpoligami sejak lima tahun yang lalu, itu tidak mengubah keadaan. Meski sudah lima tahun, para jamaah kan tahu-nya barusan! Isteri tua bisa memahami dan menerima, tapi tidak dengan para jamaah.

Ini adalah pelajaran penting bagi siapa saja yang ingin mengubah kondisi masyarakat, termasuk partai-partai Islam. Sebuah partai islam yang memang ingin bercita-cita menegakkan syariah, hendaknya menyampaikan pada masyarakat cita-cita mulia itu sejak awal. Yakinkan mereka akan urgensinya sehingga ketika mereka memberikan dukungan, dukungan itu adalah dukungan untuk menegakkan syariah Islam.

Logika bahwa saat ini tidak perlu menyatakan cita-cita menegakkan syariah dengan asumsi bahwa partai masih terlalu kecil dan syariah masih merupakan hantu yang menakutkan, kedengarannya memang indah. Argumentasi bahwa nanti saja jika partai sudah menguasai parlemen kata syariah diwacanakan dan langsung diterapkan pada masyarakat, memang sepintas masuk akal. Tetapi, dapat dipastikan pada saat itu masyarakat akan terkaget-kaget dan sangat mungkin merasa dikhianati, sebagaimana dalam kasus poligami-nya ustad gegerkalong, bahkan lebih parah karena ini menyangkut kehidupan mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya dapat diprediksi: masyarakat akan menarik dukungannya terhadap partai dan meminta partai mengubur syariah islam, jika perlu secara paksa. Ini karena dalam benak mereka syariah masih merupakan hantu “jeruk purut”. Partai yang sudah berada di puncak piramida kekuasaan dengan mudah akan bisa ditumbangkan oleh kekuatan rakyat dengan dukungan partai-partai lain yang memang emoh syariah.

Walhasil, jika saat ini ada partai islam yang banyak meraih dukungan justru karena berstrategi “menyembunyikan” cita-cita penegakan syariah, tentu ini bukanlah hal yang membanggakan. Justru ini ibarat menyimpan api dalam sekam. Percayalah, sekedar citra bersih dari korupsi, tidak akan menghalangi konstituen yang tidak paham syariah untuk melarikan diri pada saatnya nanti, sebagaimana citra sejuk dan bijaksana ustad gegerkalong tidak banyak berguna untuk mengikat para jamaahnya yang tidak paham akan halalnya poligami untuk tidak meninggalkannya ketika ia menikah lagi.

Maka katakan syariah sekarang juga. Katakan dengan lantang, dengan kepala yang tegak, dan dengan tatapan mata yang penuh kekuatan. Semoga Allah segera memberikan pertolonganNya.

~ by ahmad nadhif on December 12, 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: