menjadi sapi, menyandera mayat

Ada dua peristiwa di akhir tahun 2006 yang terus saja melekat dalam pikiranku, setidaknya sampai saat ini. Bukan peristiwa “besar”, sehingga tidak akan kau temui dalam daftar kaleidoskop manapun. Ini hanyalah peristiwa “kecil” yang terancam luput dari catatan sejarah. Tapi, justru karena itu aku ingin mengabadikannya di sini.Yang pertama, sebagaimana ditayangkan sebuah TV swasta, seorang suami di pulau madura terpaksa menarik sendiri bajaknya utk menggarap sawah karena sapi miliknya terpaksa dijual demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Keadaan mengharuskannya menggantikan peran seekor SAPI, di zaman yang apa-apa sudah serba computerized ini! Untungnya, sang isteri tidak lari meninggalkannya. Perempuan itu dengan setia memegangi ujung belakang bajak sekaligus mendorongnya, agar beban sang suami terasa lebih ringan. Sedikit romantis memang, tapi tetap saja ini sebuah ironi.

Yang kedua, sebagaimana laporan Jawapos, di rumah sakit Sanglah Bali, seonggok mayat dijadikan sandera! Pihak rumah sakit menahannya karena keluarganya belum juga mampu membayar biaya pengobatan dan perawatan yang dijalaninya semasa sakit. Sebelum lunas, jangan harap mayat bisa dibawa pulang! (begitu kira-kira isi otak pengelola rumah sakit). Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah mengeluarkan uang sebanyak 6 milyar rupiah untuk membangun sebuah helipad sebagai sesajen buat Tuan Bush yang ternyata tidak jadi digunakan dan akhirnya dibongkar lagi. Ironis dan sama sekali tidak romantis.

Dua peristiwa ini tentu saja hanya sekedar sampel yang mewakili populasi yang jauh lebih besar dan mungkin juga jauh lebih membuat perih di hati.

Sementara itu, dalam laporan akhir tahunnya, BKKBN seakan menyesalkan pertumbuhan penduduk Indonesia yang tetap saja tinggi. Bagi orang-orang yang sudah tertipu mentah-mentah oleh teori Robert Malthus, jumlah penduduk yang tinggi memang sudah lama dijadikan kambing hitam sebagai penyebab merebaknya kemiskinan. Alasan mereka, kebutuhan manusia tidak terbatas (begitulah, mereka terlalu cerdas untuk bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan) sementara alat pemuasnya terbatas. Maka, program KB menjadi solusi andalan untuk mencegah kemiskinan.

Apakah si suami yang menarik sendiri bajaknya di madura dan keluarga mayat yang di sandera di RS Sanglah adalah manusia-manusia yang tidak menjalani program KB? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tetapi, sungguhkah jika seandainya semua keluarga di negeri ini ikut program KB, sementara pemerintah tetap saja kapitalistik dalam kebijakan ekonominya, kemiskinan akan terhapuskan? Mustahil!

Aku meyakini bahwa kekayaan yang dianugerahkan Allah untuk penduduk bumi lebih dari CUKUP untuk memenuhi kebutuhan (bukannya keinginan) hidup mereka. Letak permasalahannya ada pada distribusi. Ya, distribusi. Bukankah kita semua tahu bahwa di saat jutaan orang di negeri ini jatuh semakin miskin menyusul dinaikkannya harga BBM, wakil rakyat justru naik gaji?! Bukankah kita semua tahu bahwa di saat begitu banyak orang yang untuk membeli sepeda pancal saja tidak bisa (salah satunya aku, suer!), sekian banyak orang lain di negeri ini mempunyai mobil MEWAH lebih dari SATU?! Bukankah kita juga tahu bahwa di saat jutaan manusia mati kelaparan di negara-negara dunia ketiga, ribuan manusia lain di negara-negara maju justru mati karena kebanyakan makan (obesitas dan segala macam penyakit turunannya)?! Bukankah kita juga tahu bahwa negara AS, yang jumlah penduduknya hanya sekitar 4 persen dari total populasi dunia itu, menghabiskan kurang 35% dari total konsumsi penduduk dunia, yang sebagian besarnya merupakan hasil jarahan dari negeri-negeri yang katanya miskin seperti Indonesia?

Walhasil, yang kita butuhkan saat ini adalah sistem yang menjamin terdistribusinya kekayaan ke seluruh manusia secara adil (baca: sistem Islam), bukannya penggalakan program KB!

~ by ahmad nadhif on January 5, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: