aku sedang bingung

Andai kau tahu betapa susahnya aku memilih kata yang tepat untuk mengawali artikel ini, engkau akan mengerti mengapa aku harus menuliskan kalimat yang sedang kau baca ini di sini. Aku bingung harus mulai dari mana, sebagaimana bingungnya seorang pemuda tanggung yang nggak tau bagaimana cara mengawali pemberitahuan kepada orang tuanya bahwa dia ingin menikah.

Aku memang sering bingung. Gak hanya saat ini. Beberapa hari yang lalu misalnya. Dalam sebuah imajinasi liar, aku bertemu dengan seorang pria tua yang sedang menggembala kambing. Mbah Podho namanya. Mbah Podho memiliki kambing yang buanyak. Hampir memenuhi padang rumput yang luasnya kira-kira se-lapangan bola. Saat bertemu itu, aku berusaha berbasa-basi.

“Kambingnya banyak ya Mbah?”
“Yah, hlumayan-lah,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Suaranya bergetar, khas suara orang yang sudah uzur. Jemarinya yang keriput sibuk mengayam rumput. Rupanya dia sedang membuat wayang suket (wayang yang terbuat dari rumput. Wayang jenis ini jauh lebih nyentrik daripada wayang kulit, wayang golek, atau wayang orang. Nyentrik, soalnya kita belum terbiasa melihatnya. Ntar kalo udah jadi trend, wayang ini nggak akan nyentrik lagi. Insya Allah).

“Jumlah semuanya berapa, Mbah?” tanyaku, masih soal kambing yang banyak itu.
“Hyang phutih hatau hyang hitam?” Mbah Podho balik bertanya.
“Yang putih deh.”
“Hemphat phuluh,” jawabnya singkat.
“Kalo yang item, Mbah?” lanjutku bertanya.
“Shama shaja,” jawabnya dingin. Lha iya, ngapain juga orang ini mesti nanya yang putih atau yang item dulu kalo ternyata jawabannya sama saja. Bingung.

“Makanannya pasti banyak dong, Mbah?” aku bertanya lagi.
“Ho-iyha,”
“Berapa kilo rumput, Mbah, seharinya?”
“Hyang phutih hatau hyang hitam?” Mbah Podho nanya itu lagi.
“Yang item wes.”
“Yha kehira-kehira sephuluh kehiloan-lah,” jawabnya.
“Kalo yang putih?” aku penasaran.
“Shama shaja,” jawabnya santai tanpa merasa bersalah. Padahal hati ini mau mendidih rasanya.

“Mbah! ngapain sih musti nanya yang putih ato yang item dulu kalo ternyata jawaban sampean sama aja?!” protesku. Kali ini Mbah Podho menatapku teduh penuh ke-eyang-an (setingkat lebih tinggi dari sekedar “kebapakan”). Kemudian ia menjawab dengan tenang,
“Beghini lho, Nhak. Hyang phutih itu semuhanya mhilik eMbah,”.
“Lha yang item?” tanyaku gak sabar.
“SHAMA SHAJA!” Whrrhxrrs!! Gak hanya bingung, gemesku juga memuncak bukan alang kepalang. Untung aja membunuh itu tidak selamanya halal!

Orang aneh seperti Mbah Podho ini ternyata gak hanya ada di Indonesia. Mark Twain dalam sebuah karya dramanya yang berjudul An Encounter With An Interviewer, bercerita tentang seorang penulis yang bikin bingung pewawancaranya. Ketika sang penulis ditanya berapa umurnya, dia bilang 18. Anehnya, ketika ditanya tahun berapa ia lahir, dia bilang tahun 1693. Padahal, wawancaranya itu lho terjadi tahun 1873!

Lebih aneh lagi ketika dia bercerita tentang saudaranya yang bernama Bill. Dia bilang nggak yakin kalo saudaranya itu sudah meninggal. Tapi, dia juga bilang saudaranya itu sudah dikubur oleh pihak keluarga (dikubur tanpa diketahui apakah dia sudah meninggal atau belum?!!). Saat diminta menjelaskan, dia bilang kalo sebenarnya dia dan Bill itu saudara kembar. Waktu mereka mandi bareng (saat masih kecil, belum baligh) di bathtub, salah satu di antara mereka mati tenggelam, dia bilang. Tapi, tidak diketahui siapa yang mati itu. Sebagian orang berkata itu Bill; sebagian yang lain berpendapat itu dia. Ketika ditanya bagaimana menurutnya, apakah Bill atau dia, dia bilang hanya Tuhan yang tahu. Aneh kan?! Semakin aneh lagi ketika dia bilang bahwa yang membedakan dia dan Bill adalah bahwa dia punya tahi lalat di punggung telapak tangan kirinya sementara Bill tidak. Nah, anak yang tenggelam itu punya tahi lalat itu! Intinya dia bingung, yang mati itu Bill atau dia?!! Kalo dia aja bingung, apalagi aku.

Memang sih, baik Mbah Podho maupun tokoh rekaan Mark Twain di atas hanya ada dalam imajinasi. Tapi, bingung makers seperti itu juga sering kita jumpai di dunia nyata. Contohnya saat pemilihan bintang iklan sabun mandi beberapa tahun yang lalu.

Sebagai orang awam yang gak tau apa-apa soal bisnis, aku bener-bener dibuat bingung oleh perusahaan sabun mandi itu. Logika apa yang ada dalam benak marketing manager-nya saat memutuskan untuk meminta masyarakat agar memilihkan seorang bintang iklan buat produknya? Bukankah dengan begitu masyarakat akan tahu bahwa kulit mulus sang bintang iklan bukanlah hasil dari menggunakan sabun yang diiklankannya, tetapi karena dari awal emang sudah mulus dan karena itu dia dipilih menjadi bintang iklan? Mestinya, sabun mandi yang bagus kan yang bisa membuat orang jelek jadi cakep, kulit kasar jadi halus, dan lain sebagainya. Menurutku, Mbok Yem, yang sehari-harinya kerja di sawah belepotan lumpur, lebih pas untuk jadi bintang iklan dalam hal ini. Orang akan mikir, kalo Mbok Yem yang mblurek (maaf, Mbok Yem yaa..) kayak gitu aja bisa cling pake sabun itu, apalagi para wanita yang diuji oleh Allah dengan “penampakan” yang lebih cantik, pasti akan lebih cling lagi. Mestinya kan begitu. Makanya, aku bener-benar ndak mudheng dengan pikiran si pembuat iklan ini.

Di samping itu, bukankah dengan pemilihan bintang iklan seperti itu, masyarakat juga akan tahu bahwa tidak semua orang cocok menggunakan sabun itu? Buktinya, bintang iklannya aja harus diseleksi. Mestinya, sabun yang bagus kan yang cocok untuk siapa aja. Nggak usah pilih-pilih. Itu menurutku. Iklan itu kan seharusnya menunjukkan kelebihan produk yang diiklankannya. Ini kok malah sebaliknya. Tapi yang bikin lebih bingung, kenapa sabun kayak begitu kok tetap aja laris?! (sampe di sini, aku merasa ada seseorang di antara kalian yang berkata kepadaku dengan suara mirip suara para dubber film-film Hongkong: “Dasar bodoh!!”).

Dalam dunia politik, hal-hal mbingungi akan lebih sering kau temui. Seperti yang sekarang terjadi dalam perkembangan kasus perzinaan Yahya Zaini dan Maria Eva. Maria Eva telah resmi menjadi tersangka. Dia diduga bersalah telah menyebarkan video mesumnya demi kepentingan popularitas. Di situlah letak kesalahannya. Akan halnya hubungan badan yang dilakoninya dengan Yahya Zaini secara suka sama suka, itu sama sekali tidak dianggap salah dalam pandangan hukum Indonesia. Walhasil, hanya maria eva-lah yang terancam menjadi nara pidana, sementara Yahya Zaini tidak perlu khawatir akan dijebloskan ke dalam sel penjara.

Maka dengan adanya kasus ini, jelaslah sudah bahwa perselingkuhan Gimin dengan Ngatini, istri Markum, bukanlah hal yang salah. Seorang kyai yang “menggilir” para santriwatinya, jika dilakukan suka sama suka, itu juga bukan kesalahan. Bahkan SEANDAINYA jika suatu saat nanti presiden Indonesia berselingkuh dengan menteri pemberdayaan perempuan-nya, itu tidak perlu dipermasalahkan, karena hukumnya adalah mubah-mubah saja! Itulah hukum negara Indonesia, negara yang dengan lantang menyatakan diri berdiri di atas dasar ketuhanan yang maha esa. Entahlah, TuhanYangMahaEsa mana yang membolehkan perzinaan. Bingung kan? Di mana-mana yang membolehkan perzinaan itu bukanlah Tuhan melainkan syetan! Jadi?

Selamat menikmati kebingungan.

~ by ahmad nadhif on January 5, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: