jangan takut naik pesawat

kemarin, serpihan-serpihan yang diyakini merupakan bagian dari pesawat adam air yang jatuh mulai ditemukan. semoga saja keberadaan para penumpangnya segera diketahui meski mengharapkan ada korban yang selamat mungkin terlalu berlebihan. semoga juga para korban tenggelamnya kapal senopati nusantara, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari korban adam air, segera bisa dievakuasi pula dan dikuburkan jika memang sudah meninggal. kita semua prihatin dengan kejadian ini.

di sisi lain, kecelakaan pesawat terbang maupun kapal laut, meski sudah sekian kali terjadi, tidak juga membuat kapok orang-orang untuk naik dua jenis kendaraan ini. itu sebenarnya, dan memang sudah seharusnya, wajar. sewajar kenyataan bahwa kita tidak pernah was-was saat akan merebahkan tubuh di atas kasur meski tiap menit ada saja orang yang meninggal di atas benda empuk itu. wajar, karena pesawat, kapal, dan kasur memang tidak mempunyai korelasi apapun dengan kematian. bahkan belati, keris, dan senjata nuklir pun tidak. orang mati ketika dan hanya ketika ajal tiba. hanya ketika.

saat aku mulai menyukai gunung dan sesekali melakukan pendakian, ibuku membagi rasa khawatirnya. asap beracun. tersesat tanpa makanan. jatuh ke jurang. binatang-binatang buas. ada begitu banyak kematian di gunung, anakku. aku pun tersenyum dan mengatakan padanya bahwa di antara para pendaki, yang kembali pulang jauh lebih banyak daripada yang berpulang. ah, perempuan agung itu memutuskan menyimpan gundahnya dalam diam. dia tahu dari batu cadas mana kepala anaknya ini terbuat. maafkan aku, ibu.

pun, ketika hatiku bergetaran oleh sebuah resonansi bawah tanah dan jiwaku dipenuhi energi asing yang mengalir hingga ujung-ujung jemari, yang kemudian membawaku terbang ke jalanan sambil mengibarkan rooyah dan liwaa’, ibuku kembali membagi khawatirnya. nanti tertembak atau dipenjara, katanya. aku pun kembali tersenyum dengan kepala batu. resiko perjuangan ini paling banter adalah kematian, ibu. sama dengan naik sepeda motor. sama dengan berjalan kaki ke sekolah. sama dengan memasak tumis jamur-kangkung di dapur. hai, tersenyumlah, ibu.

masing-masing nama kita tertulis di sehelai daun. kita tidak tahu kapan daun kita akan gugur ke tanah. entah bersamaan dengan datangnya angin sepoi senja hari atau ketika badai puting beliung menerjang jam 9 pagi. yang kita tahu, daun itu pasti akan gugur. pasti akan gugur.

seorang ayah yang takut ditinggal mati putrinya mengganti nama putrinya itu, dari selvi menjadi rina. itu dilakukan agar ketika daun yang bertuliskan nama selvi gugur, putrinya tidak akan ikut mati. ia tidak tahu bahwa di daun yang sama tertulis: selvi mati ketika namanya sudah berganti menjadi rina.

menghindar dari kematian hanyalah sebuah kesia-siaan, begitu kata para kyai. mestinya bukan menghindar melainkan mempersiapkan datangnya giliran. setiap hari ada orang yang mati. hanya sedikit di antara mereka yang mati demi sebuah cita-cita. dan lebih sedikit lagi di antara mereka yang mati demi sebuah cita-cita yang benar.

karenanya, tidak perlu takut naik pesawat. takutlah karena tidak punya cita-cita yang benar.

~ by ahmad nadhif on January 12, 2007.

One Response to “jangan takut naik pesawat”

  1. Very inspiring, I love this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: