surat untuk alia

Ia, surat ini kutulis saat sekujur badanku terasa begitu lelah. Entah berapa kilometer hari ini aku terpaksa berjalan kaki. Kehujanan lagi. Ah, capek sekali, ia. Kuputuskan untuk absen mengikuti kondangan di sudut kampung dan kubiarkan tubuhku beristirahat di depan komputer, melamunkan dirimu.

Masih terngiang-ngiang kata-kata terakhirmu di telingaku, saat kulihat bayanganmu melintas di sepenggal malam yang sepi di simpang jalan yang begitu kabur, bahkan sepertinya tidak nyata. Aku tidak bisa melihat wajahmu saat itu. Aku tahu itu kamu karena aku kenal warna suaramu. Teriakanmu begitu lantang, ia. “Aku ingin menapaki jejak para aktivis gerakan feminisme di Barat sana. Camkan itu!” gamparmu pada seseorang, entah siapa. Aku hanya bisa menghela nafas dan mengurut dada waktu itu. Dalam hati aku berharap, saat itu engkau sedang mengigau, atau mabuk karena tidak sengaja menenggak segelas tuwak, atau kerasukan jin bencong yang sedang sewot karena ditinggal lari teman kencan tanpa dibayar. Atau kalau tidak, aku berharap akulah yang sedang bermimpi. Tapi akhirnya aku harus kecewa. Kau benar-benar sadar akan teriakan itu. Kau meyakinkanku akan hal itu. Karenanya aku menulis surat ini untukmu, ia. Jangan sebut ini surat cinta. Nanti ada yang marah. Aih aih.

Ia, kupikir kau pasti sudah membaca tulisan Gloria Steinem tahun 1978 yang berjudul If Men Could Menstruate itu. Ah, kaum pria dijadikan olok-olok sedemikian rupa bahwa apapun yang melekat dalam diri pria akan dijadikan alasan untuk menancapkan supremasi mereka. Andai saja pria bisa mens, kata Steinem, maka akan terjadilah male competition dengan cabang lomba misalnya: frekuensi ganti pembalut dalam sehari (yang paling sering ganti itulah yang menang) dan durasi menstruasi (yang paling lama itulah yang menang). Atau bahkan, mens bisa menjadi syarat untuk masuk kesatuan tentara dengan alasan bahwa sebelum meneteskan darah musuh, seorang tentara harus meneteskan darahnya sendiri dulu. He he. Lucu juga ya, ia?

Kupikir nama Germaine Greer juga tidak asing bagimu. Bahkan, mungkin kau sudah mengkhatamkan buku The Female Eunuch yang ditulisnya 30-an tahun yang lalu itu. Wanita tidak cukup hanya menjadi ibu rumah tangga saja, begitu argumentasi yang dibangunnya. Bukankah buku itu adalah “kitab suci” bagi kaum feminis, ia? He he, jangan marah ya.

Kau pasti begitu jengkel melihat dimana-mana suami masih disebut sebagai kepala rumah tangga. Kau pasti juga murka melihat masih begitu banyak wanita yang dikurung di rumah hanya untuk cuci baju, bergelut dengan asap dapur, dan ngurus anak; sementara si suami enak-enakan bekerja di luar rumah. Benar-benar penjajahan atas kaum hawa!, begitu mungkin berontakmu. Apalagi kalau mendengar para kyai, yang berjenis kelamin pria itu, menyitir hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa seandainya seorang manusia boleh bersujud kepada manusia yang lain, tentu beliau saw akan memerintahkan para isteri untuk bersujud pada suaminya. Ah, kau pasti sangat dongkol, ia. Kalau kau masih sungkan untuk mengatakan bahwa hadits itu sebaiknya dibuang ke tong sampah, kau mungkin akan mengajak orang-orang untuk berhermeneutika ria dalam menafsirkannya. Iya kan, ia? Ou, aku terlalu sinis ya? Maafin deh, Oke?

Tapi tahukah kau, ia, bagaimana keadaan Gloria Steinem dan Germaine Greer belakangan ini? Dalam majalah Ms. (majalah terkemuka kaum-feminis. Kamu pasti sudah tahu itu) edisi musim panas tahun 2003, dengan sebuah artikel bertitel Remember Our Power, Steinem mengajak para pembaca bernostalgia tentang kehidupan primitif bangsa Australia berabad lalu. Menurutnya, kehidupan kaum primitif Australia itu ditandai dengan pembagian kekusaan yang seimbang antara laki-laki dan perempuan dan antara manusia dengan alam, karena semuanya adalah bagian dari kesatuan yang sama.

Di artikel itu, Steinem menggambarakan sebuah harmoni ketika para kepala suku memang dipilih dari kalangan pria tetapi dengan mendengarkan nasehat kaum wanita. “Semua ini memiliki satu tujuan keseimbangan, antara pria dan wanita, antara tiap manusia dengan masyarakatnya, antara manusia dan alam—jika memang semuanya itu dianggap terpisah satu sama lain.” Dibandingkan dengan artikel If Men Could Menstruate-nya, mana yang terdengar lebih indah, ia?

Sementara Greer, dengan buku barunya yang terbit tahun 1999 dengan judul The Whole Woman, membagi curahan hatinya tentang betapa melelahkannya perjalanan kaum feminis dalam perjuangannya mensetarakan gender.

Betapa di tahun 60-an, kata Greer, apa yang disebut kebebasan terasa sudah sedemikian dekat dan segera dapat dicapai. Tapi, hingga datangnya tahun 1999, alih-alih kebebasan tercapai, cita-cita itu semakin memudar. Ini bukan hanya karena negara dan pemerintah dianggapnya masih terus mempertahankan pola kekuasaan lama, tetapi juga karena tidak bertambah banyaknya jumlah kaum perempuan yang mau ikutan mengadopsi ide feminisme. Ah, pasti melelahkan ya, ia. Emang sih, Greer masih menyoroti apa yang dianggapnya sebagai dominasi pria, tetapi ia sepertinya mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diubah dari spesies yang bernama mansuia ini.

Kau tahu apa yang dirisaukan Greer, ia? Sesudah berpuluh tahun gerakan feminisme mengibarkan bendera perjuangan, ternyata para gadis tetap saja terjajah dengan konsep “wanita cantik” yang sama. Miliaran anak gadis berdiet keras dan menghabiskan begitu banyak duit membeli bedak dan alat-alat kosmetik serta pakaian-pakaian mahal demi untuk menjadi objek seks dan nafsu para lelaki! Bahkan, menurutnya, kebebasan seks yang mengiringi revolusi gender itu pun malah lebih sering merugikan wanita dan menguntungkan pria. Wanita beresiko hamil sementara pria tidak. Ah.

Satu lagi kata Greer yang perlu kamu tahu, ia. Ia begitu gundah dengan pornografi. Betapa puluhan tahun gerakan feminisme memperjuangkan agar wanita menjadi subjek, industri pornografi yang begitu menghina dan merendahkan wanita itu terus saja menggelembung dengan omset miliaran dolar tiap tahunnya. Khusus di Indonesia, Muammar Emka menyebut angka taksiran Rp 48 trilliun. Itu uang semua, ia. Uang semua.

Pada akhirnya Greer pun harus mengakui, ia, bahwa strategi gerakan feminisme yang dipakai pada tahun 60-an tidaklah membawa hasil yang jelas kalau bukan malah membawa kerusakan. Yang saat ini terjadi bukanlah pembebasan wanita dari ketertindasan, melainkan tidak lebih sekedar menggantikan tempat ketergantungan. Kalau dulu wanita memberontak dari ketergantungannya terhadap pria, kini mereka malah bergantung pada industri kosmetik dan fashion. Kalau sudah begitu, wajar saja jika kemudian lahir keputus-asaan dalam melanjutkan perjuangan. ABCD, aduh bo’ capek deh. He he.

Ia, apakah kau masih di situ membaca suratku? Ikutan capek ya? Baiklah, aku akan simpan saja cerita tentang Bella Abzug, seorang ikon feminis perkasa berikutnya yang tiba-tiba menjadi begitu rapuh setelah ditinggal mati oleh suaminya yang bernama Martin. Ah, andai kau membaca tulisannya yang begitu menyentuh itu, ia, (judulnya: “Martin, What Should I do Now?”, terbit di Ms. tahun 1990) mungkin kau akan menitikkan airmata. Bukankah para wanita sepertimu begitu lembut dan mudah tersentuh, ia?

Atau sekarang kau malah jadi penasaran dengan Bella Abzug? Baiklah kalau begitu. Dia adalah seorang yahudi. Selama puluhan tahun ia berada di garis depan gerakan feminisme yang menyerukan kemandirian dan persamaan hak bagi perempuan di segala lini. Di belakang wanita inilah terdapat Martin, suaminya yang pendiam yang selalu mendukung semua sepak terjangnya. Tapi ketika martin meninggal, dia seperti kapal yang kehilangan kemudi. Dengarlah apa yang dikatanyannya berikut ini.

“Saya memiliki reputasi sebagai perempuan yang mandiri, dan memang saya mandiri. Tapi jelaslah sebenarnya saya bergantung pada Martin. Dia sering merengkuh saya ke dalam dadanya yang berbulu dan hatinya yang hangat untuk melindungi saya dari semua kebusukan yang mesti dialami orang-orang yang hidup di jalan saya ini. Apa yang bisa saya katakan hanya ini: ‘Hargailah hubungan dan lakukan apa saja yang anda bisa untuk menjaganya’. Belum lama ini saya memimpikannya dan bertanya, ‘Martin, Martin, apa yang harus aku lakukan sekarang?’ Dia hanya tersenyum lalu menghilang.”

Tuh kan, kamu terharu, ia.

Terakhir nih, ia. Berbagai eksperimen untuk membuktikan bahwa pria dan wanita seratus persen sama sudah banyak menimbulkan kerugian. Contohnya, ketika pada tahun 1997 Pemerintah Inggris memberlakukan “gender-free approach” (pendekatan bebas-gender) dalam merekrut tentaranya dan memberlakukan ujian fisik yang sama terhadap kadet pria dan wanita maka yang terjadi adalah tingkat cedera yang tinggi di kalangan kadet wanita. Contoh lainnya, dalam Perang Teluk, satu di antara 10 kru wanita Kapal Perang Amerika USS Acadia dikembalikan karena hamil di perjalanan menuju atau di medan perang, sementara jumlah tentara pria yang dikembalikan adalah nol. (Nol, ia. Karena mana mungkin ada cowok bisa hamil kecuali Arnold Swasanaseger. Udah nonton filmnya kan?). Kapal perang yang gagah perkasa itu kemudian diolok-olok dan diganti namanya menjadi The Love Boat. Ketawa dong, ia.

Sudahlah, ia. Pria dan wanita memang beda. Tidak perlu kau paksakan agar sama. Boys will be boys, begitu judul artikel Professor T.J. Winters, yang menyimpulkan bahwa pada akhirnya memang ada faktor-faktor tak terbantahkan yang membedakan keduanya, dan ini semakin lama semakin diterima oleh para pemikir feminis Barat. Yup, mestinya perbedaan-perbedaan itu justru untuk saling melengkapi satu sama lain, bukan untuk dipaksasamakan ataupun dijadikan alat persaingan. Kamu setuju kan, ia? Ngangguk dong.

Kamu mau mengikuti jejak para feminis Barat. Itu kan yang kamu bilang? Nggak masalah kalo kamu ikut mereka yang sudah sadar dan kembali ke “sunnatullah”. Jangan yang belum ya, ia. Apalagi mengikuti para feminis Indonesia yang makin hari makin genit dengan seruan gender equality-nya itu. Huh. Dasar feminis ketinggalan zaman! Eike jadi sebel deh, Bo’. (Sepertinya aku sudah mulai kerasukan jin bencong nih, ia. Udahan dulu ya, sebelum bertambah parah).

~ by ahmad nadhif on January 20, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: