jonggring salaka

On a wagon bound for market
there’s a calf with a mournful eye.
High above him there’s a swallow,
winging swiftly through the sky.
How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer’s night.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna; Donna, Donna, Donna, Don.

Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“ + Chorus

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly. + Chorus

(Joan Baez, dinyanyikan kembali oleh Sita Nursanti dalam film GIE)

Di masjid Muhajirin, suatu pagi tahun 2001, pertama kali Allah memperlihatkan wajah keriputmu itu padaku, pada mata kepalaku. Bukan lagi sekedar bayang-bayang, kau tampak begitu dekat, begitu nyata. Kopyah dan janggutmu sama putihnya. Ah, tua renta. Kalimat-kalimatmu pun terdengar patah-patah. Tapi, hei, penuh tenaga. Ya, penuh tenaga. Seakan merupakan hasil tempaan selama ribuan tahun di jonggring salaka.

Masih kusimpan catatan penggalan orasimu saat itu, di kepalaku. Kita memperjuangkan tegaknya syariah Islam untuk tiga alasan kuat: sebagai penyempurna aqidah, sebagai pernyataan syukur atas nikmat kemerdekaan, dan sebagai solusi permasalahan bangsa.

Aqidah tanpa syariah tidak ada artinya. Iblis yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah adalah Tuhan. Namun, iblis diusir dari surga dan dikutuk masuk neraka karena tidak tunduk pada syariah Allah: bersujud pada Nabi Adam.

Semua nikmat yang disyukuri akan ditambah, yang dikufuri akan berbuah siksa. Syukur dilakukan dengan cara menggunakan nikmat di jalan Allah; kufur dilakukan dengan cara menggunakan nikmat di jalan selain jalan Allah. Mensyukuri kemerdekaan mestinya dilakukan dengan cara menggunakannya untuk menegakkan syariah. Mengunakannya untuk melestarikan hukum-hukum kolonial adalah wujud kufur nikmat.

Dan teranglah, permasalahan-permasalahan yang mendera negeri ini akan selesai dengan syariah. Allah sendiri yang menjanjikannya. Maka benarlah FIS dalam kampanyenya: masyarakat kita sedang sakit; obatnya sudah ada sejak 14 abad yang lalu, yaitu Islam.

Tahukah engkau, sore harinya aku sudah berada di sebuah desa terpencil di blitar sana, tepatnya di sebuah pesantren mungil dengan mushalla dari bambu? Di hadapanku ada sekian puluh mahasiswa yang sedang menjalani penggemblengan candradimuka. Dan kalimat-kalimatmu itupun akhirnya sampai pula di telinga mereka. Semoga mereka pun menyimpannya dan menyampaikannya pada generasi-generasi sesudahnya.

Dan waktu pun terus berlalu. Hingga di suatu hari, di suatu senja yang tiba-tiba memerah sepekat darah, kulihat tangan-tangan najis polisi begundal merenggut tubuh lunglaimu dari sebuah rumah sakit. (Aku harap semesta raya saat itu berteriak: Tabbat aydiihim! Tabbat aydiihim!!). Dan raga ringkihmu itu pun akhirnya mereka kurung di pengapnya penjara. Aku bilang “ragamu”, sebab jiwamu tetap merdeka, sebebas burung layang-layang dalam lagu Donna-Donna di atas. Buktinya, perlawananmu sedikitpun tidak berkurang, bahkan hingga ketika akhirnya mereka dengan berat hati melepaskanmu dari jeruji.

Selepasmu dari penjara, Allah kembali mempertemukan kita. Di Masjid yang sama. Kali ini aku berhasil mendapatkan rekaman orasimu. Utuh. Hmm..suaramu masih seperti yang dulu. Penuh tenaga. Seakan merupakan hasil tempaan selama ribuan tahun di jonggring salaka.

“Oleh karena itu saya selalu mengingatkan kalau wawancara dengan non muslim: kamu itu percuma mau memerangi islam. Percuma. Mesti kamu kalah. Yah, nggak mungkin menang. Wes, silahkan kamu mengeluarkan biaya yang buanyak. Mesti kalah”.

Dan kemarin engkau datang ke istana, dengan sepucuk surat dan sebuah buku untuk Presiden. Surat yang mengingatkan agar dia segera menerapkan syariah. Buku tentang pertarungan Musa melawan Firaun. Ah, darimana ide brilian itu kau dapatkan?

Sayang, para aparat tidak mengijinkanmu menghadap Presiden. Bahkan sekedar jubirnya pun tidak bisa kau temui. Alasannya: mereka sedang menyambut tamu. Badhawi, PM Malaysia. Huh, memangnya kau bukan tamu?! Kau pun menanggapinya dengan kalimat yang, lagi-lagi, penuh dengan tenaga. Seakan hasil tempaan selama ribuan tahun di jonggring salaka.

“Saya kecewa. Niatnya baik tapi tidak diterima. Ya nggak apa-apa. Semoga presiden diberi petunjuk Allah. Tapi saya lillahi taala. Mudah-mudahan nanti di akhirat ada alasan bagi saya di hadapan Allah bahwa sudah mengingatkan.”

Tak henti-hentinya kau mengajariku tentang merah-putih yang sebenarnya, yang bukan sekedar kain bendera. Terimakasih. Maka, kapankah kita akan bertemu lagi? Aku ingin memelukmu sepuasnya. Jika bukan di dunia, mungkinkah di Surga?

~ by ahmad nadhif on February 23, 2007.

2 Responses to “jonggring salaka”

  1. mas siapa yang di maksud?

    >> coba tebak sendiri dulu🙂

  2. emang tau jonggring salaka? sejarahnya?

    >> tanya mbah google or mbah wikipedia aja yah.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: