mereka mati dengan menampari kita

Diduga tak kuat menanggung beban persoalan ekonomi dan keluarga, seorang ibu beserta empat anaknya yang masih kecil bunuh diri dengan meminum racun potasium. Racun itu diduga dicampur dengan air, lalu diminumkan kepada keempat anaknya. Setelah anak-anaknya tewas, sang ibu menyusul meminum racun yang mematikan itu. Malang, Kompas, 12 Maret 2007

hingga saat ini saya meyakini bahwa ada begitu banyak cara untuk mengekspresikan cinta kasih. seorang ibu yang menaruh bayinya yang masih merah dalam sebuah kardus dan meletakkannya di depan rumah seseorang–hanya dengan seutas selimut dan sebotol susu–bukan berarti tidak menyayangi anaknya itu. justru itu adalah sebuah ekspresi cinta. dia tidak ingin anaknya hidup dengannya, bergumul dengan kemiskinan. dia ingin anaknya tumbuh di keluarga yang mapan secara ekonomi sehingga nanti ia dapat mencicipi bangku sekolah dan jika sakit selalu tersedia uang untuk membayar dokter.

ibunda musa membiarkan derasnya sungai nil membawa pergi bayi mungilnya. itupun, bukankah merupakan ekspresi cinta? maka, saya percaya ketika seorang sahabat mengatakan bahwa there are many ways to love somebody, terdapat banyak cara untuk mencintai seseorang.

seorang ibu bunuh diri setelah membunuh ke-empat anaknya sekaligus. adakah ini juga sebuah ekspresi cinta? bisa jadi, meski itu merupakan cara berekspresi yang (mungkin) salah.  hanya saja masalahnya tidak berhenti di sini. kalau benar himpitan ekonomi yang dijadikan alasan ibu muda itu untuk mengakhiri cerita hidupnya, dan juga anak-anaknya, maka ini adalah sekeras-kerasnya tamparan bagi kita: para tetangganya, warga sekotanya, ‘saudara sebangsa setanah airnya’. seakan dengan perbuatan nekatnya ini, ibu muda itu hendak mengatakan bahwa memang sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari kita.

saya sudah tinggal di malang hampir 8 tahun. terasa benar tamparan ini.

malang. kota dengan deretan istana di jl. ijen, retawu, wilis, pahlawan trip, dan entah mana lagi. kota dengan sekian banyak restauran mewah yang tidak pernah sepi pengunjung. kota dengan sekian banyak tempat hiburan yang selalu ramai. kota dengan masjid-masjid megah-indah-MAHAL-dan BANYAK yang kadang terasa lengang kecuali pada saat sholat jumat dan minggu pertama sholat tarawih. kota dengan sebagian penduduknya yang bisa menghabiskan uang untuk hal-hal yang kurang perlu. di kota ini, dua hari yang lalu, karena himpitan ekonomi, seorang ibu muda tega mengakhiri hidup keempat anak kandungnya yang lucu-lucu kemudian bunuh diri.

ah.

dan..
pemerintah yang abai terhadap kesejahteraan rakyatnya, yang memberikan hasil kekayaan negara justru pada para penjajah, yang sedikit-sedikit naik gaji sementara rakyatnya secara sistematis mereka miskinkan lewat naiknya harga BBM dan sejenisnya, yang hidup mewah di tengah-tengah penderitaan rakyatnya, apalagi yang harus dikatakan pada mereka?.

~ by ahmad nadhif on March 13, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: