jalan panjang (1)

Ahad, 26 Februari 1995. Untuk pertama kalinya, hari itu aku melakukan perjalanan kaki jarak jauh. Dari Kota Tuban menuju ke arah barat ke Desa Siding. Dan di sepanjang perjalanan ada Sutardi Lubis di sisiku, sahabat sehidup semati. Aku tidak tahu apa yang dipesannya saat itu, tapi aku memesan rasa lelah yang asing.

Kami berangkat saat jalanan masih gelap, dan sepi. Tapi kami sempat bertemu Nana, teman kelas kami, yang menunggu bis untuk mudik ke Rengel, kampung halamannya. Gadis cerewet tapi baik hati itu pasti bertanya-tanya: ngapain aja dua orang edan itu berjalan kaki agak tergesa. Aku hanya melemparkan sebuah senyum manis padanya. Tapi Sutardi, seperti biasanya jika bertemu seorang teman, sempet-sempetnya menghardikkan sapa: whoi, neng endhi whae iku?! (kami senang jika Nana mudik, karena ketika kembali ke sekolah pasti dia bagi-bagi kue bipang ke semua teman- kelas. Aku pernah main ke rumahnya. Ternyata rumahnya itu pabrik bipang! )

Berjalan berdua dengan Sutardi seperti tidak mengenal bosan. Ada saja yang kami candakan sepanjang perjalanan. Dasar, kami berdua memang mudah dibuat tertawa dan menertawakan apa saja. Bahkan, hanya sebuah nama desa di sebelah barat kota tuban cukup untuk membuat kami tertawa terpingkal-pingkal sekian waktu. Nama desa itu “Nggirsapi”. Entahlah, mengapa kata itu terdengar begitu lucu, bahkan hingga hari ini.

Jika kami mulai kehilangan bahan bakar tawa, Sutardi mengarang cerita dan kemudian mengisahkannya secara dramatis. Itu memang keahliannya. Salah satu kisah karangannya waktu itu yang membuat aku akhirnya memukulinya adalah kisah tentang Tanu. Dia bilang bahwa Tanu itu kebal dan sakti mandraguna. Pokoknya hebat luar biasa. Saking hebatnya, kata Sutardi, Tanu itu sama sekali tidak merasa kesakitan ketika dilindas truk, apalagi sekedar mobil kecil. Aku benar-benar dibuatnya melongo. Kupikir Tanu itu pemain debus atau sejenisnya. Nggak taunya Tanu itu adalah singkatan dari Ratan Jenu! Jenu adalah sebuah kota kecamatan yang sedang kami lalui saat itu. Ratan adalah the javanese for “road”, jalan. So, Tanu itu tak lain adalah Jalan di kota Jenu. Terang aja dia nggak kesakitan dilindas truk. Dilindas kapal terbang pun akan santai-santai aja. Dasar tukang usil! Buk! Buk! Praaang!!

Setelah Jenu, kami bertemu dengan hutan jati. Tapal batas di pinggir jalan sebelah kanan bertuliskan: tuban 15. Artinya, sudah 15 km kami berjalan kaki. Aneh, sama sekali belum capek.

Di hutan jati itulah kami bertemu dengan sejumlah anak-anak (lebih “anak-anak” daripada kami, yang juga masih tergolong anak-anak waktu itu. Wong kami masih duduk di smp kelas 2). Sepertinya mereka adalah penggembala kambing. Uniknya, anak-anak itu berteriak-teriak setiap kali ada kendaraan yang lewat. Mereka meminta botol air mineral yang sudah kosong dari para pengendara. Saat ada pengendara yang melemparkan botol kosong ke mereka, dengan riangnya mereka memperebutkannya. Waktu itu, air kemasan memang belum se-ngetrend sekarang. Apalagi bagi anak-anak hutan yang polos. Lihatlah, betapa girangnya mereka.

Tapi tidak semua mereka girang. Ada satu anak (yang paling kecil) yang terlihat murung. Kami baru tahu jika ternyata anak itu didhalimi oleh teman-temannya. Mereka tidak mengijinkan anak ini mendapatkan botol air. Duh, kasihan sekali. Kami menghampiri anak itu dan memberinya beberapa ratus perak (seingatku tiga ratus). Andai kau tahu betapa rona mukanya tiba-tiba menyinarkan seri. Saat itu kami tidak bisa membedakan antara memberi dan menerima. Karena, pada saat memberi, saat itu pula kami merasa menerima.

Keluar dari hutan, kami disusul oleh seorang pejalan kaki yang lain. Dia sendirian. Usianya sekitar 25 tahun. Pakaian lusuh, dengan tas gendong yang juga lusuh. Kepalanya diikat dengan kain yang aku lupa warnanya dan tangannya membawa tongkat, layaknya seorang pengembara zaman kerajaan majapahit. Sementara kakinya hanya beralaskan sendal jepit.

Kami pun akhirnya berjalan beriringan. Tentu saja pengembara itu harus sedikit memperlambat langkahnya agar aku dan Sutardi tidak tertinggal. Dan seperti yang mungkin sudah kau duga, obrolan tidak bisa lagi dihindarkan.

Namanya Iksan. Dia sedang menjalani sebuah misi agung: berziarah ke makam-makam walisongo dengan berjalan kaki. Dia mengawali ziarahnya dari makam Sunan Ampel di Surabaya kemudian ke Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, Sunan Bonang di Tuban, dan saat bertemu kami itu dia tengah menuju Ngadilangu, tempat dimakamkannya Sunan Kalijogo. Sebuah ekspresi cinta atas para pengemban dakwah Islam di tanah jawa (yang konon kebanyakan berdarah cina). Aku mendecakkan kagum di dada. Jalan kakiku dengan Sutardi tiba-tiba terasa kehilangan makna.

Ada yang unik sepanjang perjalanan dengan Mas Iksan. Beberapa kali Sutardi menemukan uang recehan di jalanan. Seratus-dua ratus perak. Seingatku itu terjadi lebih dari tiga kali. Mungkin tepatnya lima kali. Dan selalu saja oleh Sutardi uang-uang itu diberikan kepada Mas Iksan, yang kemudian menerimanya dengan senang hati.

Sekitar dua hingga tiga kilometer kami berjalan bersama, kami bertemu dengan warung. Aku dan Sutardi jadi merasa haus ingin minum es. Tapi Mas Iksan menolak dengan halus ketika kami mengajaknya mampir ke warung. Sepertinya ia tidak bisa berhenti berjalan. Sutardi pun membeli beberapa butir rokok di warung itu, memberikannya kepada Mas Iksan, dan mempersilahkannya meneruskan perjalanan. Kami saling bersalaman, mengucap terima kasih, dan meminta maaf. Selamat jalan Mas Iksan.

Sehabis minum es, kami cepat-cepat melanjutkan lagi perjalanan, berharap bisa menyusul Mas Iksan. Tapi jangankan menyusul, melihatnya dari kejauhan pun tidak kesampaian. Apakah ia berjalan secepat angin? Entahlah. Aku dan Sutardi pun kembali berdua. Kali ini tawa sudah banyak berkurang. Kami serius membincangkan “hilangnya” Mas Iksan dan niat bajanya berjalan kaki sebegitu jauhnya.

Sekitar pukul 12.30, kami menunaikan sholat duhur di sebuah masjid sebelah kanan jalan. Desa Sobontoro. Seingatku, tapal batas waktu itu menunjukkan angka 28 atau 29 untuk kota tuban. Rasa lelah sudah sejak tadi menggerogoti tubuh kami. Apalagi matahari begitu terik. Pengennya rebahan agak lama di masjid sampai tertidur pulas. Tapi apa daya, perjalanan masih panjang. Kami pun kembali berjalan. Agak gontai.

Sekitar kilometer 32, sinar matahari terasa melemah dan melemah. Dan hai! Langit di sebelah selatan terlihat begitu gelap dengan awan hitam yang menggantung berat. Dan, masyaAllah, kami melihat tumpahan garis-garis hitam di sana. Seperti barisan air terjun. Itu pasti hujan yang sangat lebat. Kami mulai khawatir. Tepatnya takut. Kalau sampai perjalanan terhenti oleh hujan, bisa-bisa nyampe Siding malam hari.

Setelah berunding agak lama, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan naik mobil angkutan desa. Kami duduk di jok paling belakang. Terus terang, rasanya sangat nyaman. Beda dengan naik mobil sebelum sebelumnya.

Di samping karena takut hujan, dengan naik mobil, kami berharap kami bisa melihat kembali Mas Iksan. Tapi nihil. Mas Iksan benar-benar hilang.

Sekian menit kami berada dalam mobil, hingga akhirnya kami turun di Desa Layur. Dari sana, Desa Siding masih sekitar tiga kilometer lagi ke arah selatan. Kami pun berjalan kaki lagi. Kali ini di atas jalanan makadam yang membelah area persawahan. Langit di atas kami semakin gelap, tapi hujan belum turun.

Akhirnya kami sampai juga di Siding. Ini adalah kampung halaman Sutardi. Ia lahir dan dibesarkan di sini. Keluarganya, secara turun temurun, adalah lurah di desa ini. Ayahandanya sudah meninggal. Saat kami datang itu, yang menjabat lurah adalah Mas sutrisno, kakak sulungnya. Amboi, ternyata sahabatku itu adalah keturunan “ningrat”.

Sesampai di rumah, kami hanya berhenti sebentar untuk menaruh barang-barang bawaan untuk kemudian berjalan kaki lagi menuju sawah. Sutardi menjanjikan jagung bakar di sana. Asyiik. Tapi langit semakin gelap. Orang-orang terlihat bergegas pulang dari sawah. Hanya kami berdua yang malah menuju sawah. Tapi tekad sudah bulat: kehujanan nggak apa-apa. Yang penting bisa makan jagung bakar!

Sampai di sawah, suasana terasa sepi. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya padi, jagung, tanaman-tanaman lain, dan pepohonan. Tidak tampak seorang pun manusia. Hanya aku dan Sutardi. Sepi. Juga sedikit seram. Nggak apa-apa, hiburku pada diri sendiri. Ini pengalaman unik.

Di sawah milik keluarga Sutardi terdapat sebuah gubuk agak reot. Di situlah kami membuat perapian setelah mengumpulkan setumpuk ranting kering dan beberapa buah jagung muda langsung dari pohonnya. Ada ceria di hati kami.

Hujan mulai turun ketika api kami nyalakan. Semakin lama semakin deras. Akhirnya sangat deras. Sangat deras. Air seperti ditumpahkan begitu saja dari langit. Kilat menyambar-nyambar. Halilintar meledak berkali-kali. Sementara angin dengan dashyatnya menghantam apa saja. Batang-batang jagung meliuk-liuk nggak karuan. Begitu juga dengan pepadian dan ranting-ranting pohon. Mungkin badai hujan seperti ini yang tadi tampak seperti barisan air terjun di langit selatan. Untungnya, berkat dinding gubug yang masih bisa menahan angin, perapian kami masih bisa bertahan hidup, sehingga jagung-jagung masih bisa dibakar. Kami pun bisa makan jagung bakar dengan lahapnya. Rasa lezat dan rasa ngeri berpadu menjadi satu.

Dengan basah kuyup, kami pulang menerjang badai hujan. Sholat ashar kemudian istirahat panjang.

Malam harinya, hingga larut kami berdua ngobrol tentang apa saja, termasuk tentang Rina, gebetan Sutardi yang usianya beberapa tahun lebih tua dari kami. Dasar bocah!

Besoknya, senin 27 februari 1995, baru terasa rasa pegel linu di kaki. Hari itu sebenarnya tanggal merah. Libur maulid nabi. Tapi aku harus kembali ke tuban untuk menghadiri peringatan kelahiran Rasulullah itu di pendopo kabupaten. Saat itulah aku seperti menyesal mengapa harus menjadi ketua OSIS MTs Negeri Tuban. Mestinya aku bisa tinggal sehari lagi di Siding. Tapi tak apalah, namanya juga latihan bertanggung jawab.

Pagi-pagi sekali aku diantar Sutardi ke Layur dengan sepeda motor. Pakaianku yang basah aku tinggal di rumahnya. Dia berjanji akan mencucinya dan membawanya ke Tuban hari selasa. So sweet.

Dengan mobil angkutan umum, aku meluncur ke tuban. Sekitar pukul 8.30 aku sampai di pendopo kabupaten. Inilah pendopo yang kelak di tahun 2006 dibakar oleh massa yang tidak puas dengan hasil pilkada.

Acara peringatan maulid nabi dimulai sekitar pukul 9.00. Para pengurus OSIS dari hampir semua sekolah (SMP-SMA) di Tuban tampak khidmat mengikuti acara. Tapi aku, jiwaku sepertinya masih di Siding bersama Sutardi, menikmati rasa lelah yang asing yang aku pesan.

~ by ahmad nadhif on April 4, 2007.

One Response to “jalan panjang (1)”

  1. kmu kenal nana juga anak rengel itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: