iran oh iran

Seseorang tidak perlu menjadi pakar hubungan internasional untuk bisa memahami mengapa Iran—negara yang sudah dicap sebagai salah satu anggota axis of evil, yang dikelilingi oleh pasukan Amerika dan Israel-pemegang senjata pemusnah massal— berniat memiliki senjata nuklir. Tidak sebagaimana klaim banyak orang di Barat, senjata itu tidak digunakan untuk mengancam apalagi menyerang negara-negara tetangganya (buat apa coba? kalau pun iya, mengapa Israel yang dari dulu melancarkan agresi ke palestina dan lebanon tidak dipermasalahkan juga?! Dasar penganut demokrasi!!), melainkan untuk mempertahankan diri secara rasional dari agresi Amerika dan Israel yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Ini adalah alasan yang sama dengan yang digunakan NATO atas kepemilikan senjata nuklirnya pada masa perang dingin ketika dihadapkan pada ancaman Uni Soviet.

Siapakah yang akan melindungi Iran jika sewaktu-waktu digempur Amerika–yang menganggapnya sebagai poros setan itu– dan Israel, dua negara yang memiliki senjata nuklir? Apakah PBB? Apakah organisasi terbesar di dunia ini akan mengeluarkan resolusi Dewan Keamanan yang akan memaksa Amerika menahan serangannya? Mungkinkah itu bisa dilakukan sementara Amerika adalah negara pemegang hak veto, yang berhak membatalkan semua resolusi DK?! Tidak mungkin. Lihatlah, PBB tidak bisa berbuat apa-apa atas kebrutalan Amerika di Irak dan keangkaramurkaan Israel di palestina. Maka dengan begitu, memiliki senjata nuklir bagi Iran adalah keinginan sekaligus kebutuhan yang sangat mudah bisa dipahami. Ini selaras dengan pernyataan seorang petinggi India ketika di akhir perang teluk I ia ditanya mengenai pelajaran apa yang bisa dia ambil setelah mengamati perang tersebut. Dia menyimpulkan,

“Don’t fight the Americans without nuclear weapons.”*

Tapi DK PBB meresolusi Iran dan Indonesia mendukungnya.

Yusuf Kalla mengatakan bahwa di KTT Liga Arab, tidak ada satu pun pemimpin negara timur tengah sana yang memprotes persetujuan Indonesia atas resolusi DK, seakan jika para pemimpin dunia arab tidak protes maka keputusan Indonesia pasti benar. Orang ini seakan tidak tahu bahwa penguasa-penguasa arab itu adalah para pengkhianat umat Islam, baik mereka sadar atau tidak. Memangnya Amerika bisa menghancurkan Irak dengan mudah andai tanpa dibantu Arab saudi, kuwait, dan qatar dengan menyediakan pangkalan militer untuk mereka? Memangnya Israel bisa sewenang-wenang di palestina andai para penguasa Mesir, Yordania, dan Suriah tidak diam saja melihat kedhaliman itu berlangsung di depan mata mereka?! Maka perlu diketahui oleh Yusuf kalla, bahwa para pemimpin arab sudah biasa menutup mata pada kedhaliman, bahkan kadang malah mendukungnya. Maka jika mereka juga diam saja atas persetujuan Indonesia terhadap resolusi PBB 1747, jangan jadikan itu sebagai alat pembenaran. Terdengar konyol dan menggelikan.

Pemerintah juga dengan bangganya menyatakan bahwa Indonesia berhasil memasukkan poin penting dalam isi resolusi itu, yaitu bahwa kawasan timur tengah harus bersih dari senjata nuklir. Dengan begitu, diharapkan bahwa israel juga akan dilucuti senjata nuklirnya. Ah, kerinduan pungguk pada rembulan. Ingat, meskipun keputusan DK PBB itu mengikat (tidak sebagaimana resolusi majelis umum), PBB tidak mempunyai pasukan sendiri yang bisa digunakan untuk menghajar negara-negara yang membangkang resolusinya. Pasukan PBB itu terdiri dari negara-negara anggota. Jika tidak ada negara anggota yang mau mengirim pasukan untuk memastikan resolusi DK benar-benar ditaati, maka PBB pun tidak bisa berbuat apa-apa. Amerika sekarang sudah bersiap-siap menyerang Iran menyusul dikeluarkannya resolusi 1747. Maka negara manakah yang akan mempersiapkan perang melawan Israel untuk melucuti senjata nuklirnya? Apakah Indonesia? Ha ha ha.

Tak kalah konyol adalah pernyataan tadi malam Rizal Malarangeng, MODERATOR acara Save Our Nation di Metro TV yang selalu memotong pembicaraan dan mendebat narasumber yang dianggapnya salah. Dia mencela rencana DPR untuk menginterpelasi keputusan pemerintah mendukung resolusi 1747 dengan mengatakan bahwa mestinya kita mengurusi saja kepentingan nasional dan tidak perlu ribet dengan urusan bangsa lain. Kalau pemikiran sempit individualistik ini dianggap benar oleh Rizal, mestinya dia memarahi dulu pemerintah yang ikut menyetujui resolusi atas Iran. Iran mau mengembangkan senjata nuklir atau tidak, bukankah itu adalah urusan Iran dan tidak ada kaitannya dengan kepentingan nasional kita?! ya, tho?

Beginilah nasib rakyat Islam ketika khilafah tidak ada.

*Quoted by Patrick J. Garrity, “Why the Gulf War Still Matters: Foreign Perspectives on the War and the Future of International Security” Report No. 16 (Center for National Security Studies) p. xiv, July 1993

~ by ahmad nadhif on April 4, 2007.

One Response to “iran oh iran”

  1. pengkhianatan para pemimpin timur tengah di KTT liga arab itu bisa dilihat di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: