majalah-majalah pertama

Untuk ukuran kampung halamanku, yang sangat terpencil itu, akhir tahun 80-an, majalah adalah barang mewah. Dan berikut ini adalah dua majalah pertama yang aku baca. Aku lupa mana yang lebih dulu: majalah Kuncup pemberian seorang tamu ataukah majalah bekas di rumah buyut Tasri. Namun berdasarkan kualitas ingatanku akan dua majalah itu, sepertinya majalah kuncup adalah majalah yang pertama kubaca.

Majalah Kuncup

Majalah Kuncup aku dapatkan dari seorang guru fisika MTs Muhammadiyah bernama Abdul Mujib (rahimahullaah, wa ghafara lahu dzunuubahu). Dia datang pada suatu malam ke rumah, entah ada keperluan apa dengan embah. Mereka berbincang lama sekali. Saat pamit pulang, ia menghadiahiku majalah itu. Aku tidak tahu apakah majalah itu memang dari awal dia hendak berikan padaku atau niatnya untuk memberi itu datang tiba-tiba karena tidak tega melihatku terus saja menatap lekat pada majalah yang dibawanya dengan posisi tertekuk itu. He he. Yang jelas, waktu itu aku merasa sangat senang sekali menerimanya.

Tidak banyak yang bisa kuingat dari majalah itu, kecuali hanya sebuah potongan cerita bergambar yang nama tokohnya aku pun sudah lupa. Kisahnya, seorang anak kecil terkagum-kagum dengan kupu-kupu. Ia mengikuti kemanapun kupu-kupu itu terbang untuk menangkapnya, hingga akhirnya ia jatuh menggelinding ke dalam sebuah jurang. Nah, kata “menggelinding” itulah yang waktu itu membuatku penasaran setengah mati. Apa maksudnya?! Tidak ada tempat bertanya. Kakek-nenek mana mungkin tahu. Maka aku mencoba berusaha sendiri. Aku pun menghubungkan kata “menggelinding” itu dengan kata “gelinding”. Celakanya, kata terakhir ini di desaku berarti cikar, yaitu kendaraan semacam gerobak besar untuk mengangkut hasil sawah yang ditarik dua ekor sapi. Maka, jatuh menggelinding ke jurang berarti mengendarai cikar ke dalam jurang dan kemudian cikarnya jatuh terguling. Yang jadi pertanyaanku waktu itu: mengapa tidak ada gambar cikar?! Begitulah salah kapahku dalam memahami cerita itu. Payah!

Majalah di rumah buyut Tasri

Majalah berikutnya adalah yang kutemukan di rumah buyut Tasri (ibunya nenek). Majalah itu tampak lusuh, kertasnya menguning agak kecoklatan, dan berbau tengik. Sampulnya sudah tidak ada. Bahkan ada halamannya yang robek. Aku lupa, tepatnya tidak tahu, apa nama majalah itu, tapi beberapa isinya masih kuingat: iklan rexona, dua buah cerpen, dan sebuah kisah berlatar belakang pembantaian massal.

Iklan rexonalah yang paling gampang kuingat di antara semuanya. Sebab, ia hanya memakan satu halaman dan itupun sebagian besarnya adalah gambar (yaitu gambar produk dan gambar wanita). Di bagian bawah terdapat tulisan yang dicetak dalam huruf berukuran besar dan berbentuk meliuk-liuk seperti ular. Bunyinya: setia setiap saat. Saat itu aku sudah bisa memahami apa arti kata setia. Mungkin waktu itu aku sudah duduk di kelas 2 atau 3 MI. Yang aku tidak tahu adalah: rexona itu obat apa? He he.

Selanjutnya tentang dua buah cerpen itu. Cerpen yang pertama aku lupa judulnya. Tapi nama dua tokohnya aku masih ingat: amri, seorang pemuda pengangguran yang secara ekonomi belum mapan dan tentu saja tidak menjanjikan untuk dijadikan suami, dan uda (ini hanya nama panggilan, nama aslinya aku juga lupa), seorang duda kaya raya dengan beberapa anak yang baru ditinggal mati isterinya. Cerpen ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, yaitu seorang gadis. Gadis ini adalah pacar amri. Kondisi finansial amri yang pas-pasan akhirnya membuat sang gadis meninggalkannya. “Tokoh aku” ini menghabiskan sekian banyak waktu untuk menjelaskan kepada amri mengapa dia membuat keputusan itu. Amri sulit menerima, tapi ia berusaha mengerti.

Gadis itu kemudian menikah dengan uda. Awalnya ia merasa bahagia. Ia menikmati fasilitas yang begitu mewah untuk ukuran dirinya. Ia merasa senang sekali ketika uda mengajarinya mengendarai mobil agar bisa mengantar anak-anak tirinya ke sekolah. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa selama ini sumber penghasilan keluarga uda adalah pekerjaan mendiang isterinya. Ketika isterinya itu meninggal, putuslah mata pencaharian. Sedikit demi sedikit keluarga itupun berangsur-angsur miskin.

Suatu hari, ketika “tokoh aku” mengantar anak-anak tirinya ke sekolah, ia bertemu amri. Lelaki itu menaiki sebuah sepeda motor. Ia tampak agak gemuk dan wajahnya sumringah. Ia menghampiri “tokoh aku” dan bercerita bahwa ia sudah mulai mendapat pekerjaan dan hidupnya sedikit bertambah sejahtera. Kesimpulanku waktu itu, “tokoh aku” diam-diam menyesali keputusannya untuk meninggalkan pemuda itu.

Cerpen yang kedua berjudul Namanya Inka. Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang bercerita panjang lebar tentang seorang anak laki-lakinya. Ia merasa waktu berjalan begitu cepat. Seakan baru beberapa hari sebelumnya putranya itu masih digendongnya, eh sekarang sudah beranjak dewasa. Si ibu banyak mengurai sejarah hidup putranya itu, dari anak-anak hingga melewati masa remaja.

Peristiwa terakhir yang dia ceritakan adalah ketika beberapa hari sebelumnya putranya itu datang menghadap, menunjukkan sebuah foto berisi gambar teman-teman putrinya di kampus. Putranya itupun bertanya,

“ibu pilih yang mana?” si ibu membiarkan saja ketika putranya itu meraih jari telunjuknya untuk dituntunnya menelusuri wajah sekian gadis di dalam foto, hingga akhirnya si ibu merasa sang putra setengah memaksanya menghentikan jari telunjuk di sebuah wajah cantik.

“oh, yang ini ya, bu?” tanya anaknya penuh gembira. Sang ibu tidak bereaksi apa-apa, tetapi lelaki kecilnya itu kemudian melanjutkan,

“namanya inka”. Dan cerpen asyik itu pun berakhir di situ.

Tentang cerita berlatar pembantaian massal, aku sudah banyak yang lupa. Yang kuingat hanya ini: mayat-mayat bertumpuk dan dua buah nama: gabriel dan ferguson. Mungkinkah itu adalah kisah holocaust nazi atas yahudi, yang katanya menewaskan 6 juta orang itu? Aku tidak tahu. Waktu itu aku tidak begitu paham dengan isi ceritanya, dan memang tidak tertarik. Aku membacanya hanya karena tidak ada bahan bacaan lain.

Itulah dua majalah pertama yang aku baca. Jika penulis cergam di majalah Kuncup dan cerpen-cerpen di majalah “tanpa nama” itu membaca tulisan ini, mohon dengan sangat untuk memperkenalkan diri dan memberikan alamat email atau no HP. Saya ingin mengucapkan banyak terimakasih.

~ by ahmad nadhif on April 23, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: