mbah sul wafat

“mbah sul wafat”

itu sms kamil barusan, membuatku shock. bagaimana tidak, delapan hari yang lalu kami masih terlibat pembicaraan yang diselingi senyum dan tawa. tapi memang begitulah, kematian sering datang begitu tiba-tiba.

aku dan adhek-adhek memanggilnya mbah sul. lengkapnya mbah samsul. umurnya kutaksir belum ada 60 tahun. dia tinggal dua rumah di sebelah selatan rumah kami. beberapa tahun ini kakinya membusuk berlubang dan tak kunjung sembuh. praktis tidak bisa berjalan. aku pikir itu kencing manis, tapi kata mbah sul bukan. para dokter pun, katanya, tidak tahu apa penyebab sakitnya itu.

saat mudik delapan hari yang lalu, aku dan nenek bermaksud mengunjunginya. tapi demi melihat rumahnya tertutup, kami mengurungkan niat dan kemudian pergi dulu ke kebun untuk membersihkan benalu-benalu yang menggerogoti lima pohon mangga kami. pulangnya, rumah mbah sul sudah terbuka. tanpa mandi dulu padahal sekujur badan gatal banget karena diserbu pasukan semut penghuni pohon mangga, aku dan nenek menjenguknya. mbah sul terlihat duduk di atas kasur yang digelar dilantai. dia tersenyum dan berkomentar meledekku.

“wong kate mrene wae athik njaluk ter mbah buk”. (mau ke sini aja kok minta diantar nenek).

aku hanya tersenyum. memang mestinya aku cukup datang sendiri karena nenek sudah bolak balik ke sana. tapi mau gimana lagi, aku dan nenek sudah terlalu terbiasa untuk mengerjakan berbagai hal bersama-sama.

mbah sul banyak bercerita tentang sakitnya itu. tentang berbagai jenis obat dari yang rasional hingga yang irasional yang pernah dikonsumsinya tapi tidak juga membuahkan hasil. aku dan nenek hanya bisa mengingatkan kalau apa yang sedang dialaminya itu merupakan ujian dari Allah. dia mengamininya.

setelah itu, mbah sul banyak mengurai cerita tentang masa-masa sehatnya. saat dia masih bekerja di sebuah pabrik di surabaya. saat dia sering ditugaskan di lumajang dan karenanya dia begitu mengenal daerah itu. saat semuanya masih begitu mudah dilakukan. dia banyak mengulas senyum, juga menebar tawa, saat menuturkan ceritanya itu. seperti ada bangga dan kepuasan yang disimpannya.

sejenak aku pun terbawa ke masa lalu. saat aku masih kecil, mbah sul memang hanya sekitar sebulan sekali pulang karena bekerja di surabaya. itupun hanya beberapa hari saja di rumah. dan biasanya dia membawa truk berukuran sangat besar, yang membuatku terkagum-kagum. mbah sul tampak gagah sekali dengan truk besar itu. dua anaknya, paklik iwan dan paklik hendik, terlihat senang sekali setiap bapak mereka datang. itulah sekelumit kenangan akan masa sehat mbah sul. kini, semuanya sudah berubah.

yang kusesali, hanya sekitar 20 menit kami berbincang. aku terpaksa pamit pulang saat merasa tidak kuat lagi menahan rasa gatal di tubuhku. entah sudah berapa belas ekor semut hitam yang kuambil dari balik kaos untuk kupindahkan ke kain celana. dan lenganku selain terasa gatal juga panas. itu karena aku sempat nyentil ulat berbulu. tapi andai tahu umur mbah sul tinggal seminggu lagi, akan aku tahan rasa gatal dan panas itu. atau, pulang sebentar dan setelah membersihkan badan dan berboreh minyak tanah untuk menghilangkan dampak bulu ulat yang semakin menyebar ke sekujur tubuh sehabis mandi, aku akan balik lagi ke mbah sul. dan aku tidak akan cepat-cepat balik ke malang agar bisa menungguinya sampai detik-detik terakhir kehidupannya. tetapi begitulah, hanya Dia yang tahu kapan ajal datang.

saat hendak kutinggalkan, mbah sul merebahkan tubuhnya yang demikian kurus itu di atas kasur. kusalami tangannya yang dingin tak bertenaga. itulah saat terakhir aku melihatnya.

Allahumma ihgfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan menerima semua amal baikmu, mbah sul.

~ by ahmad nadhif on June 15, 2007.

One Response to “mbah sul wafat”

  1. Kita tidak bisa bersembunyi dari kematian. Jika ajal telah datang menjemput, tak ada lagi yang bisa menolong.

    —————–
    iya, tidak ada yang lebih perkasa daripada kematian selain penciptanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: