teror ro jreng tero jreng

Sejarah bakal mencatat, bahwa di akhir masa kekuasan kapitalisme dan detik-detik kebangkitan Islam sekarang ini, kaum kapitalis menggunakan cara-cara konyol untuk mengulur-ulur kekalahannya. Salah satunya adalah dengan isu terorisme. Merasa kalah dalam melawan Islam secara jantan lewat perang pemikiran yang jujur dan bersih, kaum kapitalis mengeluarkan jurus “lempar batu sembunyi tangan” atau yang dikenal di dunia intelijen sebagai teknik “false flag”, sebuah cara licik dimana seorang pecundang membuat ulah yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak akan menyangka bahwa pelakunya adalah orang lain yang merupakan musuhnya.

Agar cara-bertarung yang busuk ini lebih gamblang, dengarlah sebuah kisah dari negeri antaberantah berikut ini.

Dulu, ada seorang kepala negara yang memerintah dengan angkara murka. Meski kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar manis di telinga rakyatnya, sesungguhnya dia adalah penipu sekaligus pengkhianat. Sekelompok tentara kemudian membelot dan membongkar kepada rakyat kejahatan-kejahatan sang kepala negara. Tidak hanya itu, kelompok tentara tadi juga berusaha mengumpulkan dukungan untuk merontokkan kepala negara dari kursi kekuasaannya. Rakyat pun, setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi, kemudian mendukung kelompok tentara ini. Kekuasaan kepala negara tak ayal berada berada di ujung tanduk. Maka dia kemudian mengambil langkah busuk, yaitu memerintahkan sejumlah anak buahnya untuk memakai seragam kelompok tentara pembelot. Tentara-tentara samaran ini kemudian ditugasi untuk membakari rumah warga, merampasi harta benda mereka, membongkari rel-rel kereta api, dan sejumlah tindakan bengis lainnya. Besoknya, kepala negara berpidato kepada rakyatnya, menjelaskan bahwa para tentara pembelot tidak layak didukung karena bukti-bukti sudah jelas bahwa mereka sejatinya adalah kumpulan orang-orang tidak bermoral!

Begitulah teknik false flag dilakukan, dan inilah yang diduga sangat kuat sedang dimainkan kaum kapitalis lewat isu terorisme, dengan Amerika sebagai gembongnya.

Rumor (lebih tepatnya fakta) bahwa CIA-lah, dan bukannya para “teroris”, yang meledakkan WTC saat ini berkembang pesat. Cobalah masuk ke situs Google.com lalu ketiklah frasa “World Trade Center conspiracy”, maka Anda akan dihubungkan ke lebih dari 600 ribu situs web. Lebih dari 3.000 buku soal “September Kelabu” sudah diterbitkan. Sebagian besar di antaranya melawan keyakinan Washington: para pembajak, yang dikaitkan dengan Usamah bin Ladin dan Al-Qaidah, itu menumbukkan pesawat terbang komersial ke sejumlah situs kebanggaan bangsa Amerika! Mereka meyakini bahwa WTC sebenarnya diledakkan dengan bom penghancur gedung dan Pentagon dihantam dengan sebuah misil. Bukti-buktinya terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

Tidak mengherankan jika pada peringatan tragedi 911 pada september 2006 lalu, di tengah khidmat-nya George W. Bush dan anak buahnya mengheningkan cipta, sejumlah besar demonstran menggelar aksi. Mereka membawa berbagai poster dan spanduk. Salah satu spanduk itu berbunyi: BUSH REGIME ENGINEERED 9/11 (REZIM BUSH TELAH MEREKAYASA SERANGAN 9/11).

Kalau peledakan WTC yang begitu besar itu saja direkayasa, tidakkah logis jika kita menduga bahwa aksi-aksi terorisme di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, adalah bagian dari rekayasa itu? Dan bukankah fakta juga membuktikan bahwa pihak yang paling diuntungkan dari adanya aksi-aksi teror tersebut adalah Amerika?

Sejumlah kejanggalan bisa kita lihat dengan kasat mata dari aksi-aksi peledakan di negeri ini. Di Bom Bali 1 misalnya, Imam Samudera mengaku heran bagaimana mungkin ledakan bomnya bisa sebesar itu. Para pakar, seperti Joe Viall di Australia, meyakini bahwa bom bali 1 terbuat dari mikro nuklir, sebuah bahan peledak yang secara ekslusif hanya dimiliki 5 negara di dunia ini dan tidak mungkin bisa dapatkan oleh kelompok ndeso Amrozi cs. Amien Rais pernah menantang para “teroris” bom bali 1 itu untuk sekali lagi membuat bom yang serupa agar bisa disaksikan orang banyak bahwa mereka memang memiliki ketrampilan itu, tapi usul brilian ini tidak diindahkan para polisi. Entah kenapa.

Yang tidak kalah anehnya adalah sikap para teroris yang tertangkap. Sebelum tertangkap mereka itu dikesankan sebagai orang-orang militan yang rela mati demi sebuah ideologi. Tapi lihatlah setelah dikeler ke penjara, betapa mudahnya mereka, HAMPIR SEMUANYA!, membocorkan rahasia organisasinya kepada khalayak. Tidakkah ini mengherankan, Saudara? Anggota komplotan perampok saja, jika tertangkap, banyak yang masih melindungi kelompoknya dari kejaran polisi, kok ini ada organisasi teroris militan dengan sistem sel rapi yang para anggotanya ternyata hanyalah “teroris-teroris” lembek yang begitu gampang mencampakkan cita-cita perjuangan ke tong sampah!

Abu Dujana, pemimpin “teroris” yang baru saja tertangkap, dalam hitungan hari sudah mengobral rahasia gerakan dengan mengatakan bahwa pemimpinnya adalah orang ini orang itu. Benar-benar tidak sumbut dengan imej seramnya selama ini, sama dengan para pendahulu-pendahulunya. Ini aneh dan semakin memperkuat dugaan bahwa memang sedikit banyak ada rekayasa dalam gerakan-gerakan teror selama ini.

Yang rela mati di antara mereka ternyata hanya para anggota tingkat bawah semacam Misno dkk di bom bali 2. Pemimpin-pemimpin dan kawan-kawan seperjuangan mereka jebulnya adalah orang-orang letoy yang gampang menyerah dan sepertinya sudah lupa dengan janji-janji surga dan bidadari yang kabarnya menjadi pendorong gerak rela mati para anggota organisasi. Kenapa kok begitu? Mungkinkah ini karena mereka “tahu” dan orang-orang seperti Misno itu “tidak tahu” akan tujuan sebenarnya dari organisasi? Wallahu a’lam. Nanti di akhirat kita akan tahu yang sesungguhnya terjadi, inshaAllah.

Lalu apa yang diinginkan oleh kekuatan di balik rekayasa teror ini? Jelas: pencitraburukan terhadap Islam, persis seperti tujuan kepala negara antah berantah yang saya ceritakan di paragraf 2 di atas. Jamaah Islamiyah, misalnya, disifati Australia lewat John Howard sebagai gerakan yang bercita-cita menegakkan Negara Islam di Asia Tenggara. Tony Blair, sesaat setelah tragedi bom 7 juli di London, juga mengatakan bahwa para teroris adalah mereka yang ingin membangun The Caliphate. Sementara Bush, dalam pidatonya bulan oktober tahun 2005, menyatakan bahwa cita-cita para teroris adalah menegakkan kembali Islamic Imperium. Dengan demikian, mereka berusaha menggiring penduduk dunia untuk mengambil kesimpulan bahwa kaum muslim yang berjuang untuk tegaknya Daulah Khilafah (yang mereka sebut Negara Islam, the Caliphate, dan Islamic Imperium) adalah para teroris tak berperikemanusiaan. Begitulah, bukannya menghadapi ide seruan penegakan khilafah dengan argumentasi intelektual tapi malah lari dari gelanggang perang pemikiran dan menakut-nakuti orang akan ide khilafah sebelum mereka tahu apa itu khilafah. Ini dalam ilmu logika dikenal sebagai fallacy of poisoning the well, wujud dari kepengecutan mental pelakunya.

Cara busuk seperti ini, untuk sementara memang terlihat efektif, tapi tidak untuk jangka panjang. Kelak, dunia akan tahu betapa bancinya kaum kapitalis Barat dalam perang menghadapi kebangkitan Islam. Dunia kelak juga akan tahu siapa-siapa di kalangan penguasa kaum muslim yang mengkhianati rakyatnya sendiri dengan ikut menyukseskan kampanye Barat dalam perang-perangan melawan terorisme ini demi mendapatkan imbalan yang sedikit. Dan dunia kelak juga akan tahu, bahwa usaha mereka itu hanyalah akan berakhir dengan kesia-siaan. Islam akan tetap datang, seiring dengan tegaknya Daulah Khilafah. Dan pada akhirnya, Kapitalisme hanya tinggal nama. InshaAllah itu tidak lama lagi.

~ by ahmad nadhif on June 19, 2007.

3 Responses to “teror ro jreng tero jreng”

  1. Hooh.. Yg aneh, trend JI seperti sebuah siklus, ketika masyarakat tidak lagi “heboh” dengan kampanye anti-teroris, tiba2 ada kabar dari JI lagi.. hoho long time no see🙂

    atau kita justru suka -bahkan larut dalam jalan cerita- sinetron-murahan-anti-islam ini? yg paling bego, klo kita juga mw dikibuli dengan jalan cerita gak mutu kyk sekarang.

    *Maap nih, sy nge-link blognya tanpa ijin..🙂 Gak tau mw shout dimana*

  2. waduh, masku yang satu ini emang kayaknya udah ga bisa nulis gaul lagi! kalo blogku yg insomnia itu cm sekedar strategi utk, hmmmm…. ya, tau sendiri lah!

  3. dunia ini penuh teror dan iming-iming terutama agama sebagai kedoknya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: