teringat udin

suatu sore, tanggal 16 agustus 2007, dalam perjalanan menuju tuluangung utk nyambangai mas imran yang baru nikah, aku tenggelam dalam “buku terlarang” (daftar indeks no. 9876543210, salah satu dari Naskah-naskah Bawah Tanah, yang ditemukan Sukardal di lantai -20 [baca: minus 20] gedung pencakar bumi Museum Bank Naskah Nasional) yang entah sudah untuk yang ke berapa kalinya aku baca. sesekali mataku kuangkat utk memperhatikan sekeliling, terutama pemandangan di luar bis. ketika mataku menangkap beberapa org yang sedang sibuk latihan upacara di depan sebuah kantor pemerintahan, tiba-tiba aku teringat masa-masa SMA, terutama tentang kejadian-kejadian yang berkaitan dengan upacara. aku teringat bagaimana ustad muhayyan, the dumbledore of MAPK dormitory, biasa menyisir asrama utk menghalau anak-anak yang kedapatan mangkir, bolos upacara. di antara anak-anak bengal itu hampir selalu ada sholehuddin dan …aku! ah, bengalnya kami. saking bengalnya, tidak layak diceritakan di sini. ntar malah jadi inspirasi bagi orang-orang yang ada bakat mbeling di dalam jiwanya.

puas melamun, aku kembali menekuri “buku terlarang”. beberapa saat kemudian, hpku bergetar. sebuah sms masuk, atas nama “kethang hp”. kethang adalah “nama sayang” sholehuddin di SMA. berikut adalah transkrip sms-nya, yang kubalesi sekedarnya.

dia : M E R D E K A

aku : ATAU MATI?

dia : mati. lbh uenak. piye kbre peno. mboh aq kok tb2 eleng awakmu. kpn kr2 aq iso ktmu awk. kangen bgt nich. emmuach…

aku : bbrapa saat sblm peno sms, aq nglamunin saat qt dikejar2 tad muhayyan utk upacara. ini gr2 td liat ada org2 latihan upcra. smg bln dpn qt bs brtemu.

dia : sma. td aq liat ada org gila snior d pgar lpangan. dia liat org yg lthn upcr d lpngn trsbt. jd dech aq ingt kmu.

din, smg bulan depan kita benar-benar bisa bertemu. sebenarnya aku ingin sekali naik kapal feri lagi bersamamu, naik ke atas atapnya, dan menikmati matahari yang tenggelam di ujung laut, seperti dulu. juga, aku ingin kembali naik ke puncak mercusuar dekat rumahmu itu, utk memandangi kapal-kapal yang melintasi laut jawa. ah, bagaimana ya seandainya naik ke mercusuarnya itu pas tengah malam saat bulan sedang sepurnama-purnamanya… laut pasti begitu indah. di saat seperti itu, meski sejenak, aku yakin kita bisa lupa bahwa kita ini adalah orang-orang bengal, yang menganggap setiap orang gila sebagai “senior”.

~ by ahmad nadhif on August 23, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: