sehari di ranu pani

ranu-pani-jauhhh.jpg
ranu pani dari punggung ayek-ayek

Fiuhh! Baru pulang dari ranu regulo, gunung ayek-ayek, dan ranu kumbolo. tidak seperti pendakian yang sudah-sudah, kali ini kami mengawalinya dengan banyak berinteraksi dengan warga terdekat. salah satunya adalah Pak Kasimin, salah satu dan satu-satunya yang masih hidup dari ke 16 orang pendiri desa ranu pani. darinyalah aku tahu sejarah ranu pani dan bagaimana islam masuk ke desa yang menjadi pintu gerbang ke puncak semeru ini.

bersama-brothers.jpg
bersama sebuah keluarga

berikut adalah coretan ala kadarnya berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Kasimin. kepada Mr Fattah de la Costa, yang hadir saat wawancara itu, tolong dikoreksi jika ada kesalahan data.

Cikal bakal Ranu Pani

Dulunya, lahan seluas 225 ha ini disewa oleh seorang Tuan Besar (Belanda) dari Dinas Kehutanan waktu itu untuk jangka waktu 300 tahun. Tanah ini dijadikannya area peternakan dengan ratusan pekerja pribumi. Berbagai macam hewan dari tikus sampai sapi sebesar banteng diternak di sini.

me-n-p-kasimin.jpg
pak kasimin (kanan)

(BREAK: aku, mau tidak mau, teringat dengan Tuan besar Kuasa Herman Mellema dan penerusnya Tuan Besar Kuasa Frits Homerus Vlekkenbaaij, penguasa pabrik gula Tulangan Sidoarjo, simbol kerakusan dan kebangsatan kaum Kapitalis dalam epos dahsyatnya Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia. Aku “suudhan” bahwa Tuan Besar yang namanya tidak diketahui ini, tingkah lakunya juga tidak jauh beda dengan Tuan Besar Kuasa penguasa pabrik gula itu: membeli perawan desa untuk dijadikan gundik!. Tapi mungkin juga tidak, sebab Tuan besar yang ini, menurut Pak Kasimin, membawa serta isteri dan anaknya).

menatap-sunrise.jpg
menyambut sunrise

Sang Tuan Besar memiliki anak bernama Cesus (aku yakin spellingnya salah); dan darinyalah lahir Tuan Muda Anton. Nah, di saat Tuan Anton ini berumur kira-kira 15 tahun (atau kira-kira baru 100 tahun berjalan sejak ditandatanganinya kontrak), meletuslah perang kemerdekaan. Jepang datang, Belanda terusir. Nasib keluarga Tuan Besar ini akhirnya tidak diketahui.

Lahan seluas 225 ha ini kembali jadi tanah mati, atau lebih tepatnya, menjadi hutan belantara lagi. Tetapi, sekitar 10 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1952, di suatu sabtu pahing entah tanggal dan bulan berapa (pak kasimin lupa), sebanyak 15 pria dan 1 wanita pribumi membukanya kembali. mereka adalah Kasimin (30), Liwon (Ayah Kasimin, +-60), Subo (+- 50), Suparto (+-40), Tinjam (+-40), Reba’I (+-35), Semplek (+-50), Li’in (+-40), Naji (+-50), Masruk (60+), Ponidi (60+), Sukat (+-35), Saben (+-40), Gendon (+-60), Saleh (+-60), dan Mbok Saeni (Bibi Kasimin, +-35).

ranu-pani-matahari.jpg
danau ranu pani

Di tangan ke-16 orang inilah lahir desa Ranu Pani. Tanaman pertama yang mereka tanam adalah kubis, bawang, dan kentang. Demi melihat hasil tanaman yang tumbuh subur, setahun dua tahun kemudian mulai banyak orang hijrah ke ranu pani.

Masuknya Islam

Waktu pun berjalan. Tanah Ranu Pani semakin ramai. Bahkan sebuah SD pun akhirnya berdiri. Seorang guru bernama Imam Khudhori pun didatangkan dari Tulungagung untuk mengajar di sana. Dialah satu-satunya muslim di antara warga Ranu Pani yang semuanya beragama Hindu.

bersama-anak-anak-ranupani.jpg
bersama bocah-bocah ranu pani

Hingga datanglah tahun 1972. Pak Kasimin, yang waktu itu masih beragama Hindu, berniat membangun musholla. Tentu saja niatnya ini banyak menuai penentangan. Bahkan, sekelompok orang berniat mengeroyoknya. Tapi Pak Kasimin tidak putus asa. Dia pun menemui Camat Senduro (bernama Heru Purnomo) untuk minta surat ijin pendirian mushalla. Untuk keperluan itu, dia harus berjalan kaki mendaki bukit meneruni lembah dari jam 5 pagi (berangkat) hingga jam 4 sore (kembali pulang)!

Di kantor camat, Pak Kasimin mendapat pertanyaan berat. “Pak Kasimin ini agamanya apa?”, begitu tanya Sang camat. “Hindu, Pak”, jawabnya. “Lha kalau Pak Kasimin beragama hindu, untuk apa membangun mushalla?!” tandas Sang camat. Tapi, Pak Kasimin sudah menyiapkan alasan. Dia bilang, banyak temannya dari manca desa (mungkin yang dimaksud adalah para pendaki semeru) yang beragama Islam, yang sewaktu-waktu bisa datang ke Ranu Pani.

Singkat cerita, surat ijin pun akhirnya bisa dikantongi Pak Kasimin. Mushalla pun siap didirikan. Ada yang mengharukan (sangat-sangat mengharukan!) saat Pak Camat di kemudian hari datang ke Ranu Pani untuk menyaksikan dimulainya pembangunan mushalla. Di hadapan warga desa, Pak Camat bertanya kepada Pak Kasimin.

“Pak Kasimin, setelah mushalla ini nanti berdiri, apa yang akan Pak Kasimin lakukan?”
dengan mantap, Pak Kasimin menjawab, “Masuk islam, Pak!”.

ranu-regulo-danau.jpg
merenung di ranu regulo

Jawaban Pak Kasimin itu disambut tepuk riuh para penduduk desa. Dan subhaanallah, setelah mushalla benar-benar berdiri (yang ukurannya cuma 3×3 meter), tidak hanya Pak Kasimin yang masuk Islam tetapi juga seluruh warga desa, tanpa terkecuali, termasuk mereka yang tadinya hendak mengeroyok pak kasimin atas niatnya mendirikan mushalla. Allaahu akbar!

ranu-regulo-sikile-fatah.jpg
sepasang kaki fatah

Mushalla mungil itu tentu saja tidak cukup untuk dipakai jumatan. Maka pada tahun 1982, dengan bantuan dana sebesar 3 juta rupiah dari Mantri Kentang (duh, jadi ingat mantri-mantri kapas yang dulu sering datang ke desaku untuk mengumpulkan hasil panen kapas para warga desa. Salah satunya ada yang kos di rumahku, tapi aku sudah lupa namanya. Yang kuingat darinya hanyalah saat ia menggendongku di suatu malam sambil menyanyikan lagu Garuda Pancasila). Mantri kentang ini bernama Pak Syamsi, dan dia adalah, menurut Pak Kasimin, kakak kandung Adnan Buyung Nasution, orang YLBHI itu.

gerhana1.jpg
gerhana di ranu pani

Tahun 1983, Bupati Lumajang menghibahkan dana sebesar 10 juta rupiah untuk pemugaran masjid. Warga desa juga berhasil mengumpulkan uang sebanyak 3 juta rupiah sebagai tambahan. Kini, masjid itu telah kokoh berdiri. Dan di masjid inilah, untuk pertama kalinya, kemarin aku menunaikan shalat gerhana bulan. (Ya, untuk pertama kalinya! Padahal sholat sunnah muaakad ini sudah kupelajari saat aku masih duduk di MTs. Dasar bocah nuakal!!)

*foto-foto keren alam sekitar ranupani lainnya bisa diakses di sini.

~ by ahmad nadhif on August 30, 2007.

7 Responses to “sehari di ranu pani”

  1. jadi ingat kenanagn tahun 2007 lalu di rani pani bersamanya

    >> “bersamanya”? bersama siapa sih?🙂

  2. MAS DIE I LOVE U SO ALWAYS LOVE YOU, Ranu pane aku akan kembali

    >> walah, ini tho yang dimaksud mas dede. hayo, nikah sana!😀

  3. foto2nya bagus! boleh dicopas ya?

    >> silahkeun. buat nakutin tikus? he he.

  4. hmmm…

    pengen…..

    pengen……

    pengen…..

    pengen…..

    pengen,,,,,,

    pengen,,,,,,

  5. bagaimana pun saya akan memeinkan pentas terakhir saya Nyai ontosoroh yang berlatar belakang tentang pabrik gula tulangan tempat saya lahir dan di besarkan

  6. hehehee.. keren gitu obrolannya. mungkin kenangannya jadi terasa lebih hidup oleh sebab faktor manusianya meski, memang, siapa sih yang bisa ngingkari keindahan semeru? dikroscek ke pak min g’ soal ranu kumbolo. konon, itu telaga tempat favorit noni2 mandi, siapa tau diantaranya adalah annelisenya si tuan besar, hehehee..

  7. cerita yang sangat menarik tentang ranu pani. tfs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: