pelacur tua di ambang ramadhan

ini adalah kisah tentang seorang pelacur tua
ambang ramadhan adalah momok baginya
polisi berubah jadi pemburu
dan dia hanyalah kijang yang terluka

gelar seram itu entah sudah berapa lama
dianugerahkan kepadanya
penyakit masyarakat!
tapi apa pedulinya?
tidak ada yang perlu dipedulikan
sebagaimana anak-anaknya di rumah
yang setiap musim
dihajar kemiskinan

kemarin ia kembali tergenggam polisi
ia tahu, pagi ini, ia akan dilepaskan lagi
tapi kali ini ia tidak alpa kata-kata
ataupun menyerah pada diam dan pasrah
ia hendak bicara
dengarkanlah

pernahkah kau mendengar cerita
tentang seorang pandir
yang tersiksa oleh bau busuk di kamarnya?
tanyanya
dia membawa pulang aneka pengharum ruangan
yang dikumpulkan dari seluruh supermarket di kotanya
wangi aneka rasa
membabi buta

tapi sia-sia
bangkai tikus di kolong ranjang
bahkan tidak berani ditengoknya
takut tiba-tiba hidup
dan menjadi monster raksasa

lihatlah diriku lekat-lekat
kata pelacur tua kepada pemburunya
aku hanyalah aroma bangkai
sia-sialah kau mengurungku

lihatlah manusia-manusia pongah
yang dengan bangga kau pajang di dinding
bergiliran dari pemilu ke pemilu

mereka hanya bisa menistakan zinaku
tanpa berusaha menutup pintu yang membawaku ke sana
tidak mendidikku
acuh terhadap lingkunganku
dan hidung-hidung belang pun mereka biarkan berlenggang
tanpa hukuman

mereka melarangku sekolah
tempat aku berharap bisa belajar akhlaqul karimah
moral dan budi pekerti atau apapun namanya
jika ada

juga lihatlah
mereka merampas harta bendaku
dan memberikannya pada para meneer sesembahan mereka
lihatlah
lihatlah

dan lihatlah,
air dan api pun telah mereka pasangi harga
mungkin sebentar lagi aku dan anak-anakku harus membayar
untuk dapat menghirup udara

aku hanyalah aroma
yang bertaruh untuk kehidupan anak-anaknya
mengurungku hanyalah sia-sia
tandas pelacur tua

setelah menggores bibirnya
dengan gincu seribu tiga
yang tinggal separo
ia meninggalkan kantor polisi

sang polisi tertunduk lesu
ia tidak berani mendongak ke arah dinding
takut gambar yang bertengger di sana
tiba-tiba hidup dan menjadi monster raksasa

kepada hatinya pun ia enggan menyapa
padahal ia ingin bertanya
siapa penyakit masyarakat yang sebenarnya?

~ by ahmad nadhif on September 10, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: