demokrasi bukan tujuan bangsa

(11 september. biarlah tidak jadi nulis tentang tragedi 911)

ada yang menarik untuk dicermati dalam pidato kebangsaan surya paloh dalam rakornas PDIP tanggal 10 september kemarin. beberapa kali ia menegaskan bahwa demokrasi bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan. tujuan bangsa indonesia, ia mengingatkan, adalah terciptanya keadilan dan kemakmuran bagi rakyat. penegasan surya paloh itu mungkin dilatarbelakangi oleh realitas bahwa sebagian besar penduduk indonesia, termasuk para pejabatnya, sedemikian gigihnya memperjuangkan demokrasi tanpa pernah bertanya apakah demokrasi merupakan alat yang efektif untuk mencapai tujuan bangsa.

jika dihitung-hitung, indonesia dinilai telah benar-benar menjadi negara demokratis sejak tumbangnya kekuasaan orde baru. kran kebebasan dibuka dimana-mana. maka tidak mengherankan jika george bush saat berkunjung ke bali pada era kepemimpinan gusdur (saya lupa tanggalnya) bahkan mengatakan bahwa indonesia merupakan bangsa muslim yang paling demokratis di seluruh dunia. itu belum bicara tentang bagaimana di pemilu terakhir, bangsa ini menggelar pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung, sistem pemilihan yang kemudian diadopsi dalam pemilu-pemilu di tingkat daerah. wajarlah jika kemudian indonesia ditempatkan di posisi ke-3 setelah india dan amerika dalam hal penerapan demokrasi.

pertanyaannya, adakah peningkatan yang signifikan dalam hal kesejahteraan dan kemakmuran rakyat indonesia seiring dengan perubahan sistem politik dari otoriter menjadi demokratis? tidak ada. justru, jumlah penduduk miskin semakin bertambah menyusul dicabutnya subsidi atas BBM dan TDL (para kader BPS, tunjukkan datanya dong).

lebih jauh, marilah kita cermati negara yang konon paling demokratis di dunia: india. seandainya demokrasi memang berbanding lurus dengan kesejahteraan dan kemakmuran sebuah bangsa, tentulah negeri 1001 film ini menjadi negeri yang paling sejahtera dan makmur di muka bumi. nyatanya? tanyalah pada rumput, baik yang bergoyang ataupun tidak. brunei darussalam, negeri kecil yang sama sekali tidak demokratis itu, bahkan mempunyai tingkat kesejahteraan yang jauh lebih tinggi daripada india (apalagi sekedar indonesia!).

walhasil, asumsi bahwa demokrasi akan membawa kesejahteraan adalah asumsi yang bertabrakan dengan realitas di lapangan. anehnya, ini tidak pernah menjadi bahan pemikiran dan diskusi. selama ini kebanyakan kita memperlakukan demokrasi sebagai sesuatu yang taken for granted, semacam dogma.

tunggu. bagaimana dengan amerika? bukankah tingkat kesejahteraannya tinggi? betul. tapi apakah itu karena demokrasi? apakah seandainya amerika menghentikan eksploitasinya atas negara-negara berkembang, negeri gembrot itu akan tetap sejahtera? tanyalah pada george bush dari mana uang yang digunakan untuk membangun negerinya. jika ia jujur, ia akan menjawab: dari ngrampok indonesia, afghanistan, irak, kuwait, arab saudi, negara-negara afrika, dan seterusnya. bukan dari hasil penerapan demokrasi.

kalau sudah begini, untuk apa lagi mempertahankan ALAT bernama demokrasi? bukankah pisau berkarat yang terbukti tumpul sudah selayaknya diganti? betul kan, pak paloh?

~ by ahmad nadhif on September 11, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: