pemimpin gempa gempita

gempa bertubi-tubi yang mengguncang bengkulu, padang, dan sekitarnya beberapa hari ini mengingatkanku pada tulisan almarhum riswandha imawan, guru besar ilmu politik fisipol ugm, yang ditulisnya 6 hari sebelum wafatnya. tulisan itu berjudul “pemimpin gempa gempita”. aku masih ingat, tulisan yang dimuat di jawapos itu aku baca di “warung zaitun” alias “warung aceh”, pada suatu siang yang cerah. itu adalah tulisan terakhir beliau yang aku baca, mungkin juga tulisan terakhir yang beliau tulis. ketika beberapa hari kemudian mendengar beliau wafat, tak ayal aku langsung teringat kalimat terakhir yang tidak pernah luput dari artikel-artikelnya: eagle flies alone.

berikut adalah tulisan beliau itu (nggak apa-apa kan sesekali menampilkan tulisan orang lain?). semoga ada manfaatnya, bagi beliau di sana dan juga bagi kita di sini. dan tentu saja tidak lupa, terpanjat doa agar orang-orang yang menjadi korban gempa, diberikan kesabaran dalam menerima ujian dariNya. semoga diringankan beban mereka.

Bingung menerjemahkan rangkaian bencana alam yang terjadi, Presiden SBY mengimbau rakyat untuk tidak percaya dengan penjelasan yang bersifat mistis atau takhayul. Presiden mengajak rakyat memahami bencana alam itu secara Islami. “Semua pasti ada penjelasan ilmiahnya” katanya.

Imbauan itu ada benarnya. Saat bangsa lain merencanakan masa depan mereka dengan perhitungan ilmiah, kita masih terbelenggu nilai-nilai yang membuat kita mengalami stagnasi dalam gerak modernisasi. Namun, ada dua catatan serius terhadap imbauan tersebut.

Pertama, imbauan politik hanya efektif kalau perilaku pemimpin selaras dengan ucapannya. Terlalu sering pemimpin kita menyerukan hidup sederhana, antikorupsi, tepa salira. Kenyataannya, mereka tetap hidup bermewahan, korupsi tetap jalan, dan pertikaian antar elite sama sekali tidak cocok dengan ajaran tepa salira.

Kedua, kemampuan akal manusia punya batas. Tidak semua gejala di alam raya bisa dijelaskan secara ilmiah. Semua penjelasan ilmiah menggunakan bahasa probabilitas (kemungkinan terbesar). Ilmu kedokteran yang dikenal amat maju sekali pun tidak bisa memastikan waktu yang tepat (hari, jam, detik) kelahiran seorang bayi.

Dua catatan itu menjadi landasan prinsip keseimbangan dalam konsep kepemimpinan suku-suku bangsa di Indonesia. Keseimbangan antara manusia dan alam tidak hanya dikenal dalam khazanah budaya Jawa. Penonjolan terjadi pada budaya Jawa karena intensifnya pengkajian nilai-nilai kepemimpinan Jawa yang didokumentasikan sebagai literatur.
***
Konsep kepemimpinan di Indonesia menempatkan seorang pemimpin sebagai “wakil Tuhan”. Pemimpin wajib mendekatkan diri kepada Tuhan agar memiliki (sedikit) sifat ketuhanan sehingga dia mampu memelihara keseimbangan alam.

Pemimpin di Indonesia tidak sekadar memimpin manusia, juga alam tempat manusia itu berada. Karena itu, legitimasi pemimpin bukan sekadar dari manusia, juga dari alam yang dipimpinnya. Itu bisa dilihat dari julukan atau gelar bagi -misalnya- raja-raja di Jawa: Hamengku Buwono, Mangku Bumi, Paku Alam.

Karena legitimasi pemimpin datang dari manusia dan alam yang dipimpinnya, layak ditanyakan mekanisme yang bisa ditempuh untuk mengingatkan seorang pemimpin. Pertanyaan tersebut terkait dengan fakta bahwa kepemimpinan melibatkan relasi (sosial). Kata orang Minangkabau, pemimpin itu hanya selangkah didepankan, seranting ditinggikan.

Pemimpin harus bisa memengaruhi dan dipengaruhi pengikutnya. Sebab, dasar hubungan antara keduanya adalah kepercayaan (trust). Jadi, mengingatkan seorang pemimpin adalah kewajiban pengikut agar tingkat kepercayaan yang ada tetap terjamin.

Kalau kepercayaan itu terkait dengan manusia, wujud peringatannya dapat dilihat dan didengar. Bagaimana bila peringatan tersebut datang dari alam yang dipimpinnya?

Jawabnya, secara Islami seperti diminta presiden, ada pada kisah para Rasul dalam Alquran. Hujan tidak turun selama 20 tahun pada masa Idris AS. Air bah terjadi di zaman Nuh AS. Air panas dan lumpur menyembur dari dalam tanah menghukum kaum Tsamud pada masa Shaleh AS. Gempa berkepanjangan menghantam kaum Luth AS. Semua merupakan ayat-ayat Allah SWT untuk pelajaran/peringatan bagi umat manusia.

Pelajaran/peringatan Allah SWT melalui fenomena alam tidak bisa sepenuhnya dinalar akal manusia. Api yang membakar Ibrahim AS menjadi dingin. Musa AS membelah Laut Merah. Yunus AS ditelan bulat-bulat oleh ikan hiu. Semua atas kehendak-Nya. Kalau pakai nalar manusia, mana mungkin tubuh manusia utuh dalam perut ikan hiu?

Bila disimak, pelajaran/peringatan Allah SWT melalui alam yang ada dalam Alquran berkisar pada lima perkara: menyekutukan Allah, kesombongan, ketidakadilan, orientasi penguasa pada kekuasaan, dan kemerosotan moral serta etika. Bagaimana kalau manusia (pemimpin) membandel? Sama dengan Qabil, ia akan diajari makhluk hina (burung gagak) setelah membunuh adiknya, Habil.
***
Bencana apa saja yang telah menimpa kita? Gempa bumi, air bah, badai, tanah longsor, desa amblas ke bumi dan menjadi danau (di Halmahera Tengah), semburan lumpur panas, kekeringan, anak dibunuh ibu kandung, anak diperkosa ayah kandung seolah merekonstruksi kisah para Rasul.

Gegap gempitanya peringatan Allah melalui fenomena alam itu seharusnya membuat para pemimpin lebih tawadu sambil mendekatkan diri kepada rakyat yang dipimpinnya. Bukan membingungkan rakyat dengan -misalnya- yakin kemustajaban angka 9. Nomor pengaduan SMS 9099, nomor mobil 99, hari lahir partai 9 bulan 9, berencana mengumumkan kabinet pukul 9, pelantikan pukul 9. Belum lagi, berhitung “hari baik” untuk ritual tertentu dan “membiarkan” dirinya diruwat hingga dua kali oleh pengikutnya.

Bukan pula obral janji yang tidak diniatkan, tidak mungkin, dan tidak akan diwujudkan di tengah bencana hingga mereka lebih layak disebut sebagai “Pemimpin Gempa Gempita”. Mengapa? Sebab, langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi musibah dibingkai dalam kalkulasi memenangkan Pemilu 2009. Dengan demikian, penanganan pascabencana dijadwal 2008 dan 2009.

Alasannya, pemerintah tidak punya uang lagi atau belum dianggarkan dalam APBN. Aneh. Mengapa untuk membayar gaji ke-13 pejabat negara atau menambah dana penyerapan aspirasi anggota DPR yang hanya sebulan Rp 51 juta tiap anggota, ada dananya? Mengapa untuk membangun gedung SD yang ambruk, yang hanya butuh uang reses dua orang anggota DPR, tidak ada dananya?

Di era kepemimpinan gempa gempita ini, nurani dan kebenaran logika terasa dibungkam kekuasaan. Kelak akan datang “makhluk hina” mengajari mereka. Mirip burung gagak mengajari Qabil. Atau Semar mengajari para kesatria jagat pewayangan.

Eagle Flies Alone
Kaki Merapi 30 Juli 2006

~ by ahmad nadhif on September 14, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: