bukan realitas dalam metro realitas

(untuk mas arief spammer, yang sejak jauh hari mengingatkanku untuk nonton acara ini; dan mbak dien yang memforwardkan sms seseorang dengan pesan yang sama)

karena tidak punya TV sendiri, saya akan lawan opini yang coba dihembuskan Metro Realitas semalam, di sini.

acara yang tayang pukul 22.30 hingga 23.00 itu perlu dikomentari sejak dari tajuknya: MENANTI SANG KHALIFAH. pertanyaannya: siapa yang menanti? HTI dkk: memperjuangkan!; amerika dan antek-anteknya (dari kalangan penguasa boneka, ulama gadungan, intelektual bayaran, dan media massa komprador): menghalangi! lalu siapa yang menanti? menanti dalam konteks yang kita bicarakan ini adalah wujud dari ketiakmauterlibatan dalam gelanggang pertempuran untuk menunggu siapa yang menang siapa kalah, dan barulah setelah itu menentukan sikap mau berpihak kemana. ya, sekali lagi, siapa yang menanti, pemilik sikap pengecut ini? kok sikapnya sampai dijadikan judul Metro Realitas, salah satu dari sedikit acara TV yang “bisa” ditonton?

tapi sudahlah. meski pertanyaan itu terjawab pun, toh tidak akan terlalu banyak gunanya. sekarang, marilah kita cermati opini yang disusupkan lewat acara yang dengan gagahnya menyebut diri “realitas” itu.

acara dimulai dengan pertanyaan bu rahma sarita (the host) kira-kira begini (seingat saya lho ya): apakah HTI akan berhasil mewujudkan cita-citanya menegakkan khilafah islam ataukah ini hanya pemanasan menjelang pemilu 2009?

setelah itu, ditayangkanlah sekilas rekaman acara KKI 2007 dan juga cuplikan-cuplikan dari VCD “propaganda” HTI. tidak kurang, jubir HTI, pak m. ismail yusanto, pun diwawancarai.

metro tv cukup fair ketika kemudian menyebutkan bahwa sejumlah pembicara dari luar negeri dan dalam negeri dicekal meski acara berlangsung damai. yang tidak fair, menurut saya, adalah ketika metro menyebutkan bahwa beberapa pembicara nasional menolak hadir (di antaranya pak amien rais, pak zainuddin mz, dan pak hasyim muzadi). tidak fairnya terletak di sini: dengan menjadikan alasan pak hasyim sebagai sampel, metro kemudian menggeneralisasi (meski tetap menyelipkan kata “barangkali”) bahwa para pembicara yang tidak hadir itu memiliki alasan yang sama: berbeda visi kebangsaan dengan HTI. padahal, para pembicara itu, kecuali pak hasyim tentu, telah menyatakan bersedia hadir sejak awal. hanya menjelang detik-detik acara saja mereka menyatakan tidak jadi bisa hadir, meski dengan alasan yang ala kadarnya. ini jelas berbeda dengan pak hasyim yang sejak awal menolak mati-matian untuk hadir dan bahkan di berbagai daerah ia melancarkan black campaign terhadap HTI dan KKI. di sinilah ketidakfairan metro. ia tidak sekedar terjebak dalam fallacy of hasty generalization (sebuah tindakan kriminal dalam ilmu logika), tetapi justru lebih jauh ke dalam fallacy of ngawur generalization. untung saja kata “barangkali” masih diselipkannya, mungkin untuk dijadikannya tameng jika kekeliruan (sengaja?)nya ini terbongkar seperti sekarang ini.

selanjutnya, metro mewawancarai pak umar abduh, orang yang digelarinya sebagai aktivis islam. wawancara ini menyimpulkan bahwa penegakan khilafah islam tidak mungkin diwujudkan oleh HTI. alasan pak abduh adalah bahwa jumlah anggota HTI terlalu kecil, tidak sampai 1 juta (maksudnya 900-an ribu saja?). lihatlah betapa dangkalnya argumen yang dibangun ini. jumlah tidak sampai satu juta itu kan sekarang. taruhlah massa HTI memang cuma 900 ribu. jika dalam satu tahun masing-masing anggotanya merekrut satu anggota baru, maka tahun depan HTI sudah memiliki 1.800.000 anggota. tahun 2009, 3.600.000. bagaimana jika perekrutan anggota baru itu terjadi dalam hitungan bulan?

kalau ini tampak mengandai-andai saja, marilah kita lihat fakta yang bisa kita temui di lapangan. tahun 2000 lalu, konferensi khilafah HTI di tennis indoor hanya dihadiri sekitar 5000 orang saja. tujuh tahun kemudian, HTI mampu menghadirkan sekitar 100.000 orang. dengan kata lain, telah terjadi peningkatan 20 kali lipat dalam 7 tahun. dengan perhitungan yang sama, jika saat ini jumlah anggota HTI adalah 900 ribu, maka pada tahun 2014 sekitar 18.000.000 orang telah tergabung dalam organisasi ini. apakah jumlah segitu banyaknya belum cukup untuk sebuah revolusi?! wajarlah jika pada tahun 2005 lalu, National Intelligence Council Amerika serikat mengeluarkan laporan bahwa pada tahun 2020, khilafah islam diperkirakan sudah akan berdiri di muka bumi. jadi, kesimpulan pak umar abduh di atas mestinya direvisi: penegakan khilafah islam tidak mungkin diwujudkan saat ini, entah esok hari; entah lusa nanti. (thanks to pak iwan fals).

kembali ke tayangan Metro Realitas semalam. di akhir acara ini, ditayangkanlah potret buruk penerapan beberapa perda syariah. metro seakan memberi pesan kepada khalayak bahwa seburuk itulah yang akan terjadi jika khilafah islam ditegakkan.

betul, bahwa di beberapa daerah, dalam upaya penerapan perda-perda syariah, terjadi beberapa penyimpangan. di antaranya, wanita baik-baik di tangerang terkena ciduk aparat karena disangka pelacur (break: dalam menegakkan hukum kolonial di negeri ini, memangnya polri tidak sering salah tangkap, hah?). juga, ada segelintir aparat penegak syariah yang justru kedapatan melanggar perda syariah (break lagi: dalam hukum kolonial, memangnya tidak sering ada polisi atau bahkan hakim yang berbuat kriminal, hah?!). ini semua mungkin benar realitas, tapi ini adalah cuma realitas yang dipilih oleh metro untuk ditayangkan. dampak penerapan syariah yang positif seperti keberhasilannya menekan angka kejahatan dan meningkatan pendapatan daerah lewat zakat, infaq, dan sedekah, dipilih untuk DISEMBUNYIKAN oleh metro. ini tentu akan memberi kesan pada pemirsa bahwa perda syariah bukannya berguna malah banyak menimbulkan masalah. inilah yang disebut para pakar sebagai second hand reality atau realitas tangan kedua. yaitu, “realitas” yang sudah dipoles bahkan dibajak sehingga tidak menggambarkan realitas yang sesungguhnya.

lebih dari itu, penerapan perda syariah di beberapa daerah tidak bisa dijadikan alat untuk menggambarkan kehidupan dalam khilafah islam. sebab, perda-perda itu hanya sebagian kecil dari syariat islam, masih jauh dari kategori kaffah. justru porsi terbesar dari hukum yang mengatur kehidupan masyarakat di 22 daerah berbasis perda syariah di indonesia masih berada dalam genggaman kapitalisme sekuler. maka, menjadikan beberapa problem penerapan perda syariah sebagai justifikasi penolakan terhadap seruan ditegakkannya islam kaffah lewat khilafah pada hakekatnya sama saja dengan mencemooh sebuah obat asam urat yang seharusnya diminum satu bungkus tiga kali sehari tetapi hanya diminum 1/4 bungkus seminggu sekali, dimana pada saat yang sama, sang penderita tetap saja makan mlinjo dan duren. konyol dan tidak adil, tapi itulah yang sepertinya hendak dijajakan oleh Metro Realitas semalam.

ngomong-ngomong, pengen tau kenapa metro tv “berbuat” seperti itu? oh, tentu saya tidak bisa menjawabnya. sebaiknya tanyakan saja pada bosnya: pak surya paloh, yang juga penasehat partai golkar, partai yang beberapa hari terakhir ini getol menyerukan pemberlakuan kembali asas tunggal pancasila!

wallahu a’lam.

/terimakasih untuk pak widyo, yang telah mengingatkan untuk menjaga adab dalam menyebut pak hasyim muzadi (jangan cuma “hasyim”). itulah kenapa di depan semua nama orang di artikel ini, sekarang saya tambahi “pak”. thanks a lot, keep reminding me, sir.

~ by ahmad nadhif on September 25, 2007.

9 Responses to “bukan realitas dalam metro realitas”

  1. yah namanya orang meri (baca : iri), mungkin dia takut banyak yang simapti sama KKI kemarin, jadinya yah dibikin acara yang awal-awalnya mau fair, tapi ternyata nggak fair. sudah banyak media kayak gitu… ini bukan yang pertama kalinya kan ?

  2. ashoy ! gw dicap spammer … ya .. ntar gw spam abis nomer antum mas …😀 ehhehehe

    —————–
    waiting 4 ur spam..:)

  3. two thumbs up !

    *i’m just an ordinary viewer🙂

  4. wah, kok nggak ada video-nya yah… udah nyari-nyari di youtube.com belum ada yg memasukkan…

  5. seneng ya di indonesia dakwahnya kerasa dan berasa…🙂

    ———————
    tinggal di amrik kan? mestinya disana lebih berasa. u r one of the front liners.

  6. Cool! Aku copy paste ke blog-ku yah. Ini non-copyrighted kan? Syukron.

    Salam.

    ——————-
    thx. silahkeun. semua coretan di blog ini copylefted kok he he.

  7. ass.
    tulisan ini saya copy ke matayou.multiply.com
    boleh tidak?

    ———–
    www. kenapa nggak boleh? basmi copyright, knowledge has no price!

  8. kok tulisannya keliatan defensif emosional banget sih (pendapat pribadi loh). saya ingin menggaris bawahi pernyataan pak abduh bahwa khilafah tidak bisa diwujudkan oleh hti, dan saya setuju buanget, nget, nget…. khilafah bukanlah negaranya hti, tapi milik ummat. so, ummatlah yang akan memperjuangkan berdirinya. sedangkan hti? ya, boleh dibilang jurkam-nya lah…. betul tidak?

    ——–
    dan menjadi jurkam itu apa namanya bukan memperjuangkan, pak anan? he he. btw, ga perlu lah memperdebatkan apakah hti atau umat, wong hti itu, menurut saya, juga bagian dari umat je (sama spt mmi, pks, muhammadiyah, dsb).

    betul, emosional. tapi, tetep rasional toh? he he.
    yg saya permasalahkan dg pendapat pak abduh adalah alasan beliau: hti terlalu kecil. lha itu kan karena sekarang umat belum begitu banyak yang mendukungnya. lha kalo nanti umat rame-rame mendukung (salah satu caranya dg masuk jadi anggota hti), hayo? di sinilah poin saya, pak anan. makanya saya tulis:

    jadi, kesimpulan pak umar abduh di atas mestinya direvisi: penegakan khilafah islam tidak mungkin diwujudkan saat ini, entah esok hari; entah lusa nanti.

  9. akhi… bolehkah artikel itu saya ambil untuk di blog saya… Karena saya termasuk orang yang benci terhadap Metro TV yang secara halus dan cerdik, menohok gerakan Islam. Penuh dengan pesan sponsor kaum liberalis dan kapitalis…

    >>silahkan.. smg bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: