cerita untuk kakak

unmuh.jpg

di tepi kolam ini kami kembali menunggu maghrib, mbak
dengan dua bungkus es cincau parahyangan
sekotak nasi yang aku belum tahu lauknya apa
dan tentu saja sebotol air bening jernih (bukan putih).

sayangnya angsa-angsa itu tidak berenang mendekat, mbak
sebagaimana waktu terakhir kami ke sini
mereka hanya bergerombol di dekat pancuran
itu gara-gara ada anak-anak PA yang latihan mengendalikan perahu karet di tengah kolam
biarlah,
biar hari ini mereka menggantikan peran angsa, he he.

sayangnya juga matahari nggak kelihatan dari sini, mbak
tertutup gedung-gedung kuliah yang berjulangan tinggi
tapi tak apalah
karena menjelang petang
lampu-lampu merkuri itu dinyalakan
indah betul pantulannya yang berpendaran
di dalam air
seperti tarian cahaya.

banyak canda yang terurai
di antaranya, aku ceritakan tentang seorang penjaga di ruang dosen
yang memberiku pesan aneh: “nanti pulangnya, minta pak nadhif sendiri yang mengembalikan presensi ya. jangan nyuruh mahasiswanya lagi”
aku pun menjawab sambil tersenyum: “iya, bu. nanti akan saya sampaikan pada beliau”.
mendengarnya, adhek, seperti biasanya, tertawa cekikikan, mbak.

belum lagi cerita tentang kelakuan konyol pak samsu, orang tulungangung baik hati itu.
masak, waktu masuk perpus dia nggak pake sepatu, cuma sendal?
otomatis lha diteriaki petugas: “pak, masuk sini nggak boleh pake sendal!”
pak samsu pun mencopot sendalnya, dan terus saja ngeloyor masuk sambil memasang wajah tak berdosa. dasar!šŸ˜€

maghrib pun, begitu cepatnya tiba, mbak.
setelah es cincau habis
kami ke FE, sholat maghrib di mushallanya yang suepi itu
seperti biasa, pintunya tertutup dan lampunya dalam keadaan mati
dan kamilah yang membuka dan menyalakannya
seperti biasa..
tapi justru kesenyapan ini yang membuat sholat kami syahdu.

kami kembali ke tepi kolam
makan di sana
tentu saja sekotak berdua
seperti biasanya
tau apa lauknya ternyata?
dadar telur, dadar jagung, dan tumis wortel+buncis
hmm..aku tahu itu nggak terlalu baik untuk batukku
tapi apa pedulinya?
wong rasanya uenaak
mungkin, karena adhek memasaknya dengan cinta, ya mbak? he he

sholat isya dan tarawehnya di masjid AR Fahruddin yang megah itu
satu yang sangaat aku sukai di sini: bacaan imamnya itu lho, mbak, buagus!
seperti yang di murattal-murattal itu
wah, rasanya seperti sholat di masjidil haram saja.

habis itu ke warnet bareng
adhek dapat tugas dari mentornya untuk nyari beberapa artikel
sempet juga menengok blog seseorang
ehh, postingan terakhirnya konyol banget deh, mbak
untung anak itu nggak ketemon grandma roembilin
kalo sampe ketemu, pasti sudah diceramahi habis: “this is literature; NOT reading comprehension!” he he

udah, ah
gitu aja
intinya, hari ini aku dan adhek bahagia

kapan-kapan gantian ya yang cerita
kan kami juga pengen tahu
apakah di sana juga ada puasa ramadhan
tapi..
kayaknya mbak nggak akan ikut puasa ya?
kan dulu ketika pergi, mbak belum baligh..

23 ramadhan 1428

~ by ahmad nadhif on October 6, 2007.

2 Responses to “cerita untuk kakak”

  1. de, crtx lucu,kpn2 sy mo cb jurus p samsu…mau pinter ko repot.

    ——–
    silahkan dicontoh; tapi utk kasus sendal saja yaa, jangan utk kaos oblong!šŸ˜€

  2. massssssssssss msh teguh dalam pendirian khan?

    >> masih, masih. emg tokoh2 di atas ente pikir siapa? haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: