terkenangmu di sini

“kematian hanyalah tidur panjang; maka mimpi indahlah engkau..” (ebiet)




di akhir-akhir ramadhan seperti ini
mereka selalu membawaku ke masjid lebih awal:
sekitar pukul 01.00 dini hari.

tak ada yang bisa ditemui selain gulita
dan sunyi yang begitu pekat
hanya ada kami bertiga:
nenek di pojok kiri belakang
aku dan dia di baris depan agak ke kanan.

ritualku selalu sama:
berhenti di rakaat kedua
dan kemudian berbaring pulas di atas sajadah,
selalu di sisi kanannya,
yang baru berhenti entah di rakaat ke berapa.

sesekali aku juga terbangun
lalu terdengarlah dari bibirnya
dzikir puji puja
memang waktu itu tidak terasa
tapi aku tahu,
tubuhku dilumurinya dengan doa-doa.

sayang,
aku mulai sering tidak hadir sejak aku menginjak kelas satu MI,
sebuah jenjang di mana seorang anak di kampungku seakan tidak boleh lagi bermanja,
yang karenanya aku menjadi jarang tidur di rumah
tapi di mushalla.
sehingga, prosesi pelumuran doa hanya bisa dilakukannya secara in absentia.



ini ramadhan ke-5 setelah ia pergi,
yang dulu dilumuri sudahkah kini melumuri dengan setimpal?
bisakah??
ahh..

(aku menikmati nostalgiaku; siapapun jangan merasa bersalah)

~ by ahmad nadhif on October 8, 2007.

One Response to “terkenangmu di sini”

  1. dirimu mengenangnya, diriku mengenangnya..perih memang ketika Tuhan tlah mengirimkan surat cinta dalam undangan mautnya..btw kita juga kan dapet ko.

    ———–
    yup, dan semoga semua berakhir dengan indah ya..
    amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: