sekolah yang terlupakan itu

seingatku…
aku dibawa bapak ke sana saat aku masih kelas 5 MI. setelah itu, tidak pernah lagi.

aneh,
aku yang masih mampu mengingat detail susu kaleng terakhirku, tidak bisa mengingat bagaimana gambaran sekolah ini. seakan file itu hilang begitu saja dari memoriku. justru yang malah kuingat adalah gereja di dekatnya dengan dinding-dindingnya yang tinggi itu; juga sebuah SD di sampingnya dengan plang marmer warna putih dan tulisan biru dongker. aku sudah berusaha keras selama dua hari ini untuk mencoba mengingat-ingat lagi, tapi hasilnya nihil.

padahal,
di situlah tempat baru bapak mengajar. dan di situlah bapak berubah menjadi guru agama setelah sekian belas tahun mengajar matematika dan IPA di sekolahnya yang lama.

padahal,
dari sekolah inilah bapak meminjamkan untukku buku-buku sekolahku selama tiga tahun duduk di SLTP, meski hanya untuk 2 mata pelajaran saja: bahasa inggris dan biologi.

padahal,
beberapa alumni sekolah ini menjadi senior-seniorku di al-ma’had al-islamy-nya abah mahbub ihsan (ghafarallaahu dzunuubahu): mas rahmad, mas susilo, mas susanto, mbak maknun. merekalah yang sering bercerita bagaimana bapak mengajar di kelas (aku sendiri, seumur hidupku belum pernah diajar bapak di dalam kelas).

padahal,
karena sekolah inilah, bapak sering ‘mempekerjakan’ aku dan adhekku untuk membantu mengoreksi hasil ujian murid-murid beliau. maklumlah, beliau diamanahi begitu banyak kelas. selalu saja setiap habis musim ujian, bertumpuk-tumpuk lembar jawaban menunggu kami, aku dan adhekku, di meja kerja. ah, padahal anak-anak yang kami koreksi pekerjaannya itu masih sebaya dengan kami, atau bahkan lebih tua. dan kami tidak hanya harus berjibaku dengan pilihan ganda, tetapi juga essay. untungnya beliau selalu ada di sisi kami, selalu siap menjawab kapanpun kami kebingungan.

padahal,
ke sekolah inilah aku begitu sering mengirim surat ke bapak saat aku sekolah di jember. pernah juga mengirim buku (tentang budidaya jamur) yang aku pinjem dari perpus sekolah lalu aku potokopi. ke sekolah ini pula untuk kurun waktu sekian bulan aku rutin mengirim lembar-lembar buletin propaganda ketika aku kuliah di malang.

ya, aneh. bagaimana aku bisa lupa apa yang waktu aku lihat di sana?! dan bagaimana bisa aku tidak pernah tertarik untuk melihatnya lagi sejak kunjungan pertamaku kelas 5 MI itu?!



tapi besok lusa aku mau tidak mau harus ke sana, dengan keperluan yang sangat jelas: bicara dan membuat resah.

~ by ahmad nadhif on October 11, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: