mahasiswa-mahasiswa penipu

“kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana, kecuali di tempat dan saat-saat tertentu”

hari ini, kampusku sedang punya gawe besar: upacara wisuda. aku termasuk di antara sekian banyak mahasiswa yang dijadwalkan mengenakan toga dan berjabat tangan dengan pak rektor. tapi aku mangkir, dan memilih nongkrong di warnet. aku sedang tidak punya duit untuk menyewa toga, hiks. lagian, mengenakan pakaian aneh itu pasti malah membuatku tampak lucu (meski tentu saja tetap menggemaskan! :D). sementara, tangan pak rektor insyaallah masih bisa kujabat kapan-kapan, kalau itu memang dianggap perlu dan mendatangkan berkah. sekarang, cukuplah bagiku untuk sekedar berefleksi.

entahlah apa yang hendak disimbolkan dengan prosesi wisuda ini. ucapan selamat? mungkin. salam perpisahan? mungkin. atau justru upacara kematian? kematian belajar dan berfikir, karena asumsi konyol bahwa wisuda adalah akhir dari keduanya, semacam proklamasi kemerdekaan dari tugas memutar otak. tentu itu merisaukan. tapi itu belum terlihat hari ini, setidaknya. ada kematian lain yang sudah jelas-jelas terlihat: kejujuran mahasiswa.

mahasiswa, sebuah nama seharum kartini. kelompok elit yang selalu hadir mengawal setiap perubahan dan menyuarakan aspirasi nurani ini hari ini memainkan peran penipu. lihatlah, sebagian besar mereka dengan tanpa risih sedikit pun berpose di depan kamera dengan latar belakang KAIN BERGAMBAR deretan buku-buku tebal+seram yang tersusun rapi dalam rak. tidak gratis. mereka harus membayar sekian puluh/belas ribu (aku tidak tahu pasti harganya) untuk bisa difoto di depan GAMBAR itu. padahal, fungsi dari hasil jepretan kamera itu nantinya tidak lebih dari sekedar sebagai alat menipu orang lain, dan mungkin juga diri sendiri.

ada dua pesan tipuan yang hendak disampaikan oleh foto seperti itu. pertama, sang mahasiswa seakan sudah membaca sebagian besar “buku-buku” di belakangnya. kedua, seakan “buku-buku” itu adalah buku sungguhan! dengan begitu, diharapkan orang (ndeso dan katrok?) yang melihatnya akan berdecak kagum. ck ck ck. wuah, tentu sangat membanggakan, tapi semu dan malah bikin ketawa.

hey, tapi jangan-jangan digandrunginya foto-foto tipuan itu tidak berdiri sendiri! bukankah budaya nyontek dan ngrepek dalam ujian di bangku pendidikan adalah penyakit sejenis? (dan jujur, di MAPK dulu, nyontek adalah hal biasa bagi ahmad nadhif and the gang! salah sendiri pelajarannya susah! :D) dan, kebiasaan nitip absen bukankah juga setali tiga uang? karenanya, sah-sah saja di benak para wisudawan-wisudawati itu untuk berpose di depan deretan buku palsu yang tidak pernah dibacanya, berharap akan ada orang yang menyangka bahwa mereka adalah kutu buku akut selama ngendon di bangku kuliah. ahh.

betul, ini adalah “hal kecil” dan para pelakunya tidak akan ditangkap polisi. tapi jika budaya penipuan oleh kaum intelektual ini terus dilestarikan, jangan heran ketika kelak para mahasiswa itu menduduki posisi-posisi kunci di pemerintahan dan dunia kerja, mereka akan begitu ringan melakukan penipuan-penipuan dengan skala yang jauh lebih besar. kasus-kasus ijazah palsu para pejabat, janji-janji palsu partai-partai politik, kebijakan-kebijakan menipu, proyek-proyek syarat KKN, dan praktek-praktek amoral lainnya bisa jadi mempunyai akar peradaban yang sudah terpupuk sejak di lembaga pendidikan bernama sekolah dan universitas.

—-
—-

kepada para mahasiswa penipu, nggak usah dengarkan keluhanku. anggap saja aku ini orang yang iri karena nggak bisa ikut wisuda, yang karenanya mudah sensitif. he he.

~ by ahmad nadhif on November 3, 2007.

6 Responses to “mahasiswa-mahasiswa penipu”

  1. yeah, u rock! hehe, jujur artikelnya sempat membuat muka merah, tp that’s the truth. wis(s)suda(h) (kadang) berarti ucapan turut berduka cita atas datangnya manusia2 tak berguna yg baru.
    btw, waktu wisuda, sy gak ikut2an mejeng depan buku2 serem dan tebel itu. males, dan aneh rasanya… cuma dipoto saat jabat tangan dgn bpk rektor, itupun bukan sy yg minta hehe
    yaa, tunggu wisuda selanjutnya lagi. apa masih bertahan ya? hope so!

    —————–
    alhamdulillah, ternyata ada yang terprofokasi juga.😀

  2. klo gtu sy juga masuk kategori mahasiswa penipu ya? hehe,.. ada benernya juga. tp untuk poto2 di depan layar bergambar buku2 tebel nan serem, sy gak ikut2an. agak gimana gituu
    well, let see wisuda selanjutnya,.. amiin

  3. Halah. Di negeri para penipu ini, semua rasanya sudah tahu tipuan-tipuan itu. Katanya, di antara sesama penipu, dilarang saling menipu, tetapi bantulah menipu yang lainnya.

    Tapi nggak tahu juga kalo anak2 UM itu kebanyakan membawa foto itu ke dunia yang lebih polos. Sing ndek pelosok-pelosok konoh, lho!😀

    Piss… Bang!

    ————
    memangnya anak uner ga ada yang gitu, hah?!😀
    peace, salam ke rahmi ya..tanyain, rudal yang dulu katanya mo dibuat ngebom amerika sudah jadi apa belom. he he.

  4. Dulu q sepertimu, skrgpun mgk masih..tp aq bsyukur ikut prosesi kala itu…disana qtemukan sensasi yg berbeda..bukan krn jubah kebesaran yg bener2 kebesaran, jepretan kamera dan senyum dr mahasiswa2 penipu sprt yg antum simbolkan,.tp.. krn senyum lelaki semesta disampingku n jg mgk senyum perempuan di Alam sana…

    af1,dah bbrp kali mampir..ane skrg Kuliah di pasca UM agk 06, antum y mana ya?

    –> smg perempuan di Alam sana itu selalu tersenyum, ada atau tidak ada prosesi.
    *jurusan inggris bukan? sy sdh jarang ke UM. paling kalo lagi kangen aja maen pagi-pagi buta ke taman H3🙂.

  5. tipu-menipu memang sudah mewabah di setiap guratan kehidupan, seolah menjadi hal lumrah dalam setiap gerakan.
    saya sendiri curiga, jangan-jangan tulisan ini juga dibuat untuk menipu, upaya melepaskan diri dari kategori mahasiswa penipu…🙂

    >> tau aja!😀

  6. setuju bung, saya mahasiswa STKIP Pontianak benar-benar melihat, merasakan dan mengalaminya, yah mau kita pakan lagi bung, siapa yang salah,sistem pendidikan kah, sdm indonesia yang jelek, tak taulah bung, tapi yang pasti budaya malu bangsa indonesia sudah mulai luntur, kontrol sosial rendah. pokok nya banyaklah
    kalau bicara siapa yang salah bung, menurut saya, bung salah, semua orang salah, semua manusia salah, saya sendiri juga salah. mau tau alasanya eamil aja yamuhamadmuhajir@yahoo.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: