naiklah kembali

kereta ini terus bergerak, saudaraku
merangkak, berjalan, berlari, melaju, merangkak lagi
tapi bukan berhenti

darah kami masih menjadi bahan bakarnya
juga darahmu, dulu

sini, aku raih tanganmu
mari, naiklah kembali
kita songsong cahaya.

(melintasi pujon, nop 07)

~ by ahmad nadhif on November 9, 2007.

3 Responses to “naiklah kembali”

  1. gerbong-gerbong itu harus tetap bergerak
    mereka tak memikirkan dimana harus berada
    asalkan tetap dengan satu rantai ikatan yang kuat
    dengan satu lokomotif saja,

    mereka saling memikirkan rekan gerbongnya
    yang didepan ditarik dan mendorong loko,
    merekapun menarik teman gerbong dibelakangnya
    yang ditengah demikian
    begitu pula yang dibelakang
    jika semua gerbong tahu posisinya dan berusaha membantu rekan gerbongnya niscaya perjalanan akan terlaksana

    masih adakah rasa gerbong untuk memikirkan rekan gerbongnya
    ataukah gerbong-gerbong itu merasa saya yang PALING
    maka niscaya perjalanan itu TAK akan terlaksana.

    Semoga Gerbong-gerbong nan indah itu
    Saling mengerti, memahami dan empati
    Niscaya di statiun itu loko dan gerbong-gerbongnya khan mendapat cahaya statiun, setelah menjalani perjalanan di malam hari yang melelahkan.

    satu … padu … fardlu

    umati, umati, umati

    ——————–
    iya,
    yang penting mereka naik kereta,
    jangan sampai tertinggal di jalanan,
    menjadi penonton..
    dan terlindas derap revolusi!

  2. tidak ada yang terlindas saudaraku
    karena di saat rasulullah memasuki kota itu,
    semuanya merasa aman
    demikianlah hikmah yang rasulullah bawa
    karena beliau selalu sabar dalam menarik tangan penumpang
    yang ingin dibawanya
    semoga Allah meridloi kita semua

    ————————
    “terlindas” yg sy maksud bukan berarti “merasa tidak aman”. itu adalah bahasa ngawur saya untuk mengatakan “kehilangan kesempatan untuk tercatat di Buku Besar malaikat Raqib sebagai salah satu pengusung revolusi”. oke, lain kali sy tdk akan sok nyastra, krn sdh banyak yg jd korban😀

  3. (iya, sudah banyak korbannya)

    “aku tak ingin di gerbong paling belakang lagi
    bagaimanapun aku akan cari tiket dekat masinis
    agar aku turut melihat di depan,
    ato sekalian membantu awak kereta mengisi batu bara
    …eh, kereta apa sih? :)”

    ——
    ya udah deh, keretanya pake tenaga uap🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: