bejo dan kebenaran nisbi

“There is no absolute truth”. Kalimat itu yang oleh Bejo selalu diumbar kemana-mana. Tidak ada kebenaran absolut, begitulah keyakinannya. Orang tidak boleh meyakini bahwa hanya agamanyalah satu-satunya yang benar, karena kebenaran hanyalah sesuatu yang nisbi. Orang tidak boleh menyalahkan keyakinan para penganut atheisme sekalipun, karena mereka juga memiliki kebenaran. Semua itu diungkapkan Bejo dengan ekspresi wajah yang sok ilmiah. Oalah, Bejo.

Kalau memang benar bahwa “tidak ada kebenaran absolut” maka pernyataan “tidak ada kebenaran absolut” itu sendiri pun menjadi belum tentu benar kan? Betapa absurdnya ide Bejo ini. Ini benar-benar pernyataan bunuh diri yang setelak-telaknya.

Tapi Bejo tidak sendirian. Bersamanya ada barisan pengaku intelektual dan pengaku pendobrak kejumudan pemikiran. Sebagaimana Bejo, mereka menganggap tidak ada agama yang mutlak benar. Islam adalah agama yang benar, begitu juga Kristen, Budha, Darmo Gandhul, Gatholoco, dan aliran keagamaan macam apapun! Wajar jika mereka menganggap lucu orang yang berpindah agama. Wong agama-agama itu sama benarnya kok ngapain repot-repot pindah segala?! Oalah, Ngger.

Agak susah dinalar memang. Bagaimana mungkin agama yang menyatakan bahwa Yesus bukan Tuhan dianggap sama benarnya dengan yang menyatakan Yesus adalah Tuhan? Jika dalilnya hanyalah there is no absolute truth di atas, sudah terbukti kekonyolannya. Tapi ternyata ada dalil lainnya. Mereka berkata, gara-gara para pemeluk agama meyakini agama lain salah, maka banyak terjadi penyerangan terhadap pemeluk agama lain. Perang dan pertumpahan darah di mana-mana. Karena itu, tidak boleh ada lagi klaim kebenaran suatu agama biar dunia ini damai (ngomong-ngomong, berapa persen sih peperangan yang terjadi di dunia ini terjadi karena klaim kebenaran agama?).

Begitulah, semua agama disamabenarkan bukan karena agama-agama itu pada dasarnya memang sama-sama benar, melainkan karena sikap meyakini agama lain salah itu dianggap telah menimbulkan bahaya.

Ini adalah logika yang lahir di Eropa. Dunia Barat memang pernah dibuat trauma oleh pembantaian besar-besaran akibat pertikaian Katholik dan Protestan. Misalnya pada 1527, di Paris terjadi peristiwa yang disebut The St Bartholomeus Day’s Massacre. Pada suatu malam di tahun itu, sekitar 10.000 orang Protestan dibantai oleh orang Katolik. Peristiwa mengerikan semacam inlah yang lalu mengilhami revisi teologi Katolik dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Semula diyakini bahwa extra ecclesiam nulla salus, tak ada keselamatan di luar gereja. Lalu diubah, bahwa kebenaran dan keselamatan itu bisa saja ada di luar gereja (di luar agama Katolik).

Logika yang begitu rapuh. Paham yang menyatakan semua agama sama benar akan secara otomatis kehilangan relevansinya jika ditempatkan pada sebuah realitas di mana pemeluk agama tertentu justru sangat menghormati kebebasan pemeluk agama lain menjalankan agamanya. Sebuah ide yang didasarkan pada kondisi lingkungan tertentu dengan sendirinya menjadi tumbang ketika berada dalam lingkungan yang berbeda.

Dunia Islam mempunyai pengalaman kehidupan beragama yang berbeda dengan Eropa. Saat kaum muslimin berkuasa dengan Daulah Khilafahnya, orang-orang Kristen, Yahudi, dan pemeluk agama-agama lain bisa hidup tentram di dalamnya. Para sejarawan menyebut satu masa di Spanyol sebagai the golden age, karena pada masa itu hidup damailah tiga agama besar: Islam, Yahudi, dan Nasrani. Dan itu terjadi saat kaum muslimin memegang tampuk kekuasaan di negeri itu.

Orang-orang kafir yang tinggal berdampingan dengan kaum muslim dalam Daulah Khilafah seperti inilah yang disebut sebagai kafir dzimmi. Komunitas inilah yang dikatakan Rasulullah Muhammad sebagai siapa saja yang menyakitinya sama dengan menyakiti beliau, dan siapa saja yang menyakiti beliau sama dengan menyakiti Allah. Kaum muslim meyakini doktrin tegas agamanya bahwa tidak boleh memaksa orang lain masuk agama Islam (TQS 2: 256). Jihad hujumi (ofensif) pun bukan dilancarkan untuk memaksa orang masuk Islam (meski seruan masuk Islam tetap dilakukan), melainkan untuk hidup di bawah naungan Daulah Islam, yang menjamin kebebasan umat non-muslim menjalankan agamanya.

Walhasil, kalau pun toh alasan “daripada berkelahi” dianggap sah untuk membenarkan semua agama (padahal sebenarnya jauh dari rasional!), alasan itu tidak mempunyai tempat sama sekali ketika dihadapkan pada sisi normatif maupun realitas sejarah umat Islam. Wallahua’lam.

tidak bisa tidur, 21 jan 2008.

~ by ahmad nadhif on January 22, 2008.

One Response to “bejo dan kebenaran nisbi”

  1. maksudnya nisbi itu gmn seh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: