aku juga kerasan di sini

(sebuah email yang tak jadi dikirimkan)

tentang alam. udara jauh lebih bersih di sini. ruas-ruas jalan seringkali begitu lengang dari kendaraan bermotor, bahkan di siang hari. pabrik-pabrik penghasil polusi, belum satu pun kutemui. tidak seperti di krebet, dengan pabrik gulanya itu. pohon-pohon cukup banyak. juga sawah yang terbentang luas, kulewati setiap kali pergi ke kampus bersepeda kumbang.

belum lagi burung-burung gereja. aih aih. di pagi hari, saat kubuka jendela, mereka selalu ada di sana. berkicau. kala senja, kadang mereka masuk kamar. pernah satu ekor terkurung nggak bisa keluar (karena sengaja kujebak, he he) dan kupaksa menemaniku semalaman. habis gemes!πŸ™‚

tentang kampus. mungil, bersih, nyaman, peralatan dan gedung-gedungnya relatif baru. tapi, bukan itu yang hendak kubicarakan, melainkan perpusnya. pertama kali ke sana, aku langsung menghambur ke bagian kitab-kitab klasik. mestinya aku membawa cermin agar bisa melihat binar mataku saat mendapati al-mughni-nya ibnu qudamah, kitab setebal sekitar 1/2 meter, yang sudah sejak begitu lama ingin kucumbui. juga al-umm-nya asy-syafi’ie, yang dulu aku harus puas hanya dengan mendengar namanya dari ust muhayyan. dan banyak lagi yang lain, meski al-fihrist-nya ibnu nadim tidak kutemukan. rak-rak itu penuh dengan kitab-kitab berharga yang memuat aneka tsaqafah. di sanalah tersimpan a’dzamuts-tsarwah, harta paling berharga, meminjam an-nabhani dalam muqaddimah an-nidzaamul iqtishaadi fil islam-nya.

memang sih, kitab-kitab itu sudah terkumpul di CD-CD semacam al-maktabah asy-syaamilah, tetapi entahlah, bagiku, membaca tulisan-tulisan di atas kertas kusam kekuningan seperti itu terasa memberi sensasi yang berbeda, apalagi jika sesekali aroma kertasnya terhirup bersama tarikan nafas. lebih punya taste!, kata iklan . kitab-kitab ini seakan membayar lunas “ajakan halus” seorang perempuan yang datang tertunduk sekian tahun lalu sembari lirih berkata (kira-kira gini), “mas, buya (baca: abah) meninggalkan begitu banyak kitab. sementara kami, anak-anaknya, tidak ada yang bisa memanfaatkan. jadi,…(sensor! :D)”.

tentang manusia. seperti yang kubayangkan dan kuharapkan sebelumnya, di sini ada banyak orang yang bisa menemaniku memperdalam bahasa arab, bahasa islam. mahasiswa dan dosen, nggak sedikit yang jebolan pesantren. keren euy pokonamah! (meminjam jakabadung. nuhun, bro).

manusia lucu juga hampir ada di setiap sudut. jangan tanya mahasiswanya (apalagi di kelas TBC), dosen-dosennya kadang konyol banget, juga pak ketuanya!. guyonan-guyonan ala pesantren, yang terasa sudah begitu lama tidak terdengar, kini sering muncul. ungkapan-ungkapan seperti “walaa s1 walaa s2” menyegarkan suasana rapat. guyonan yang keminggris juga ada. hari ini misalnya, saat antri ambil makan siang, seorang dosen bahasa arab nyeletuk, “ladies first means ludes first”.πŸ˜€

mau diskusi serius, tinggal pilih mau dengan siapa. bahkan seorang penjaga perpus pun melayaniku berjam-jam diskusi tentang masa depan umat islam. atmosfer intelektualitas sepertinya tumbuh bagus di sini. belum satu minggu aku datang, sudah “disambut” dengan seminar regional tentang ideologi trans-nasional! dan siapa lagi yang dibicarakan kalo bukan … (terusin sendiri).

tapi kadang juga ada yang menjengkelkan. masak di ruang dosen, tema “ayat-ayat cinta” sempat rame diperbincangkan?! laki-laki semua lagi pesertanya! padahal, kukubur cita-citaku menjadi guru SMP-SMA saat kuketahui apa yang biasa diobrolkan para guru di kantornya waktu aku PPL dulu. tapi tak apalah, kuanggap itu sebagai bumbu. bisa dimaklumi. toh aku sendiri kalau nonton TV nggak mesti memilih acara-acara yang bermutu. tawa sutra bahkan masih jadi favorit sampai hari ini.πŸ™‚

tentang perjuangan. aku ingin menyimpannya dulu, biar mengendap dalam sunyi, dan kelak terlahir lebih dari sekedar bait-bait puisi. kelak, insyaAllah, aku juga akan bercerita tentang pak zen dan keluarganya, yang selalu mengingatkanku pada abu ayyub al-anshori, saat rasulullah hijrah ke madinah. juga, para petani dan remaja-remaja tak bersekolah, yang menyimpan pemikiran singa di dada masing-masing. tentang kesederhanaan, ketulusan, ketangguhan, pengorbanan, semuanya. kelak.

sekarang, cukuplah aku katakan bahwa aku bahagia di sini. kerasan. alhamdulillah.

~ by ahmad nadhif on March 12, 2008.

2 Responses to “aku juga kerasan di sini”

  1. kapan-kapan kita juga duscus kang sapa tau ajah saya nemuin pencerahan lagi. hehehe! maen jakarta lagi atuh, ahad besok kita mau masyroh lagi niy, kayanya bakalan rame!

    >> duscus kuwi opo tho?πŸ™‚ iya, pengen kpn2 maen lg ke jkt. kmrn bner2 ga s4 mngunjungi org2 tercinta. skali lg sy nitip satu takbir utk ahad bsk. yg kenceng ya..πŸ˜€

  2. main ladang main belalang jangan lupa kandang kang? euy!!

    >> yang bener “lain”, bukan “main”! gmn sih?! he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: