ideologi bukan teknologi

Ideologi bukanlah teknologi. Ia tidak otomatis jadi kuno dengan datangnya ideologi baru. Yang baru itu pun tidak serta merta lebih baik dari yang lama.

Meletakkan ideologi dan teknologi sebagai objek perbandingan, dalam kacamata ilmu logika, merupakan fallacy of false analogy, atau dalam bahasa ushul fiqh dikenal dengan istilah al-qiyaas ma’a al-faariq. Yaitu, kesalahan berfikir karena membandingkan sesuatu yang tidak sebanding, yang karenanya baathil. Tapi ini yang seringkali terjadi, terutama dalam diskursus perjuangan penegakan syariat Islam di era modern seperti sekarang.

Baru-baru ini, ketika saya mengajukan syariah Islam sebagai solusi atas marabahaya yang dapat ditimbulkan oleh kebijakan privatisasi BUMN, seseorang langsung menyergah, “lha, yang begini ini nih yang akan membuat kita backward ke zaman baheula!”

Begitulah, seakan mengganti ideologi Kapitalisme dengan ideologi Islam sama saja dengan mengganti komputer pentium 4 dengan mesin ketik manual; atau, jika analoginya adalah kendaraan, itu sama dengan mengganti BMW dengan unta atau kuda. Itu semata karena syariah Islam lahir zaman Rasulullah, sekian belas abad yang lalu.

Padahal ideologi mempunyai sifat yang berbeda. Kapan ia lahir tidaklah menjadi variabel penting dalam menentukan kelayakannya. Demokrasi, misalnya (meski ia tidak utuh sebagai ideologi), paham ini lahir ratusan tahun sebelum Masehi, jauh sebelum muncul dan berkembangnya Teokrasi di Eropa. Meski demikian, saat meletus Revolusi Perancis, yang menandai bangkitnya Eropa dari masa kegelapan, Demokrasi dilirik dan dipilih untuk menggantikan paham Teokrasi, yang notabene jauh lebih muda dari sisi usia tetapi terbukti menjadi penyebab keterpurukan. Tentu saja keputusan itu tidak berarti Eropa mundur ke zaman baheula.

Begitu pula, jika suatu saat nanti ideologi Islam mengambil alih posisi Kapitalisme dan Demokrasinya, itu tidak lantas bisa dikatakan mundur, backward. Tidak! Kuno dan modern adalah kosakata untuk dunia teknologi, bukan ideologi.

Benar tidaknya sebuah ideologi mestinya dilihat dari sahih tidaknya fundamen yang mendasarinya. Fundamen tersebut adalah jawaban atas tiga pertanyaan besar (al-uqdatu al-kubraa) yang selalu menghantui manusia: dari mana manusia datang? untuk apa manusia hidup? dan kemana manusia pergi setelah mati? Sahih tidaknya jawaban dilihat dari kesesuaiannya dengan fakta yang ada, dan tentu saja harus didukung dengan bukti-bukti. Dalam bahasa An-Nabhani, fundamen ideologi yang benar haruslah muthaabiqu li al-waqii’ ‘an al-daliil, sesuai dengan realitas berdasarkan dalil. Dan karena al-uqdatu al-kubraa ini merupakan pertanyaan yang lintas zaman, itulah mengapa mestinya tidak ada istilah kuno atau backward atau apapun sinonimnya ketika membicarakan ideologi.

Yang lebih konyol, orang-orang yang mengatakan bahwa syariat Islam sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, seringkali gagap ketika ditanya konsep mereka untuk menyelesaikan berbagai problema hidup hasil karya Kapitalisme. Bahkan, seringkali mereka tidak punya konsep apapun. Lihatlah JIL, apa yang ditawarkannya ketika terkuak kasus busung lapar di berbagai daerah, atau ketika dikeluarkan UU SDA dan PMA, yang begitu berpihak pada kapitalis itu, misalnya? Tidak ada. Padahal jika kepentingan mereka adalah menghadang penegakan syariat Islam, mestinya mereka memberikan solusi alternatif, tidak hanya dengan menuding-konyol “kembali ke zaman baheula.” Wallaahu a’lam.

~ by ahmad nadhif on March 16, 2008.

7 Responses to “ideologi bukan teknologi”

  1. tulisan yang sangat bagus saudaraku:-)
    salam

    >> thanks, brother🙂

  2. luar biasa.. tulisan yang menurut hemat saya mampu mematahkan utopisme [mereka]

    >> dari kemaren “luar biasa” terus kmentarnya!😀

  3. AH BIASA AJAH, tulisan-tulisan akang yang satu ini biasa ajah! biasa bagus sama kaya yang dulu-dulu. he he he. alhamdulillah tugas telah dilaksanakan satu buat akang, sisanya buat sy ma temen-temen. ALLOHUAKBAR!! thanx oleh-olehnya. kapan-kapan kirimin skalian ma makanan ringannya juga dunk!

    >> makanan berat, enggak? he he.

  4. kang dah nonton film fitnanya greet wilders blom? saya coba-coba down load ko ga dapet-dapet ya! gimana caranyah, tau ga?

    >> belum tuh, takut ngamuk trus banting monitor. smg rentetan pelecehan thd islam membuka mata kaum muslim bahwa kita butuh khilafah, bukannya nation-state letoy dg dasar sekularisme brengsek spt skrg! *sy blm coba mendownloadnya. situs fitnathemovie.com “has been suspended”.

  5. salam kenal sobad!

    >> salam. kok blognya belum ada isinya?🙂

  6. ideologi bisa menghasilkan teknologi tetapi ngak bisa dibalik teknologi menghasilkan idelogi, tul ngak?

    >> tul!🙂

  7. nice posting…
    kapan lagi Islam menguasai dunia ya?

    >> bentar lagi, insyaAllah. asal kita terus bergerak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: