jejak pertama (jalan panjang 10)

“..di akhir perjalanan menembus hutan belantara, apa yang ingin mas nadhif temui: sungai, air terjun, atau telaga? hanya boleh milih salah satu..” (gadis&yuni, 2007)

saat itu, bersama muda’i ihsan dan arif wahyudi, aku tak menyangka, bahwa pada akhirnya aku akan menetap di kota ini. pagi cerah 16 desember 1998, bersama mereka kujejakkan tapak kaki di tepian telaga ngebel, ponorogo. itu untuk pertama kalinya aku menyentuh tanah reog ini.

perjalanan dimulai tanggal 15 desember dari madiun, tepatnya desa prambon, melewati segulung, mendak, morosowo, umbul, manyutan, menongo, dan akhirnya ngebel. hampir semua daerah itu terletak di tengah hutan di atas gunung.

awalnya lancar-lancar saja. berangkat pagi, kami perkirakan paling banter ashar sudah sampai ngebel. tapi di tengah perjalanan, kami tergoda dengan sebuah anak panah ke kiri (mengarah masuk ke rerimbunan pohon) yang di bawahnya ada tulisan “AIR TERJUN, SEKIAN RATUS METER” (aku lupa berapa tepatnya). kami ikuti anak panah itu dengan riang, berharap bisa mengguyur badan barang sebentar. tapi ternyata, perjalanan tidak semudah yang kami bayangkan. kami malah tersesat!

jalan setapak yang tadinya agak jelas terlihat, semakin mengecil dan samar. sisi kanan terdapat tebing yang ditetumbuhi aneka semak dan pepohonan kecil; sementara di kiri adalah jurang terjal. di bawah sana ada sungai berkelok. pasti sungai itu yang terhubung dengan air terjun. karenanya, setelah jalanan semakin sulit dilalui, kami putuskan untuk menuruni jurang dan merencanakan penyusuran lewat sungai.

ketinggian jurang itu kira-kira 60 meteran dengan kemiringan kutaksir tidak kurang dari 70 derajat. muda’i turun lebih dulu, aku menyusul setelahnya, kemudian arif. batang pohon-pohon kecil kami jadikan pegangan dan bebatuan yang menonjol di dinding jurang kami jadikan tumpuan. tiba-tiba, batu yang kupijak ambrol, besarnya kira-kira 3 genggaman orang dewasa. untunglah tangan kananku masih bergelayut di sebuah batang pohon. tapi batu bercampur tanah itu meluncur deras ke bawah, tepat ke arah muda’i. aku sempat berteriak memberitahunya, tapi kejadian berlangsung terlalu cepat dan ruang gerak sangat terbatas sehingga manusia baik hati itu hanya bisa pasrah menyiapkan punggungnya. mbukkk!! alhamdulillah tidak sampai luka, sehingga minta maafnya nggak perlu seru-seru.

akhirnya sampai juga di bawah. demi melihat air sungai yang begitu jernih, kami memutuskan untuk melupakan sejenak tentang air terjun. kami mandi sepuasnya! baru setelah itu kami bergerak ke hulu, tempat air terjun kami perkirakan berada. suara gemuruh terdengar dari sana, menyatu dengan kicau burung dan binatang-binatang rimba lainnya.

sekian puluh menit kami berjalan, tidak juga terdapat tanda semakin dekatnya air terjun. bahkan suara gemuruh terdengar makin samar. sementara matahari sudah semakin meninggi. akhirnya kami tersadar bahwa tujuan awal perjalanan adalah telaga ngebel, bukan air terjun yang lokasinya ruwet ini! kami pun naik kembali ke atas tebing dengan susah payah.

sampai di puncak, tampaklah di kejauhan beberapa rumah sederhana. senangnya. kami pun melangkahkan kaki ke sana, berharap petunjuk jalan menuju telaga, yang pastilah masih sangat jauh.

rumah yang kami datangi adalah milik keluarga bapak rukijan. isteri beliau bernama ibu sakinah, dan dua anaknya adalah mas kuatno, dan wandi. wandi inilah yang akhirnya membawa kami ke seorang pemuda tetangganya bernama pujiono setelah dia tahu bahwa kami baru saja mencari air terjun tapi nggak ketemu-ketemu. wandi bilang bahwa pujiono akan pergi mencari makanan ternaknya di dekat air terjun. semangat melihat air terjun pun bangkit kembali. kami terima tawaran untuk ikut pujiono.

ternyata air terjunnya ada dua buah! dua-duanya indah, meski nggak terlalu besar. yang satu malah seperti bertingkat, karena di tengah-tengahnya ada jalan setapak yang memotongnya. ke situlah pujiono membawa kami. air turun dari atas kami, kemudian meluncur lagi jauh ke bawah. indahnya.

langit mendung saat pujiono menyelesaikan tugasnya mencari rambanan. kami pun dipersilahkan mampir ke rumahnya. mandi dan sholat. dan di rumah inilah kami dipaksanya untuk menginap semalam dan melanjutkan perjalanan ke ngebel esok harinya. alasannya sangat masuk akal: hari menjelang sore dan hujan pun mungkin segera turun. kami pun menerimanya.

pojiono adalah putra pertama pak woso tamun. ibunya bernama katirah. ia mempunyai seorang adik perempuan. namanya suliati. pak woso tamun adalah tokoh di kawasan ini, morosowo. keluarga ini memiliki seperangkat alat gamelan. setidaknya itu menunjukkan ada ketertarikan mereka terhadap musik. asyik!

sore itu hujan belum turun juga. hanya gerimis yang merintik. kami berempat jalan-jalan menyusuri desa. rumah-rumah yang jumlahnya hanya beberapa saling berjauhan antara satu dengan yang lain. sepi. tapi ada sekolah di sebuah sudut jalan. SD negeri. bangunannya lumayan bagus. seperti SD-SD kebanyakan. di depannya juga ada halaman yang cukup luas, yang dibatasi dengan pagar tembok setinggi pusar orang dewasa.

maghrib kami balik ke rumah. ngobrol ngalur ngidul hingga isya’. kemudian satu persatu datanglah para pemuda kampung. mereka hendak main gamelan. itulah hiburan mereka tiap malam, kata puji. karenanya rumahnya tak pernah sepi.

musik pun tak lama kemudian mengalun. nang ning nang nung…nang ning nang nung. sementara hujan mulai turun. lama-lama sangat deras bergemuruh. seperti mengamuk. kami nggak bisa membayangkan seandainya kami nggak menerima tawaran puji untuk menginap di rumahnya ini. syukur kami panjatkan.

musik terus mengalun syahdu, berbaur dengan gemuruh deras hujan, dan sesekali gelegar guntur. kami bertiga pun akhirnya terlelap, dalam perpaduan rasa yang aneh: damai dan ngeri.

pagi-pagi, kami pamitan untuk meneruskan perjalanan. terima kasih banyak untuk warga morosowo, terutama puji sekeluarga.

sejak keluar rumah, tampaklah dampak kerusakan yang ditimbulkan hujan badai semalam. pagar SD yang sorenya masih terlihat kokoh, kini ada bagiannya yang ambruk diterjang air. tapi rumah-rumah warga masih terlihat seperti sedia kala. dan insyaallah tidak ada yang menjadi korban. semoga.

pagi yang cerah. sinar matahari mengusir titik-titik embun, juga sisa hujan semalam, dari daun-daun pohon. suara burung-burung hutan terdengar bersahutan.

setelah sekian jam berjalan, tampaklah dari atas, dari balik pepohonan, hamparan telaga ngebel. senyum pun menjadi sesuatu yang tidak bisa ditahan. kecepatan jalan kaki kami pun seperti otomatis bertambah.

perjalanan berakhir dengan duduk santai di tepi telaga, sambil makan kacang (kalau nggak salah). jika 9 tahun kemudian gadis dan yuni memintaku memilih salah satu di antara sungai, air tejun, atau telaga, hatiku pun tersenyum. dalam perjalanan ke ngebel, meski nggak semuanya terletak di akhir, aku bisa mendapatkan ketiga-tiganya!

kini, aku menetap di sini, di kota ini. dan ngebel hanya 19 km lagi.

~ by ahmad nadhif on April 7, 2008.

3 Responses to “jejak pertama (jalan panjang 10)”

  1. mas udah bisa ngenet lewat HP, ini jawabnya pake HP. Hemat pulsa hemat biaya

    >> alhamdulillah. sekali-kali nulis ya, lung.🙂

  2. maju terus

  3. good luck………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: