dagelan boros

makin lama, pemilu semakin menyempurnakan dirinya sebagai ajang dagelan boros.

jawapos hari ini (2/9/08) memberitakan bahwa seorang pimpinan partai (sebut saja Mr X) bakal menghamburkan miliaran rupiah di pemilu 2009. hadiah uang Rp 10 miliar akan diberikannya kepada caleg yang memperoleh suara terbanyak di Indonesia, 5 miliar untuk caleg internal partai bersangkutan yang memperoleh suara terbanyak di antara sesama kader, dan 1 miliar untuk caleg yang berhasil mencapai 30 persen dari bilangan pembagi pemilih (BPP) di dapil masing-masing.

apa tujuannya? simpel. menurut sekjen DPP partai tersebut, melalui sayembara itu, para caleg didorong berbuat banyak bagi rakyat. mau tidak mau, kata sang sekjen, mereka harus turun dengan berbagai aksi konkret, mulai kegiatan sosial, pemberian santunan, sampai perbaikan ekonomi rakyat. ”ini namanya pancingan supaya para caleg kita bersemangat dan bersaing secara positif dalam pemilu 2009 nanti,” katanya.

logika yang aneh. memangnya selama ini para caleg tidak bersemangat ketika berkampanye? di mana-mana yang terlihat adalah semangatnya, termasuk Mr X sendiri (meski bukan sebagai caleg) dalam iklan dirinya, meski tidak ada iming-iming 10 miliar. bahkan semangat Mr X itu membawa korban. suster andi rabiah, yang populer dipanggil suster apung, merasa tertipu saat dijadikan bintang iklan “hidup adalah perbuatan” (kompas 15/08/08).

posisi caleg, apalagi presiden, adalah lahan yang sangat basah untuk mengeruk kekayaan. itu sudah cukup untuk menarik minat orang-orang yang gila uang. hadiah miliaran rupiah yang dijanjikan Mr X hanya semakin mempertegas fakta bahwa mereka-mereka yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif kebanyakan adalah pemburu kemewahan, bukan pihak yang benar-benar tulus memperjuangkan aspirasi rakyat. dari sini pula, usaha menghubungkan hadiah Rp 10 M dengan peningkatan persaingan positif dalam pemilu sulit dicari korelasinya. justru sangat dimungkinkan hadiah tersebut malah membuat para caleg semakin “kreatif” menempuh cara-cara negatif.

walhasil, akan sangat ironis jika para caleg tersebut turun ke masyarakat dengan berbagai aksi konkret, mulai kegiatan sosial, pemberian santunan, sampai perbaikan ekonomi rakyat hanya pada masa kampanye dan dengan sendirinya kegiatan-kegiatan “mulia” akan terhenti itu ketika jabatan plus uang Rp 10 M sudah didapat.

jika manusia-manusia seperti itu berhasil menduduki jabatan incarannya, tumpaslah kepentingan rakyat, sebagaimana selama ini terjadi. berbagai produk UU yang dilahirkan DPR terbukti hanya upaya untuk melayani kepetingan-kepentingan pemilik modal, bukan rakyat yang diwakilinya. UU migas, kelistrikan, pelayaran, dan lain sebagainya, adalah bukti dari semua itu.

jika mereka gagal, memang tidak akan banyak berpengaruh pada rakyat. tetapi, diri dan keluarga bisa hancur, tidak hanya pada level finansial tetapi juga sosial. beberapa waktu lalu, seorang calon bupati ponorogo yang gagal dalam pilbub 2005 berkali-kali mencoba bunuh diri karena terlilit hutang miliaran rupiah yang ia pakai untuk dana kampanye.

di sisi lain, secara nakal, orang juga akan tergoda untuk bertanya: jika untuk orang lain saja Mr X mengeluarkan setidaknya Rp 16 M, berapa kira-kira duit yang dibelanjakan untuk dirinya sendiri sebagai (naga-naganya) calon presiden? maklumlah kita, bahwa kontestan pemilu butuh dana sangat besar. sekedar untuk maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur jatim saja, sebagaimana laporan gp-anshor.org, pasangan peraih angka terbanyak di pilgub putaran 1 kemarin menghabiskan dana sekitar Rp 1,3 triliun.

tidak hanya di tingkat peserta pemilu dana banyak dikucurkan. negara sebagai institusi penyelenggara pemilu pun juga mengeluarkan tidak sedikit uang. untuk 2009, dana pemilu dianggarkan Rp 6,67T dan untuk operasional KPU sebesar Rp 793,9 Miliar, sebagaimana laporan beritasore.com tanggal 1 juni 2008.

dan, pemilu yang mahal ini terjadi lima tahun sekali. itu tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di propinsi dan kabupaten, bahkan desa. ironisnya, seringkali pemimpin terpilih tetap saja pemimpin korup, juga para anggota legislatifnya! tidakkah ini dagelan yang boros? tidakkah ada yang berfikir bahwa dana pemilu yang begitu besar itu akan jauh lebih baik digunakan untuk membangun sekolah atau mengentaskan orang-orang miskin dari kemelaratannya? dan tidakkah ada di antara kita yang memberanikan diri bertanya, setidaknya dalam fikiran, betulkah demokrasi memang satu-satunya pilihan?

ngantor hari kedua, 02/09/08

~ by ahmad nadhif on September 2, 2008.

4 Responses to “dagelan boros”

  1. Indonesia negara dagelan….

    Melihat berita kemarin, KPU rencananya mulai tanggal 9 nanti sampai tanggal 3 Oktober akan mengadakan kunjungan ke 14 negara dalam rangka sosialisasi Pemilu 2009… dananya mencapai 43 Milyar…… Angka yang fantastis mengingat keadaan negeri saat ini…..

    dagelan macam mana pula ini?

    >> sejak kapan jadi orang batak, zax? macam mana pula ini!😀

  2. memang mereka dagelan tidak terlucu sedunia…….

  3. karena tak selamanya demokrasi itu indah….
    mengutip sebuah lirik lagu cinta yang dulu kerap diputar di radio, entah apa judulnya dan siapa penyanyinya….

    assalamu’alaikum pak nadhif….

    >> emg demokrasi pernah indah? wa’alaykum salam, den.😦

  4. Demokrasi yang berlebih-lebihan…
    (Memangnya ada ya yang tidak berlebih-lebihan)

    >> ada di, banyak malah yang kekurangan. salah satunya yaitu kekurangan ajar, jadinya kurang a**r!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: