tentang mata kita

sekitar 17 tahun lalu, di sebuah desa kecil. seorang bocah mengeluh pada neneknya tentang matanya yang sudah beberapa hari sakit. seperti ada kerikil kecil yang mengganjal.

“yuk, diperiksa ke pak heri,” kata sang nenek menyebut nama seorang dokter puskesmas yang tinggal sekitar 9km ke utara.

berdua mereka berangkat, dengan bekal seadanya. sang nenek bahkan tidak merasa perlu untuk mengganti jarik kebaya-nya, yang sedikit robek.

“harus segera dibawa ke kota, rumah sakit,” kata sang dokter setelah memeriksa, tanpa memberitahu ada apa dengan mata sang cucu. wajah sang nenek pias, panik.

“kami pulang dulu ya pak dokter. ngajak kakek yang sekarang masih
di sawah. saya tidak berani mengantar sendiri ke kota. takut tersesat,” rajuk sang nenek.

“tidak usah, nek. takut terlambat,” tolak dr. heri. dia lalu menjelaskan panjang lebar dan berulang-ulang rute perjalanan ke rumah sakit di kota yang berjarak sekitar 40km dari tempat mereka bicara.

“saya tidak membawa uang cukup, pak dokter,” ujar sang nenek lagi.

“nih, pakai uang saya saja dulu,” kata sang dokter sambil mengeluarkan selembar 10 ribuan. sang nenek awalnya agak ragu menerima, tetapi akhirnya digenggamnya juga uang itu setelah sang dokter memaksanya.

“silahkan berangkat. semoga tidak terlambat,” hantarnya.

perjalanan itu harus ditempuh dengan naik angkutan desa 2 kali. ketika sudah sampai di kota, sang nenek sibuk bertanya pada para penumpang lain di mana harus turun jika mau ke rumah sakit.

akhirnya nenek-cucu itu sampai juga pintu pagar bangunan yang dicarinya. rumah sakit dr. koesma namanya. mereka masuk dengan cara mengikuti langkah orang yang kebetulan lewat. terus masuk hingga mereka menemukan sebuah ruang dengan tulisan POLI MATA di dekat pintunya. mereka berhenti di situ. duduk lama. ikut antri. hingga ada orang yang memberitahu mereka untuk membeli tiket terlebih dahulu.

sekian minggu kemudian, setelah 3-4 kali kontrol, yang membuat mereka menjadi setengah hafal peta RS dr. koesma, alhamdulillah mata sang cucu sembuh. sebuah bintik putih yang tadinya diketahui sebagai penyebab sakit, hilang musnah.

hari ini, sekitar 17 tahun setelahnya, sang cucu akan mengantar sang nenek untuk menjalani sebuah operasi mata. katarak. mestinya sudah sejak lama. tapi sekarang baru kuasa.

dan cucu itu adalah aku. iya, aku.

tiba-tiba aku begitu ingin bertemu dr. heri. entah di mana kau sekarang, pak dokter..

~ by ahmad nadhif on December 15, 2008.

2 Responses to “tentang mata kita”

  1. Aku juga cucunya.
    Masih terus berdoa suatu saat nanti bisa mengantarnya.
    Sambil menghadiahkan album foto yang akan menemani kesembuhannya.
    Sementara kita masih berjauhan.

    >> speechless in prayer..:)

  2. Mas .. apa kabar nenek mas Nadhif? Ingat nenek-kakek, aku jadi menyesal dan sangsi belum bisa membalas jasa kakek yang mengajari aku baca Al-Qur’an.

    >> alhamdulillah, penglihatan beliau sudah kembali normal. skrg sudah bisa baca alquran lagi. makasih atas doa-doanya. dg smpean sering2 baca alquran, insyaAllah kakek akan merasa “terbalas”. keep on reciting!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: