tentang mata kita

•December 15, 2008 • 2 Comments

sekitar 17 tahun lalu, di sebuah desa kecil. seorang bocah mengeluh pada neneknya tentang matanya yang sudah beberapa hari sakit. seperti ada kerikil kecil yang mengganjal.

“yuk, diperiksa ke pak heri,” kata sang nenek menyebut nama seorang dokter puskesmas yang tinggal sekitar 9km ke utara.

berdua mereka berangkat, dengan bekal seadanya. sang nenek bahkan tidak merasa perlu untuk mengganti jarik kebaya-nya, yang sedikit robek.

“harus segera dibawa ke kota, rumah sakit,” kata sang dokter setelah memeriksa, tanpa memberitahu ada apa dengan mata sang cucu. wajah sang nenek pias, panik.

“kami pulang dulu ya pak dokter. ngajak kakek yang sekarang masih
di sawah. saya tidak berani mengantar sendiri ke kota. takut tersesat,” rajuk sang nenek.

“tidak usah, nek. takut terlambat,” tolak dr. heri. dia lalu menjelaskan panjang lebar dan berulang-ulang rute perjalanan ke rumah sakit di kota yang berjarak sekitar 40km dari tempat mereka bicara.

“saya tidak membawa uang cukup, pak dokter,” ujar sang nenek lagi.

“nih, pakai uang saya saja dulu,” kata sang dokter sambil mengeluarkan selembar 10 ribuan. sang nenek awalnya agak ragu menerima, tetapi akhirnya digenggamnya juga uang itu setelah sang dokter memaksanya.

“silahkan berangkat. semoga tidak terlambat,” hantarnya.

perjalanan itu harus ditempuh dengan naik angkutan desa 2 kali. ketika sudah sampai di kota, sang nenek sibuk bertanya pada para penumpang lain di mana harus turun jika mau ke rumah sakit.

akhirnya nenek-cucu itu sampai juga pintu pagar bangunan yang dicarinya. rumah sakit dr. koesma namanya. mereka masuk dengan cara mengikuti langkah orang yang kebetulan lewat. terus masuk hingga mereka menemukan sebuah ruang dengan tulisan POLI MATA di dekat pintunya. mereka berhenti di situ. duduk lama. ikut antri. hingga ada orang yang memberitahu mereka untuk membeli tiket terlebih dahulu.

sekian minggu kemudian, setelah 3-4 kali kontrol, yang membuat mereka menjadi setengah hafal peta RS dr. koesma, alhamdulillah mata sang cucu sembuh. sebuah bintik putih yang tadinya diketahui sebagai penyebab sakit, hilang musnah.

hari ini, sekitar 17 tahun setelahnya, sang cucu akan mengantar sang nenek untuk menjalani sebuah operasi mata. katarak. mestinya sudah sejak lama. tapi sekarang baru kuasa.

dan cucu itu adalah aku. iya, aku.

tiba-tiba aku begitu ingin bertemu dr. heri. entah di mana kau sekarang, pak dokter..

Advertisements

pada suatu ketika

•December 11, 2008 • 1 Comment

Medio 2003. Dunia masih dicengkeram Kapitalisme. Tapi pemikiran Islam ideologis mulai merebak di negeri-negeri Muslim, meski pelan dan terkesan sporadis.

Kawasan Gedung J, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Seorang mahasiswa berperawakan kecil terlihat menyusuri koridor, agak tergesa. Keringat sedikit merembes di dahinya, membuat ujung-ujung rambutnya di sana, yang tidak tersisir rapi, membasah. Matanya seperti menyimpan kegelisahan, seakan hendak berusaha menggerakkan sesuatu. Kulit legamnya terbalut kemeja krem bermotif kotak-kotak kecil berpadu (dan tumben dimasukkan) dengan celana hitam yang tampaknya jarang terkena setrika, selaras dengan sepasang sepatu pantofelnya yang tanpa kilap semir. Di pundaknya menggantung berat sebuah tas hitam yang mulai terlihat kusam. Jika diperhatikan baik-baik, resleting tas tersebut akan terlihat rusaknya. Beberapa bagian yang seharusnya mengatup, tampak sedikit menganga. Lelaki itu berbelok kiri di Gedung J6 dan lenyap di balik pintu ruang paling ujung selatan: ruang 108.

(pre memori..)

SMUN 3 Malang. Seorang gadis berseragam pramuka berjalan santai di koridor sekolah dengan bibir bergerak-gerak tanpa ritme menghisap permen. Sesekali ia lemparkan pandangan ke sekeliling, mungkin mencari sesuatu yang bisa dijadikannya inspirasi atau sekedar memanjakan mata. Baju lengan pendek dan ujung rok hanya beberapa senti di bawah lutut. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah gelang anyaman benang yang sama sekali tidak tampak feminim. Rambutnya diikat dengan tali berwarna merah di bagian belakang, membentuk ekor kuda. Sementara di punggungnya tergendong ransel Westpack hitam yang tampak penuh dengan buku dan entah apa lagi. Gadis itu berjalan menuju tangga ke lantai 2, membaur dengan teman-temannya, dan hilang di sana.

(to be continued, somewhere else..)

di selopanggung

•November 20, 2008 • Leave a Comment

merenungi diri yang menjadi beda
kehilangan kualitas penghambaan
terpisah dari harum sajadah

kemana pula perut keroncongan
dan nafas tersengal
di atas sepeda?

di bawah naungan akasia, 15/11/08 10:07
(modified, 20/11/08 16:28)

jalan ini jalan kita

•October 11, 2008 • 5 Comments

“true love always leads to Heaven; not if it doesn’t”

kita di jalan ini, cinta
menujuNya
kadang kita jatuh
lalu menepi
menghentikan langkah

jalan ini jalan Surga, cinta
sunyi dari romantisme mentah
kadang kita terduduk lama
melepas lelah
mengusir dahaga

tapi aku ingin teguh menyusurinya, cinta
sambil menggandeng tanganmu
beriring langkah
setapak demi setapak

maka cubit pinggangku, cinta
bila mengajakmu berhenti lagi
apalagi berbelok arah.

saturday morning, 11/10/08

..di rumahmu..

•September 28, 2008 • Leave a Comment

Because I could not stop for Death,
He kindly stopped for me;
The carriage held but just ourselves
And Immortality.

seakan bukan dickinson yang mengucapkan, tapi kau. bergetar aku mendengarkan kalimat-kalimatmu, patah demi patah. tentang penderitaan jasadi dan ketentraman ruhani yang datang bersamaan. tentang bayangan-bayangan manusia yang sesekali datang seperti menunggui, dan menasehati. tentang dialog-dialogmu denganNya meski hanya tentang seteguk air. tentang rindumu menghadapNya, juga ikhlasmu. tentang mimpi-mimpi yang seperti dihadiahkan untuk menghiburmu. tentang doa dan dzikir-dzikir panjangmu. tentang kenangan-kenangan masa lalu..

Rabb,
aku tahu bahwa apapun keputusanMu, itu adalah yang terbaik. tetapi padaMu, aku berharap dia akan sembuh, dan kembali meneruskan perjuangannya mengibarkan benderaMu. salahkah itu, wahai asy-Syafi’?

plosokerep, 27 ramadhan 1429

kematian di tanah gersang

•September 24, 2008 • 1 Comment

desa di dalam hutan. masuk melewati jalanan berbatu yang diselimuti tebalnya debu september. pohon-pohon jati di kanan kiri kering kerontang, meranggas tanpa sehelai pun daun, seakan terpapar kemarau sejak puluhan tahun lalu. rumah-rumah sederhana berjejar, sebagian dengan tumpukan jerami kering di halaman masing-masing. hingga di sebuah sudut, sebuah rumah kecil menebar anyir aroma duka. dalamnya terlihat gelap, kekurangan cahaya. beberapa wajah yang tertunduk sembab pelan-pelan terangkat ketika aku masuk bersama dua orang pemuda. tikar-tikar tergelar di ruang tamu. dua piring berisi batang-batang rokok sisa semalam tergeletak di tepian, tampak dingin dan tidak menggairahkan. sepi. diam. terdengar beberapa patah kata. lalu kembali sepi, dan diam. aroma duka semakin menyergap. semakin anyir.

anak itu baru 15 tahun. menjelang berbuka tiga hari lalu, dia tinggalkan rumah, desa, dan orang-orang tercintanya dengan begitu tiba-tiba. untuk selamanya.

kami milikMu, kembali padaMu.

senja di watubonang, hanya bisa berdoa, 24 september 2008

kepada kuning-merah buah

•September 22, 2008 • Leave a Comment

..bahwa romantisme kadang seperti arus air. kita boleh membendungnya, tapi ia akan mencari sela-sela. jika tidak ada, ia akan menaiki dinding yang menghalanginya, dan tumpah dari sana. mari mengambil air wudlu, dan menentramkan semua gemuruh..