Menimbang Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Membangun Bangsa yang Berakhlak dan Beradab

•January 13, 2011 • 1 Comment

Akhir-akhir ini mulai terjadi kegamangan atas hasil proses pendidikan di Indonesia. Banyak yang menilai tujuan pendidikan nasional tidak tercapai. Gagal. Dan sebagai upaya memperbaiki keadaan, sejumlah pihak, termasuk Menteri Pendidikan, mewacanakan pentingnya pendidikan karakter. Tulisan ini bermaksud untuk memperjelas kegagalan proses pendidikan di indonesia, melacak akar masalahnya, dan menakar sejauh mana ide pendidikan karakter bisa diharapkan menjadi solusi.

Semestinyalah proses pendidikan dapat menjadikan keadaan seseorang lebih baik dari sebelumnya, serta dapat menjadikannya lebih baik daripada mereka yang tidak mengenyam proses tersebut. Akan tetapi, fakta menunjukkan bukan hal itu yang terjadi di Indonesia. Berbagai kasus kriminalitas malah melibatkan pelajar, sebagaimana fenomena geng motor di Bandung. Beberapa waktu silam, kita juga dikejutkan oleh beredarnya beberapa rekaman penganiayaan oleh geng pelajar, yang parahnya, semuanya berjenis kelamin perempuan. Ini ironi sebuah negeri yang katanya mewarisi keramah-tamahan leluhurnya.

Seks bebas juga menjadi penyakit kronis dunia pelajar. Kini, gaya pergaulan mereka seakan terjadi di dunia tanpa norma Tebaran video porno yang melibatkan anak-anak sekolah sangat menyesakkan dada orang-orang yang masih punya iman. Pelakunya bukan hanya remaja-remaja dari kota besar, tetapi juga di daerah-daerah pelosok. Alas Wono Sewu menjadi lokasi mesum dua anak dusun (yang perempuan berstatus pelajar MTs!) di daerah Kauman Tulungagung (Surya, 7/1/11). Dan bagi yang tertarik dengan angka statistika, dari survey ke survey, terungkaplah bahwa angka perzinahan bangku sekolah makin hari makin meroket. Terakhir, tahun 2010, berdasarkan surveynya, BKKBN menyebutkan prosentase seks pra-nikah di kalangan remaja. Jabodetabek 51%. Surabaya 54%. Bandung 47%. Dan 52% untuk Medan. Mengerikan.

Dan jangan lupa, fenomena para pejabat korup, dan aparat hukum yang justru terjerat hukum, yang jumlahnya tidak lagi bisa dihitung dengan jari, itu juga menjadi potret kegagalan proses pendidikan yang berlangsung betahun-tahun, yang memakan biaya yang tidak sedikit. Adalah kurang cermat jika dikatakan bahwa banyaknya kasus pemalsuan ijazah saat pemilu melahirkan pejabat-pejabat yang tidak amanah. Sebab, para koruptor, baik yang ilegal (seperti kasus Gayus Tambunan) maupun yang legal (seperti dalam kasus Bank Century dan penjualan saham KS) bukanlah orang-orang yang berijazah palsu. Mereka adalah orang-orang terdidik beneran.

Jadi, persoalan di negeri ini bukan hanya tidak meratanya pendidikan—seperti yang terjadi di Kampung Yongsu Desoyo Papua, dimana sejumlah 80 murid dari kelas 1 hingga kelas 6 hanya mempunyai 3 orang guru (kompas.com, 1/12/10) — melainkan juga buruknya wajah pendidikan itu sendiri. Rakyat butuh pendidikan untuk mengobati kebodohan, tetapi yang didapati justru proses yang mendegradasi derajat kemanusiaannya. Ini memprihatinkan. Kita tidak lagi bisa berharap banyak pada sekolah untuk membentuk anak-anak kita agar tumbuh menjadi orang-orang saleh berakhlaqul karimah karena kurikulum, baik yang tertulis maupun yang hidden (yaitu “kurikulum” berupa atmosfer lingkungan akademik yang melingkupi para peserta didik) justru membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang jauh dari Tuhannya.

Padahal, UUD 1945 (versi Amendemen), Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”

Maksud UUD 1945 tentang pendidikan tersebut dijabarkan dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003, pasal 3 yang menyebutkan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Bila dibandingkan dengan Undang-Undang Pendidikan sebelumnya, yaitu Undang-Undang No. 2/1989, secara garis besar isinya bisa dikatakan mirip-mirip saja meski akan kita dapati bahwa kata “demokratis” di UU No. 20 merupakan susupan baru. Pada pasal 4 UU No. 2/1989 ditulis, “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi-pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung-jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Jelas sekali bahwa UU Pendidikan mengamanatkan agar peserta didik di negeri ini dibentuk menjadi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, yang mestinya karakter-karakter seperti jujur, mandiri, berakhlaq mulia adalah derivatnya. Pertanyaannya, mengapa falsafah pendidikan yang “berbunyi mulia” ini tidak terlihat jejaknya di dalam kurikulum, metodologi pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran? Tidakkah aneh, jika tujuan utama pendidikannya adalah terciptanya manusia beriman dan bertakwa tetapi materi pembelajaran di sekolah tidak berisi hal-hal yang mempromosikan iman dan takwa, metodologi pembelajarannya mengabaikan prinsip-prinsip ketakwaan (semisal campur baur antar lawan jenis), dan kelulusan di sekolah ditentukan oleh capaian nilai passing grade tertentu pada mata pelajaran tertentu, tanpa melihat lagi apakah keimanan dan ketakwaan itu sudah wujud dalam diri si anak didik? Sekali lagi, mengapa?

Penyebab utamanya adalah karena ketidakjelasan konsep iman dan takwa itu sendiri di negeri ini. Selama ini, dua kata tersebut hanya berfungsi sebagai kata hias, yang maknanya dibiarkan kabur, bias, dan samar. Ketika ada lowongan jabatan tertentu, syarat pertama yang dipajang adalah “beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa”. Tapi apa alat ukurnya? Tidak ada. Maka tidak perlu diherankan, ketika seseorang sudah menjadi pejabat, meski hukum-hukum agama dia pinggirkan dan undang-undang berjiwa kapitalisme liberal dia adopsi, tidak ada yang mempersoalkan keimanan dan ketakwaannya. Ummat yang menyerukan tegaknya syariah diidentikkan dengan terorisme, malah banyak yang mengiyakan. Di sekolah, budaya berpacaran diberikan seluas-luasnya ruang, tetapi kajian-kajian bidang kerohanian Islam malah dicurigai; dan orang tua mulai khawatir jika anaknya rajin ke masjid, mengaji Islam untuk melepaskan dahaga spiritual-ideologisnya. Sementara itu, media massa dibiarkan merajalela dengan kampanye pergaulan bebasnya, seakan itu tidak ada kaitannya dengan terjauhkannya tujuan pendidikan, yaitu iman dan takwa. Memang ini aneh, tetapi itulah akibat sistemik dari kerancuan konsep iman dan takwa sebagai tujuan pendidikan nasional. Dan kerancuan ini semakin menjadi-jadi dengan disusupkannya sifat “demokratis” dalam UU Pendidikan yang baru (entah siapa yang memesan), seakan iman dan takwa itu seiring, sejalan, dan selaras dengan demokrasi.

Tentu semua persoalan rumit ini tidak akan selesai dengan apa yang dinamakan pendidikan karakter di sekolah, baik itu berupa mata pelajaran khusus budi pekerti maupun dengan cara memasukkan materinya ke dalam setiap mata pelajaran yang ada. Sebab, pendidikan karakter tidak menjawab persoalan utama di atas. Pendidikan karakter, sebagaimana makalah seorang profesor berjudul Urgensi Pendidikan Karakter yang dimuat di situs resmi kemendiknas, hanyalah mengusung nilai-nilai luhur universal (baca: tidak terkait dengan agama tertentu), yang entah siapa yang berhak menetapkan, ternyata jumlahnya ada 9 macam. Metode pengajaran yang diusulkannya adalah metode knowing the good (mengetahui yang baik), feeling the good (merasakan yang baik), dan acting the good (melakukan yang baik). Kesembilan karakter yang dianggap baik dan diwacanakan untuk ditanamkan ke dalam diri siswa tersebut adalah sebagai berikut: 1), karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya; 2), kemandirian dan tanggungjawab; 3), kejujuran/amanah, diplomatis; 4), hormat dan santun; 5), dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; 6), percaya diri dan pekerja keras; 7), kepemimpinan dan keadilan; 8), baik dan rendah hati, dan; 8), karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Jadi, ini adalah karakter-karakter yang dianggap baik berdasarkan pertimbangan akal manusia, tanpa ada “ruh” kesadaran hubungan dengan perintah/larangan Allah SWT. Maka ketika para siswa berkarakter jujur, misalnya, itu bukan berangkat dari keimanannya, melainkan hanya karena melihat ada manfaat tertentu dari karakter tersebut. Ini seperti rumah tanpa pondasi; pohon tanpa akar. Gaya pembelajaran seperti ini hanya akan mengulang kehambaran dan kegagalan penggalakan penataran P4 pada masa orde baru, yang bahkan dimulai sejak SD hingga jadi pegawai.

Belum lagi potensi timbulnya berbagai perdebatan tentang apa itu karakter baik? Apa standarnya? Kalau akal, akal siapa? Misal, karakter pertama –Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya. Iblis juga ciptaan Tuhan. Di dalam Islam, makhluk yang satu ini adalah musuh yang nyata, bukan untuk dicintai. Jadi apanya yang universal?

Apalagi, inspirasi pendidikan karakter ini ternyata datang dari asing. Mengutip artikel berjudul Urgensi Pendidikan Karakter di atas,

“Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis”.

Bagaimana mungkin belajar budi pekerti pada negara-negara kapitalis tersebut, apalagi sudah dikatakan bahwa dampak positifnya hanya dalam ranah prestasi akademik? Bukankah salah satu sebab kegagalan bangsa ini mendidik putra-putranya adalah karena tidak terkendalikannya serangan kebudayaan dari negara-negara itu? Bukankah yang kita dambakan jauh lebih besar dari prestasi di kelas –iman, takwa, akhlaqul karimah? Tetapi, memang seperti inilah masalah negara-negara tanpa kejelasan kelamin ideologi. Membebek, gagap, gamang, dan hanya meraba-raba dalam ketidakpastian.

Dalam negara ideologis, selain arahnya tergambar jelas, proses pendidikan sesungguhnya tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi berlangsung di semua tempat. Bersinergi.

Ketika Daulah Khilafah Islamiyah menetapkan bahwa tujuan pertama pendidikan adalah terbentuknya individu-individu yang bersyakhshiyyah Islamiyyah (berfikir dan bertindak berdasarkan Islam), gambaran tentang sosok bersyakhsiyah Islamiyah itu telah sejelas dan serinci syariat Islam. Maka kurikulum pendidikan, metodologi pembelajaran, dan evaluasinya akan berada dalam satu nafas dengan tujuan besar itu. Demikian juga dengan lingkungan di sekolah. Tidak akan ada cerita semisal guru agama yang capek-capek menjelaskan batasan aurat, tetapi pada saat yang sama guru ekonomi malah mengumbar aurat di depan siswa; atau kisah tentang ajaran kejujuran yang dibangun selama 3 tahun yang tiba-tiba runtuh saat guru dan siswa bekerjasama bahu membahu mencurangi UNAS. Lingkungan di luar sekolah juga berperan besar untuk mendukung tercapainya cita-cita pendidikan. Usaha guru di kelas untuk menjaga anak-anak didiknya agar menjadi anak-anak saleh tidak akan dimandulkan oleh gempuran budaya gaul bebas yang dihasung di TV, internet, dan mall-mall sebagaimana yang sekarang terjadi.

Dengan demikian, kegusaran akan proses pembelajaran yang menghasilkan potret anak didik yang sedemikian buramnya seperti sekarang ini, mestinya dijawab dengan mempertegas ideologi bangsa, yaitu dengan mengislamkan asas negara dan semua bangunan di atasnya. Mengharapkan tercetaknya pelajar-pelajar yang beriman, bertakwa, dan ber-akhlaqul karimah dari penerapan ideologi lain, atau bahkan melepaskannya dari ideologi apapun dengan mengatasnamakan nilai-nilai universal seperti pada wacana pendidikan karakter, adalah usaha melelahkan yang hanya akan berujung pada keputus-asaan, sebagaimana nasib penataran P4.

cahaya bintang gemintang

•June 8, 2010 • 3 Comments

zia..
beribu tasbih tahmid tahlil takbir
berlembar-lembar doa berusia belasan abad
kukirim ke langit
kutukarkan dengan bintang gemintang dari semua galaksi
lalu kurangkai menjadi bait-bait puisi
untuk kubasuhkan di sekujur tubuhmu
hingga meresap
larut bersama aliran kolostrum.
..kawakibi.

travel sakti, sebuah jumat sore, 4/6/10

genggam tangan

•June 16, 2009 • 2 Comments

sembah sujud
penyucian jiwaraga
luruh noda-noda
terbang sayap kilat
cahaya
cahaya
genggam tangan kita
erat
lebih erat
istriku..

saat pulas lelapmu, paruh nyawa 16/06/09 08:55

you this how?!

•May 12, 2009 • 7 Comments

kau melarang golput
nanti partai sekuler menang, ancammu
tapi kini kau malah bersekutu
dengan partai sekuler
mencalonkan presiden sekuler
kau ini bagaimana?!
you this how?!

kami golput!

•April 6, 2009 • 6 Comments

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

dengan bertawakkal kepada Allah SWT, maka dengan ini, saya (juga umi, si kecil, dan dhedhek) dan embah, menyatakan: GOLPUT!

atas nama keluarga besar cinde wilis 3/4
april, 09

setahun pertama

•February 12, 2009 • 3 Comments

hari ini, tepat setahun sudah aku di sini. di kota ini. sekian titik dan garis-garis semakin erat terhubung, dan membesar. kokoh. sesekali terdengar dada yang bergolak. ruh juang. suara kami mulai terdengar. meski hanya sesayup denting.

ada yang berkata kami bermimpi. ada yang menuduh kami separatis yang terlindungi. ada yang mengunci pintu untuk kami. ada pula caci maki. tapi gerak ini gerak pasti.

tahun ini dengan ijin Allah kami akan berlari lebih cepat. sebagai kafilah yang berlalu. amin.

lagi dan lagi

•December 30, 2008 • 1 Comment

lagi, gaza diserang israel. 300-an (smoga) syahid.

di mana tank, pesawat tempur, dan rudal-rudal kita?
lagi, ibarat barang antik
hiasan untuk pameran.

tentara-tentara kita?
lagi, entah terbelenggu di mana..

lagi, para penguasa hanya mengumbar kata,
nihil senjata.
kepengecutan yang maha sempurna!
aroma bangkai membahana!

dan kita, rakyat jelata
hanya bisa turun jalan
berteriak
dan membakar bendera.

khilafah,
bangun, bangun!

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.